Aku menyapanya tante
Anne. Seorang ibu dengan satu anak perempuan. Tinggal tepat di sebelah rumah
nenekku, bersama ibu, anak dan adik laki-lakinya. Tanpa suami.
Tante Anne adalah
seorang ibu yang istimewa. Beliau memiliki raut wajah yang selalu tersenyum.
Ramah kepada siapapun yang ditemuinya. Tak segan untuk berkomentar tentang apa
saja yang terjangkau oleh pandangannya. Beliau menarik perhatianku sejak
pertama kali bertemu.
Demi bersekolah di SMA
favorit, aku memilih berpisah dengan orang tuaku dan tinggal bersama kakek dan
nenek. Sejak saat itulah aku menjadi tetangga tante Anne. Aku menemukan banyak
hal istimewa dalam diri beliau. Keistimewaan itu membuatku tak lelah untuk
mencari tahu apa makna sebenarnya dibalik senyuman yang tiada henti menghiasi
wajahnya.
Tante Anne cantik.
Tinggi semampai dan berkulit putih. Rambutnya ikal hitam sebahu. Alis matanya
lebat, matanya sayu seperti menahan kesedihan. Tulang pipinya menonjol.
Bibirnya padat namun pucat. Perpaduan itu kontras dengan senyuman yang selalu
beliau tampilkan. Akhirnya aku menyadari sesuatu, beliau menyimpan lara dibalik
senyumnya. Dari matanya aku sadari itu.
Aku mendengar semua
cerita masa lalu tante Anne dari nenekku. Siapa yang menduga bahwa seorang ibu
yang baik hati dan murah senyum seperti tante Anne ternyata memiliki masa lalu
yang menyakitkan. Pantas jika aku selalu menemukan mata yang seperti tanpa
kehidupan itu semakin hari semakin layu.
Sembilan belas tahun
yang lalu, saat usia tante Anne masih muda, beliau jatuh cinta. Belum lama
menjalin hubungan, tante Anne pergi bersama pemuda itu. Namun ada hal aneh yang
kemudian terjadi. Selama satu minggu tante Anne tidak pulang ke rumah. Semua
keluarga panik mencarinya.
Kepulangan mereka
berdua disambut amarah. Tanpa bisa menolak, keduanya dinikahkan secepatnya.
Pasangan kekasih itu tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan orang
tua tante Anne. Singkat cerita, keduanya melaksanakan pernikahan dan hidup
bahagia dengan dua orang anak. Namun di dunia ini tidak ada yang abadi, begitu
juga dengan kebahagiaan.
Donny adalah anak kedua
tante Anne, dia meninggal saat berumur tiga tahun. Tante Anne menyalahkan
dirinya sendiri, karena semua terjadi akibat kelalaiannya.
Kejadiannya pagi hari
saat tante Anne berlibur bersama suami dan kedua anaknya. Saat itu tante Anne
membawa Diana dan Donny ke pantai. Kejadiannya sangat cepat, Donny berlari-lari
menjauhi mamanya dan terseret ombak. Beruntung orang-orang dengan sigap
menolongnya. Donny selamat. Keesokan harinya badan Donny demam. Kata dokter
Donny baik-baik saja dan bisa beristirahat di rumah. Saat tidur siang berdua
dengan mamanya, lagi-lagi musibah terjadi. Donny jatuh dari tempat tidur tanpa
diketahui sang mama. Sejak saat itu, Donny tak lagi membuka matanya.
Tante Anne menyesal
berhari-hari. Kehidupannya berubah dipenuhi dengan penyesalan. Setahun sejak
kepergian Donny, penyesalan itu masih membayanginya. Lalu lagi-lagi musibah
terjadi. Suami tante Anne pergi meninggalkannya entah kemana. Pagi itu seperti biasanya,
suami tante Anne pamit untuk berangkat bekerja. Namun suami tante Anne belum
juga pulang sampai gelap menyelimuti bumi. Sehari, dua hari tante Anne
menunggu, suaminya tak pernah kembali.
Musibah yang datang
bertubi-tubi dalam hidup tante Anne telah mengubah segalanya. Dia tak lagi bisa
tersenyum seperti biasa. Lipstik dan bedak tak pernah lagi menyapu wajah
cantiknya. Bahkan Diana mulai tidak mengenali mamanya. Putri semata wayangnya
kini lebih senang digendong pamannya, dia lebih memilih disuapi neneknya. Diana
kecil tak lagi mau disentuh mamanya.
Dua luka yang mengoyak
hati tante Anne belum sembuh benar dan ada satu luka lagi yang menyayat
permukaan luka lamanya. Kenyataan bahwa Diana menjauhinya membuat tante Anne
terpuruk lebih dalam. Sekarang beliau lebih senang menyendiri di kamar.
Menangis dan terdiam dengan sendirinya. Beliau takut menantang dunia, takut
terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi di hidupnya.
Orang tua dan adik
laki-laki tante Anne juga menambah kesunyian jiwanya. Mereka seperti ikut menyalahkan
tante Anne. Maksud hati ingin mendidik Diana jauh lebih baik namun yang terjadi
malah menjauhkan buah hati dari mamanya. Tante Anne masih tinggal serumah
dengan Diana, namun secara naluri keibuannya beliau merasa Diana sangat jauh
dari dirinya.
Diana tumbuh menjadi
gadis yang cantik, seperti mamanya saat muda. Diana remaja sangat lincah. Tante
Anne bahagia melihat pertumbuhan putrinya, namun rasa bahagia itu tidak
berhasil mengembalikannya ke kondisi semula. Tante Anne sudah terlanjur jatuh
ke lubang kesedihan hingga tak lagi bisa keluar.
Tante Anne berubah dan
bersikap aneh. Sebuah senyuman sering muncul di wajahnya untuk siapa saja yang
dia temui. Sikapnya jauh lebih ramah dari biasanya. Orang-orang mulai
menganggapnya gila. Tapi tante Anne tidak gila, beliau hanya mencoba menjadi
sosok yang lain. Sosok yang mungkin lebih disukai putrinya. Menjadi pribadi
yang menyenangkan dan perhatian kepadanya. Namun perubahan yang beliau lakukan tak
sedikitpun mendapat persetujuan Diana.
Semakin hari hubungan
Diana dengan tante Anne semakin memburuk. Tante Anne menyadari itu tapi beliau
tidak mau kembali bersedih. Beliau menanggapi dinginnya sikap Diana sebagai
kewajaran.
Aku mulai dekat dengan
tante Diana sejak tinggal bersama nenek dan kakekku. Setelah aku tahu semua
cerita masa lalu tante Anne, aku tidak merasa takut ataupun malu bergaul dengan
beliau. Apalagi saat aku tahu bagaimana sikap Diana kepada mamanya.
Hari itu sepulang
sekolah aku bertemu tante Anne di depan rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah,
aku menghampiri beliau terlebih dahulu. “Baru pulang La?” sapa tante Anne.
“Iya. Tante ngapain di
sini?” tanyaku sambil mencium tangan beliau.
“Nggak ngapain-ngapain.
Bosen di dalem terus.” Saat itulah aku melihat Diana yang juga baru pulang kuliah
melakukan hal yang membuatku kecewa.
“Hai La, baru pulang
sekolah kamu?” sapa Diana.
“Iya kak.” Jawabku
santai.
“Capek Din?” tanya
tante Anne kepada Diana.
“Ya iyalah capek. Otak
kalau buat mikir ya capek.” Jawab Diana ketus. “La, aku masuk duluan ya.”
“Iya kak.” Aku masih
terkejut mendengar suara ketus Diana.
“Hehehe. Diana memang
gitu, kalau ngomong suka ceplas-ceplos.” Kata tante Diana seolah mengerti
keterkejutanku. “Kamu pulang sana, nanti dicariin nenek lho.”
“I.. iya.. iya tante.”
Aku masih kaget. “Lila pulang dulu ya.”
Dan entah bagaimana
caranya, sejak saat itu seakan-akan Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat
ketusnya bibir Diana jika sedang berbicara dengan mamanya.
Minggu pagi. Seperti
biasanya, tante Anne sedang jalan-jalan sekitar gang. Setelah itu beliau duduk
di depan rumah sambil menyapa siapa saja yang lewat. Aku pun menghampiri tante
Anne. “Pagi tante. Udahan jalan-jalannya?” sapaku.
“Iya, udah capek La.
Kamu abis lari pagi ya?”
“Iya. Jarang-jarang kan
bisa lari pagi. Mumpung hari Minggu.”
Kami berdua asyik
mengobrol. Sebenarnya aku lebih banyak mendengarkan beliau sih karena tante
Anne bercerita dengan riang. Kemudian datanglah Diana.
“Ma, kamu mau nitip
lontong nggak? Aku mau keluar disuruh nenek beli lontong buat sarapan nih.”
Lagi-lagi nada suara Diana sangat ketus.
“Iya mau. Tapi jangan
dicampur ya sambelnya Din. Suruh pisahin aja sambelnya.” Kata tante Anne.
“Ya udah Ma, nggak usah
pake sambel aja. Ribet deh.” Aku hanya tertunduk mendengarkan setiap kata yang
meluncur dari bibir Diana. “La, pergi dulu ya.” Kata Diana sambil tersenyum.
Diana selalu ramah
kepadaku dan semua orang. Tapi tabiatnya berubah buruk saat menghadapi mamanya.
Aku sebagai seorang anak yang hidup jauh dari orang tua tentu saja merasa
kecewa dengan sikap tersebut.
Kesedihan tante Anne
seolah tak pernah usai. Selain sikap Diana yang menyakitkan, sikap ibu dan
adiknya juga tak jauh berbeda. Aku kerap melihat wajah adik tante Anne mengeras
saat berbicara kepada beliau. Contohnya saja saat adik tante Anne meminta beliau
agar masuk ke dalam rumah karena adzan Maghrib mulai berkumandang.
“Hei, Anne! Masuk.
Nggak denger ya kalau udah Maghrib. Masih aja di luar.” Kata adik tante Anne.
Aku yang melihat
kejadian itu dari jauh sontak terkejut. Aku merasakan kesedihan yang mungkin
juga dirasakan tante Anne.
Malam Jumat biasanya di
kompleks rumah selalu mengadakan pengajian. Malam itu giliran rumah tante Anne
yang menjadi lokasi pengajian. Sebagai tetangga yang rumahnya bersebelahan, aku
dan nenekku datang lebih awal dengan niat ingin membantu. Satu persatu tetangga
mulai berdatangan. Tante Anne yang dari tadi duduk diam di kursi sebelah kamar
pindah ke depan dan ikut berbaur dengan ibu-ibu lainnya. Namun sebelum tante
Anne duduk di tikar, ibu beliau mencegahnya.
“Eh Anne kamu mau
kemana? Di dalam saja, nanti biar ibu yang keluar. Kamu di kamar saja.” Kata
ibu tante Anne yang biasa aku panggil Nek Sar.
“Ya ndak apa-apa tho
mbak Yu kalau Anne mau ikut ngaji, kan malah bagus.” Sahut nenekku.
“Duh ya jangan, biar
Anne di dalam saja.” Jawab Nek Sar.
Aku dan nenek
berpandang-pandangan. Seakan aku tak ingin percaya kepada mata dan telingaku
sendiri. Diam-diam dadaku sesak. Jika memang tidak ada yang mau berbuat baik
kepada tante Anne, biarlah aku yang melakukannya.
Semakin hari aku semakin
dekat dengan tante Anne. Syukurlah beliau terlihat baik-baik saja. Mungkin
hatinya sudah mati rasa mendapat perlakuan yang kurang baik dari keluarganya
sendiri. Sungguh mulia hati beliau. Jika memang segala musibah yang pernah
menghampiri hidupnya adalah benar karena
kesalahannya, aku berharap baik tante Anne maupun keluarganya mau
memaafkan dan merubah sikap.
Aku bertemu ibu dan
ayah hanya sebulan sekali. Saat aku mendapat kesempatan bertemu dengan ibu, aku
menceritakan semua tentang tante Anne. Syukurlah, ibuku memiliki pemikiran yang
sama denganku. Ibu memintaku untuk meluangkan waktu dan menemani tante Anne
sekedar berbincang-bincang.
Tiap pagi sebelum
berangkat ke sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa tante
Anne. Seperti pagi itu.
“Nek Sar, tante Anne
kemana kok tumben nggak di luar?” tanyaku.
“Ada apa La kok
pagi-pagi nyari Anne?”
“Nggak apa-apa nek,
cuma pengen nyapa aja kok.”
“Lila cari tante?”
tiba-tiba tante Anne sudah muncul di ambang pintu dengan senyumnya yang khas.
“Ada apa?”
“Nggak apa-apa tante.
Lila mau berangkat sekolah nih. Nanti ada ulangan Bahasa Indonesia, doain Lila
ya semoga bisa ngerjain soal-soalnya.” Kataku sambil mencium tangan tante Anne
dan nenek Sar. “Berangkat dulu ya tante. Assalamuallaiku.”
Lirih aku mendengar
tante Anne membalas salamku, “Wallaikumsalam Lila.” Aku tersenyum.
Tak apalah jika Diana
belum bisa menerima kembali mamanya dengan
sosoknya yang baru. Biarkan aku yang memberikan perhatian seorang anak
kepada beliau. Aku hanya ingin tante Anne merasakan betapa bahagianya saat
tangan beliau dicium oleh putrinya. Aku hanya ingin beliau merasakan keharuan
saat putrinya datang dan meminta restunya. Biarlah aku yang menunjukkan rasa
itu jika memang Diana belum mampu.
Aku senang bisa mengenal
tante Anne, dekat dengannya dan berbagi kebahagiaan berdua. Sampai tiba di satu
waktu saat Diana menikah dengan laki-laki pilihannya. Kebahagiaan datang dan
hinggap di hati tante Anne. Ibu mana yang tidak bahagia menyaksikan pernikahan
anaknya? Tante Anne sangat tidak sabar menanti hari bahagia itu tiba. Namun
lagi-lagi tante Anne harus bersabar.
Pernikahan itu
dilaksanakan di rumah penganti pria. Yang mengherankan, tante Anne dilarang
datang. Belakangan tante Anne tahu alasannya yaitu karena suaminya, yang sudah belasan
tahun lamanya menghilang, juga hadir di sana. Bersama istri barunya dan anak
gadis mereka. Nenek Sar dan Diana tidak mau terjadi sesuatu jika sampai tante
Anne bertatap muka dengan suaminya itu. Luruhlah hati tante Anne. Disaat semua
orang hadir dan bahagia dengan pernikahan Diana, tante Anne hanya berdiam diri
di rumah ditemani adik laki-lakinya.
Sepulang dari resepsi
pernikahan, aku menemui tante Anne. Betapa terkejutnya aku melihat beliau malah
sibuk mencuci baju. “Tante ngapain?”
“Nyuci La. Gimana
acaranya?” tanya beliau dengan wajah tersenyum.
“Rame.” Jawabku
singkat.
Hatiku hancur melihat tante
Anne. Seorang ibu yang harus menanggung semua kesedihan ini sendiri dan terus
berjuang untuk sebuah senyuman.
Hari ini adalah empat
puluh hari meninggalnya tante Anne. Untuk pertama kalinya aku mendengar dan
melihat bagaimana kesedihan menggantung di wajah Diana. Sambil mengayun-ayunkan
anaknya masih berusia dua bulan, Diana bercerita kepadaku.
“Semua orang berfikir
aku nggak sedih dengan kepergian mamaku La. Padahal di dalam lubuk hatiku yang
terdalam, aku hancur.” Diana menatapku. “Selama ini aku nggak pernah bersikap
baik kepada mama. Tapi jujur ya La, suamiku membuatku sadar, betapa berharganya
mama buatku. Suamiku berulang kali menegur sikapku ke mama. Aku beruntung bisa
menjadi istrinya. Aku sadar, selama ini aku memperparah kondisi mama. Mama
dengan segala luka dari masa lalunya, tapi aku malah menjauhinya. Aku jahat ya
La.” Mata Diana berkaca-kaca.
“Sudah kak, kan
akhir-akhir ini kakak mulai menyadari kesalahan itu. Tante Anne selalu
memamerkan daster-daster yang dibelikan kakak lho. Tante Anne juga cerita kalau
kakak sering kasih uang jajan dan jadi sering ngajak ngobrol. Aku yakin tante
Anne bahagia kak sekarang. Menjelang akhir hayatnya, beliau bisa akur dengan
putri kesayangannya.” Jawabku sambil menahan air mata.
“Makasih ya La, selama
ini kamu yang gantiin aku untuk nunjukkin bakti seorang anak kepada ibunya.
Makasih ya La.” Aku tahu, Diana tulus mengatakan itu.
Aku memanggilnya tante
Anne. Bagiku beliau adalah seorang ibu yang istimewa. Beliau adalah seorang ibu
yang luar biasa. Pengorbanannya untuk terus menyayangi putri satu-satunya itu
kini terbayar sudah. Buatku tante Anne sangat istimewa. Dibalik semua
kekurangannya, beliau mengajarkanku tentang sebuah kesabaran dan ketulusan.
Beliau memperlihatkan kepadaku bagaimana rasa sayang seorang ibu kepada anaknya
yang tanpa cacat.
Diana juga sudah
memberiku pelajaran berharga. Dengan melihat Diana, aku sadar bahwa orang tua
adalah harta yang tak ternilai harganya. Seburuk apapun orang tua kita, mereka
adalah orang-orang yang sudah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita.
Aku jadi kangen sama
ibu dan ayah di rumah. Sebagian besar waktuku sekarang habis tanpa menemani
mereka. Masih seminggu lagi aku bisa bertemu orang tuaku. semoga Allah selalu
melindungi ibu dan ayah. Semoga Allah memberikan tempat terindah buat tante
Anne.
Tante, damailah di
sana. Lihatlah putrimu, dia kehilanganmu. Dia kini sadar, betapa berartinya
dirimu untuknya.
Tante, tersenyumlah di
atas sana. Maafkan masalalumu.
Lamongan, 20 Desember 2013
Ayu Pinaringan Wilujeng
Ayu Pinaringan Wilujeng
NB. Naskah cerpen ini dua kali dikirim sebagai peserta lomba. Yang pertama kalah dalam lomba cerpen #EverlastingWomen. Yang kedua ikutan lomba lagi di penerbit lain setelah diedit di beberapa bagian. Penerbit ini mengaku sebagai Miz*n tapi HOAX. Naskah sudah terlanjur dikirim dan dua hari kemudian baru tahu. SEDIH!!! Sengaja di posting di blog ini biar kalau suatu hari nanti naskah itu terbit, pembaca tahu itu pencurian karya orang lain!
sumber: http://infolombanulis.blogspot.com/2014/03/lomba-menulis-cerpen-2014-penerbit.html
#emosi #sedih #sebel



Tidak ada komentar:
Posting Komentar