Selasa, 22 April 2014

Tak Tergantikan





“Hei ngelamun aja! Pagi-pagi udah suntuk gitu mukanya.” Sapa Meris.
“Hmmmm.... iya lagi males Mer. Tumben kamu pagi banget datangnya?” jawab Renata pelan.
“Sengaja, soalnya aku belum ngerjakan PR Bahasa Indonesia. Pinjem punyamu dong Na.” kata Meris sambil memohon kepada Renata. “Kamu mikirin apa Na, kok lemes gitu?” tanya Meris.
“Nggak kenapa-kenapa. Nih PRnya Mer.”
“Mikirin si Abi ya Na? Udah tiga minggu Na, lupain ya. Jangan sakitin hati kamu sendiri. Mending kamu konsen sama sekolah, bentar lagi kan ujian.” Kata Meris mencoba menghibur temannya yang sedang patah hati.
Yah.... tiga minggu yang lalu, Abi pacar Renata mengatakan kalau dia sudah tak lagi mencintainya. Saat itu seakan langit runtuh menimpanya, sakit di hati Renata berdenyut-denyut perih. Hanya Meris yang datang menghibur dan meyakinkan Renata bahwa dia akan tetap bahagia tanpa Abi.
Renata begitu mencintai Abi, menyayanginya setulus yang dia mampu. Jarang ketemu karena lain sekolah tak pernah menjadi masalah, tapi ternyata sudah dua bulan terakhir Abi dekat dengan adik kelasnya. Akhir dari semua, Abi memutuskan hubungan mereka yang sudah dua tahun berjalan. Tak pernah terlintas di otak Renata akan kehilangannya, tapi kenyataannya adalah dia bukan milik Renata lagi!
Sepulang sekolah, Meris mengajak Renata makan siang di kafe milik tantenya. Sebenarnya Renata malas, tapi melihat wajah Meris yang terus memohon akhirnya diapun menurutinnya.
Sesampainya di kafe tante Meris, terlihat begitu banyak pelanggan. Tante Lenna cantik dan ramah, tentu saja para pelanggan begitu setia kepadanya. Kepada masakannya juga tentu saja.
“Hey cantik, mau makan apa nih?” tanya tante Lenna ramah kepada mereka.
“Mer minta batagor sama es jeruk aja deh tan. Kamu apa Na?” tanya Meris pada Renata.
“Hmmm... Sama aja ya tante kayak pesenannya Meris.” Kata Renata sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar ya.” Jawab tante Meris sambil tersenyum.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Bukan tante Lenna yang mengantar tapi orang lain.
“Hei centil, ini pesanan kamu. Ke sini jauh-jauh mesen batagor doang. Hahahaha.” kata seorang cowok tiba-tiba.
“Iih emang ada larangannya?” kata Meris tidak mau kalah dengan cowok tadi. “Nih kenalin temenku Mon, namanya Renata. Bisa dipanggil Rena atau Nata atau Nana juga boleh. Ya kan Na? Nih kenalin, anaknya tante Lenna. Namanya Reymon, tapi lebih terkenal dengan nama Emon. Hahaha.” Kata Meris tertawa.
“Hei Renata, aku Reymon. Asli Reymon, cuma si centil itu doang yang panggil aku Emon. Panggil aku Rey ya biar cakepan dikit. Hehehe.”
“Oh oke Rey. Panggil aku Nana aja.” Jawab Renata singkat.
Begitulah, ternyata maksud Meris membawa temannya ke kafe tantenya adalah untuk mengenalkannya pada Reymon. Renata yang sedang sedih karena putus cinta dan Reymon yang sedang mencari labuhan cintanya.
Hari demi hari berlalu tanpa gangguan. Reymon semakin dekat dengan Renata. Meris terus memberikan dukungannya kepada sepupunya untuk menaklukkan hati sahabatnya, walaupun Meris tahu bahwa hati Renata telah membeku terhadap laki-laki manapun. Tapi Meris tak rela melihat sahabatnya sedih. Salah satu cara untuk membuat Renata kembali ceria adalah dengan mendekatkannya kepada Reymon.
“Gimana Mon, ada perkembangan nggak?” tanya Meris kepada Reymon via telepon.
“Ah temen kamu tuh kayaknya emang udah nggak mau deket sama cowok Mer. Baik sih sama aku, tapi ya biasa banget deh. Aku ajakin ketemu juga nggak pernah mau. Mungkin bener kata kamu, dia terlalu cinta mantannya.” Jawab Reymon di seberang sana.
“Payah kamu. Ayolah tolongin Nana Mon. Kasihan dia terus-terusan sedih kayak gitu. Aku punya feeling kalau kamu yang terbaik buat Nana. Nana baik Mon, terlalu baik malah. Aku juga tahu kamu baik, setia juga. Klop kan? Karena itu aku mau nyomblangin kamu ke Nana.” Kata Meris kepada Reymon.
Tak ada yang tahu kalau saat itu Renata sedang berada di depan kamar Meris, mendengarkan semua percakapan sahabatnya itu tanpa sengaja.
“Meris!” panggil Nana. “Kamu tega sama aku. Aku nggak butuh belas kasihan kamu Mer. Aku nggak butuh cinta dari orang lain selain kamu sahabatku. Aku bisa...” belum selesai Renata berbicara, Meris sudah berlari memeluk Renata dan meminta maaf.
“Maaf Na maaf. Aku terlalu sayang sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu selalu diam di sekolah. Aku tahu kalau kamu selama ini hanya pura-pura bahagia. Aku ingin kamu kembali bisa mencintai seseorang seperti kamu mencintai Abi.” Setelah Meris mengatakan semuanya, Renata pergi meninggalkan sahabatnya.
“Halo halo Mer. Ada apa sih kok teriak-teriak?”tanya Reymon di telpon.
“Ntar aku telpon Mon.” Jawab Meris singkat.
Sejak saat itu persahabatan keduanya hancur. Renata selalu menghindar jika bertemu dengan Meris. Reymon ikut merasa bersalah melihat dua sahabat itu saling tidak bertegur sapa. Berkali-kali dihubunginya Renata tapi selalu tak ada jawaban. Di datangi ke rumahnya tak pernah mau keluar. Semua jadi begitu sulit untuk dihadapi. Tapi Reymon tidak putus asa. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini.
“Renata!” tiba-tiba Reymon sudah berada di sampingnya saat pulang sekolah. “Kita harus bicara Na, bertiga dengan Meris juga.” Tak ada jawaban dari Renata, dia hanya tersenyum dan berlalu.
“Renata! Maaf kalau aku memaksa, tapi kita benar-benar harus mengakhiri semuanya sekarang.” Kata Reymon sambil menahan tangan Renata.
“Iya Na. Kalau setelah kita bicara kamu tetap belum memaafkan aku, nggak apa-apa kok. Aku sudah senang bisa menjadi sahabatmu walau hanya sebentar. Kamu mau kan?” kata Meris berusaha merayu sahabatnya.
“Oke.” Hanya itu yang diucapkan oleh Renata. Senyum terlihat di bibir Meris dan Reymon.
Bertiga mereka dalam diam, menunggu seseorang memulai pembicaraan. Tampak mata Reymon dan Meris saling menatap gelisah. Waktu terus berlalu tapi tak satupun diantara mereka bicara. Renatalah yang kemudian memulai pembicaraan.
“Kita sudah di sini sekarang. Berhari-hari kalian mencariku. Lalu hanya ini yang ingin kalian jelaskan? Diamnya kalian nggak menjelaskan apapun.” Kata Renata yang nampak mulai bosan.
“Na, Meris akan menjelaskan semua kok ke kamu.” kata Reymon.
“Sebelumnya maaf Na. Aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Malah aku pengen lihat kamu senyum kayak dulu lagi Na.” Meris memulai penjelasannya. “Waktu kamu sedih gara-gara Abi, aku juga ikut sedih Na. Kamu berubah jadi pemurung. Saat itu Reymon juga sedang curhat sama aku kalau pengen banget punya pacar yang baik, manis dan setia. Dia udah bosen jomblo, bosen pacaran sama cewek yang berpura-pura baik atau yang menjadi orang lain cuma biar Reymon mau sama mereka. Aku langsung ingat kamu Na. Salah kalau aku pengen dua orang yang aku sayang mendapat sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia?” tanya Meris kepada Renata yang hampir menangis.
“Terus?” tanya Renata cuek.
“Na, kamu masih marah? Biar aku saja yang jadi pelampiasan kamu, jangan Meris. Aku yang ingin dikenalkan sama kamu. Aku peduli dengan cerita kamu dan aku ingin menjadi penghiburmu.” Kata Reymon mencoba meredam amarah Renata.
“Oke oke. Lalu apa yang kalian inginkan dari aku? Berteman lagi seperti kemarin?” pertanyaan Renata cukup mengagetkan kedua temannya. “Hellooo... kenapa diem sih?”
“Na, serius kamu? Na, kamu udah..”
“Iya. Hehehe... aku sudah lama maafin kalian kok. Cuma pengen ngetes sekuat apa kalian bertahan sama jutekku. Sekalian mau kasih pelajaran ke kalian yang udah berani-beraninya merencanakan sesuatu yang aku nggak tau. Maaf yaaa...” jawaban Renata benar-benar membuat Reymon dan Meris tercengang. Tak satupun yang sanggup berbicara menanggapi kata-kata Renata.
“Na!!! Wow. Surprise banget ya kamu. Ckckck...” hanya itu yang keluar dari bibir Meris dan pelukan erat tentu saja. “Aku kangen banget sama kamu. Maafin aku ya. Tapi kalau memang sudah lama kamu maafin aku dan Emon, itu karena apa Na?”
“Karena aku sayang kamu Mer. Aku juga seneng punya temen kayak Reymon. Memperhatikan kalian berdua sibuk ngerayu aku tuh heboh banget. Makanya aku sadar kalau nggak ada gunanya juga aku marah.” Jawab Renata sambil memeluk sahabatnya.
“Hahaha... oke deh. Stop mesra-mesraannya. Aku akui kamu hebat aktingnya Na.” Kata Reymon memecah suasana haru itu dengan candanya. “Dan sekarang giliranku dong yang ngomong.”
“Apa?” sahut Renata dan Meris bersamaan.
“Weits... kompak juga kalian. Sebenernya aku pengen suasana yang lebih romantis, tapi its oke lah. Ehmm... Na, aku tahu kamu sayang banget sama Abi. Bahkan hampir mustahil kamu bisa melupakannya. Tapi ijinkan aku untuk menggantikan Abi. Walaupun aku harus berubah seperti Abi, aku mau. Demi kamu. Mau jadi pacarku ya Na?”
“Hahaha... kamu mau jadi seperti Abi? Nggak akan bisa Rey. Dan aku juga nggak akan mau.” Jawab Renata.
“Tapi aku pengen kamu juga bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Abi.” Lanjut Reymon.
“Abi dan kamu berbeda. Abi dengan segala ketampanan dan keseriusannya. Dia memang sudah nyakitin aku, tapi dia tetap tidak akan tergantikan. Dia adalah Abi dan tetap akan menjadi Abi. Dia yang sudah ninggalin aku dan tetap akan seperti itu. Aku nggak mau kamu jadi seperti dia. Karena aku ingin kamu yang apa adanya. Aku lebih suka Reymon yang lucu seperti biasanya. Kamu mau jadi pacarku seperti Reymon yang bisa menghiburku setiap hari?” tanya Renata serius.
“Mau Na mau!! Mau banget!!” jawab Reymon cepat.
“Jangan berubah seperti Abi ya. Biar dia saja yang menjadi seperti itu. Kamu harus menjadi Reymon yang seperti hari ini, tidak tergantikan.”
“Pasti Na.”
Yah hari ini jadi hari yang istimewa buat Reymon dan Renata. Pasangan baru ini diramalkan oleh Meris akan berbahagia selamanya.
Dan malam minggu pertama di hari jadian mereka akan dirayakan hanya berdua saja, tanpa ada Meris si centil itu.
“Kita mau kemana Rey?” tanya Renata.
“Kok Rey? Ayank dong. Kan aku pacar kamu sayank...”
“Iiihh genit banget! Hahaha... Iya ayankku! Kita mau kemana?”
“Mau ke mall, nonton. Mau?” tanya Reymon.
“Mau!”
Senyum selalu menghiasi wajah sejoli ini. Sejak film di putar, tangan keduanya tak pernah lepas. Reymon terus menggenggam tangan Renata seakan-akan Renata akan direbut orang lain. Dan saat keluar dari bioskop, seseorang menyapa Renata.
“Rena. Kamu sama siapa?” tanya seorang cowok yang ternyata adalah Abi.
“Abi?? Oh ini sama Reymon. Kenalin ini Reymon, pacarku. Yank, ini Abi.” Jawab Renata.
“Hai.” Sahut Reymon.
“Pacar kamu? Nggak salah Ren? Mana mungkin kamu bisa melupakan aku begitu cepat Ren?”
“Sorry bro. Dia punyaku sekarang.” Jawab Reymon tegas.
“Maaf ya Bi. Aku bukan pengagummu lagi. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.” Jawab Renata sambil tersenyum.
“Rena! Rena tunggu Ren..”
Yah begitulah. Abi menyesal memutuskan Renata. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Renata bukan lagi miliknya. Semoga Abi sadar, bahwa hanya Renatalah yang tulus menyayanginya. Bukan si adik kelasnya itu.
Suatu saat Abi akan menjadi laki-laki yang lebih pintar. Cinta bukan sesuatu yang bisa dihitung baik-buruk dan untung-ruginya. Kalau hati sudah memutuskan, maka bertahan adalah satu-satunya pilihan. Sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Sebelum segala sesuatunya hilang dan menjadi milik yang lain. Menyesal adalah hal terakhir dalam hidup yang tak ingin terjadi.



Semoga memenuhi standar dan bisa mendapatkan golden tiket event reguler. Aamiin! Berharap sekaliiiiii >,<

Tidak ada komentar:

Posting Komentar