Sabtu, 05 April 2014

Wajah Yang Selalu Tersenyum




Aku menyapanya tante Anne. Seorang ibu dengan satu anak perempuan. Tinggal tepat di sebelah rumah nenekku, bersama ibu, anak dan adik laki-lakinya. Tanpa suami.
Tante Anne adalah seorang ibu yang istimewa. Beliau memiliki raut wajah yang selalu tersenyum. Ramah kepada siapapun yang ditemuinya. Tak segan untuk berkomentar tentang apa saja yang terjangkau oleh pandangannya. Beliau menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu.
Demi bersekolah di SMA favorit, aku memilih berpisah dengan orang tuaku dan tinggal bersama kakek dan nenek. Sejak saat itulah aku menjadi tetangga tante Anne. Aku menemukan banyak hal istimewa dalam diri beliau. Keistimewaan itu membuatku tak lelah untuk mencari tahu apa makna sebenarnya dibalik senyuman yang tiada henti menghiasi wajahnya.
Tante Anne cantik. Tinggi semampai dan berkulit putih. Rambutnya ikal hitam sebahu. Alis matanya lebat, matanya sayu seperti menahan kesedihan. Tulang pipinya menonjol. Bibirnya padat namun pucat. Perpaduan itu kontras dengan senyuman yang selalu beliau tampilkan. Akhirnya aku menyadari sesuatu, beliau menyimpan lara dibalik senyumnya. Dari matanya aku sadari itu.
Aku mendengar semua cerita masa lalu tante Anne dari nenekku. Siapa yang menduga bahwa seorang ibu yang baik hati dan murah senyum seperti tante Anne ternyata memiliki masa lalu yang menyakitkan. Pantas jika aku selalu menemukan mata yang seperti tanpa kehidupan itu semakin hari semakin layu.
Sembilan belas tahun yang lalu, saat usia tante Anne masih muda, beliau jatuh cinta. Belum lama menjalin hubungan, tante Anne pergi bersama pemuda itu. Namun ada hal aneh yang kemudian terjadi. Selama satu minggu tante Anne tidak pulang ke rumah. Semua keluarga panik mencarinya.
Kepulangan mereka berdua disambut amarah. Tanpa bisa menolak, keduanya dinikahkan secepatnya. Pasangan kekasih itu tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan orang tua tante Anne. Singkat cerita, keduanya melaksanakan pernikahan dan hidup bahagia dengan dua orang anak. Namun di dunia ini tidak ada yang abadi, begitu juga dengan kebahagiaan.
Donny adalah anak kedua tante Anne, dia meninggal saat berumur tiga tahun. Tante Anne menyalahkan dirinya sendiri, karena semua terjadi akibat kelalaiannya.
Kejadiannya pagi hari saat tante Anne berlibur bersama suami dan kedua anaknya. Saat itu tante Anne membawa Diana dan Donny ke pantai. Kejadiannya sangat cepat, Donny berlari-lari menjauhi mamanya dan terseret ombak. Beruntung orang-orang dengan sigap menolongnya. Donny selamat. Keesokan harinya badan Donny demam. Kata dokter Donny baik-baik saja dan bisa beristirahat di rumah. Saat tidur siang berdua dengan mamanya, lagi-lagi musibah terjadi. Donny jatuh dari tempat tidur tanpa diketahui sang mama. Sejak saat itu, Donny tak lagi membuka matanya.
Tante Anne menyesal berhari-hari. Kehidupannya berubah dipenuhi dengan penyesalan. Setahun sejak kepergian Donny, penyesalan itu masih membayanginya. Lalu lagi-lagi musibah terjadi. Suami tante Anne pergi meninggalkannya entah kemana. Pagi itu seperti biasanya, suami tante Anne pamit untuk berangkat bekerja. Namun suami tante Anne belum juga pulang sampai gelap menyelimuti bumi. Sehari, dua hari tante Anne menunggu, suaminya tak pernah kembali.
Musibah yang datang bertubi-tubi dalam hidup tante Anne telah mengubah segalanya. Dia tak lagi bisa tersenyum seperti biasa. Lipstik dan bedak tak pernah lagi menyapu wajah cantiknya. Bahkan Diana mulai tidak mengenali mamanya. Putri semata wayangnya kini lebih senang digendong pamannya, dia lebih memilih disuapi neneknya. Diana kecil tak lagi mau disentuh mamanya.
Dua luka yang mengoyak hati tante Anne belum sembuh benar dan ada satu luka lagi yang menyayat permukaan luka lamanya. Kenyataan bahwa Diana menjauhinya membuat tante Anne terpuruk lebih dalam. Sekarang beliau lebih senang menyendiri di kamar. Menangis dan terdiam dengan sendirinya. Beliau takut menantang dunia, takut terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi di hidupnya.
Orang tua dan adik laki-laki tante Anne juga menambah kesunyian jiwanya. Mereka seperti ikut menyalahkan tante Anne. Maksud hati ingin mendidik Diana jauh lebih baik namun yang terjadi malah menjauhkan buah hati dari mamanya. Tante Anne masih tinggal serumah dengan Diana, namun secara naluri keibuannya beliau merasa Diana sangat jauh dari dirinya.
Diana tumbuh menjadi gadis yang cantik, seperti mamanya saat muda. Diana remaja sangat lincah. Tante Anne bahagia melihat pertumbuhan putrinya, namun rasa bahagia itu tidak berhasil mengembalikannya ke kondisi semula. Tante Anne sudah terlanjur jatuh ke lubang kesedihan hingga tak lagi bisa keluar.
Tante Anne berubah dan bersikap aneh. Sebuah senyuman sering muncul di wajahnya untuk siapa saja yang dia temui. Sikapnya jauh lebih ramah dari biasanya. Orang-orang mulai menganggapnya gila. Tapi tante Anne tidak gila, beliau hanya mencoba menjadi sosok yang lain. Sosok yang mungkin lebih disukai putrinya. Menjadi pribadi yang menyenangkan dan perhatian kepadanya. Namun perubahan yang beliau lakukan tak sedikitpun mendapat persetujuan Diana.
Semakin hari hubungan Diana dengan tante Anne semakin memburuk. Tante Anne menyadari itu tapi beliau tidak mau kembali bersedih. Beliau menanggapi dinginnya sikap Diana sebagai kewajaran.
Aku mulai dekat dengan tante Diana sejak tinggal bersama nenek dan kakekku. Setelah aku tahu semua cerita masa lalu tante Anne, aku tidak merasa takut ataupun malu bergaul dengan beliau. Apalagi saat aku tahu bagaimana sikap Diana kepada mamanya.
Hari itu sepulang sekolah aku bertemu tante Anne di depan rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, aku menghampiri beliau terlebih dahulu. “Baru pulang La?” sapa tante Anne.
“Iya. Tante ngapain di sini?” tanyaku sambil mencium tangan beliau.
“Nggak ngapain-ngapain. Bosen di dalem terus.” Saat itulah aku melihat Diana yang juga baru pulang kuliah melakukan hal yang membuatku kecewa.
“Hai La, baru pulang sekolah kamu?” sapa Diana.
“Iya kak.” Jawabku santai.
“Capek Din?” tanya tante Anne kepada Diana.
“Ya iyalah capek. Otak kalau buat mikir ya capek.” Jawab Diana ketus. “La, aku masuk duluan ya.”
“Iya kak.” Aku masih terkejut mendengar suara ketus Diana.
“Hehehe. Diana memang gitu, kalau ngomong suka ceplas-ceplos.” Kata tante Diana seolah mengerti keterkejutanku. “Kamu pulang sana, nanti dicariin nenek lho.”
“I.. iya.. iya tante.” Aku masih kaget. “Lila pulang dulu ya.”
Dan entah bagaimana caranya, sejak saat itu seakan-akan Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat ketusnya bibir Diana jika sedang berbicara dengan mamanya.
Minggu pagi. Seperti biasanya, tante Anne sedang jalan-jalan sekitar gang. Setelah itu beliau duduk di depan rumah sambil menyapa siapa saja yang lewat. Aku pun menghampiri tante Anne. “Pagi tante. Udahan jalan-jalannya?” sapaku.
“Iya, udah capek La. Kamu abis lari pagi ya?”
“Iya. Jarang-jarang kan bisa lari pagi. Mumpung hari Minggu.”
Kami berdua asyik mengobrol. Sebenarnya aku lebih banyak mendengarkan beliau sih karena tante Anne bercerita dengan riang. Kemudian datanglah Diana.
“Ma, kamu mau nitip lontong nggak? Aku mau keluar disuruh nenek beli lontong buat sarapan nih.” Lagi-lagi nada suara Diana sangat ketus.
“Iya mau. Tapi jangan dicampur ya sambelnya Din. Suruh pisahin aja sambelnya.” Kata tante Anne.
“Ya udah Ma, nggak usah pake sambel aja. Ribet deh.” Aku hanya tertunduk mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir Diana. “La, pergi dulu ya.” Kata Diana sambil tersenyum.
Diana selalu ramah kepadaku dan semua orang. Tapi tabiatnya berubah buruk saat menghadapi mamanya. Aku sebagai seorang anak yang hidup jauh dari orang tua tentu saja merasa kecewa dengan sikap tersebut.
Kesedihan tante Anne seolah tak pernah usai. Selain sikap Diana yang menyakitkan, sikap ibu dan adiknya juga tak jauh berbeda. Aku kerap melihat wajah adik tante Anne mengeras saat berbicara kepada beliau. Contohnya saja saat adik tante Anne meminta beliau agar masuk ke dalam rumah karena adzan Maghrib mulai berkumandang.
“Hei, Anne! Masuk. Nggak denger ya kalau udah Maghrib. Masih aja di luar.” Kata adik tante Anne.
Aku yang melihat kejadian itu dari jauh sontak terkejut. Aku merasakan kesedihan yang mungkin juga dirasakan tante Anne.
Malam Jumat biasanya di kompleks rumah selalu mengadakan pengajian. Malam itu giliran rumah tante Anne yang menjadi lokasi pengajian. Sebagai tetangga yang rumahnya bersebelahan, aku dan nenekku datang lebih awal dengan niat ingin membantu. Satu persatu tetangga mulai berdatangan. Tante Anne yang dari tadi duduk diam di kursi sebelah kamar pindah ke depan dan ikut berbaur dengan ibu-ibu lainnya. Namun sebelum tante Anne duduk di tikar, ibu beliau mencegahnya.
“Eh Anne kamu mau kemana? Di dalam saja, nanti biar ibu yang keluar. Kamu di kamar saja.” Kata ibu tante Anne yang biasa aku panggil Nek Sar.
“Ya ndak apa-apa tho mbak Yu kalau Anne mau ikut ngaji, kan malah bagus.” Sahut nenekku.
“Duh ya jangan, biar Anne di dalam saja.” Jawab Nek Sar.
Aku dan nenek berpandang-pandangan. Seakan aku tak ingin percaya kepada mata dan telingaku sendiri. Diam-diam dadaku sesak. Jika memang tidak ada yang mau berbuat baik kepada tante Anne, biarlah aku yang melakukannya.
Semakin hari aku semakin dekat dengan tante Anne. Syukurlah beliau terlihat baik-baik saja. Mungkin hatinya sudah mati rasa mendapat perlakuan yang kurang baik dari keluarganya sendiri. Sungguh mulia hati beliau. Jika memang segala musibah yang pernah menghampiri hidupnya adalah benar karena  kesalahannya, aku berharap baik tante Anne maupun keluarganya mau memaafkan dan merubah sikap.
Aku bertemu ibu dan ayah hanya sebulan sekali. Saat aku mendapat kesempatan bertemu dengan ibu, aku menceritakan semua tentang tante Anne. Syukurlah, ibuku memiliki pemikiran yang sama denganku. Ibu memintaku untuk meluangkan waktu dan menemani tante Anne sekedar berbincang-bincang.
Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa tante Anne. Seperti pagi itu.
“Nek Sar, tante Anne kemana kok tumben nggak di luar?” tanyaku.
“Ada apa La kok pagi-pagi nyari Anne?”
“Nggak apa-apa nek, cuma pengen nyapa aja kok.”
“Lila cari tante?” tiba-tiba tante Anne sudah muncul di ambang pintu dengan senyumnya yang khas. “Ada apa?”
“Nggak apa-apa tante. Lila mau berangkat sekolah nih. Nanti ada ulangan Bahasa Indonesia, doain Lila ya semoga bisa ngerjain soal-soalnya.” Kataku sambil mencium tangan tante Anne dan nenek Sar. “Berangkat dulu ya tante. Assalamuallaiku.”
Lirih aku mendengar tante Anne membalas salamku, “Wallaikumsalam Lila.” Aku tersenyum.
Tak apalah jika Diana belum bisa menerima kembali mamanya dengan  sosoknya yang baru. Biarkan aku yang memberikan perhatian seorang anak kepada beliau. Aku hanya ingin tante Anne merasakan betapa bahagianya saat tangan beliau dicium oleh putrinya. Aku hanya ingin beliau merasakan keharuan saat putrinya datang dan meminta restunya. Biarlah aku yang menunjukkan rasa itu jika memang Diana belum mampu.
Aku senang bisa mengenal tante Anne, dekat dengannya dan berbagi kebahagiaan berdua. Sampai tiba di satu waktu saat Diana menikah dengan laki-laki pilihannya. Kebahagiaan datang dan hinggap di hati tante Anne. Ibu mana yang tidak bahagia menyaksikan pernikahan anaknya? Tante Anne sangat tidak sabar menanti hari bahagia itu tiba. Namun lagi-lagi tante Anne harus bersabar.
Pernikahan itu dilaksanakan di rumah penganti pria. Yang mengherankan, tante Anne dilarang datang. Belakangan tante Anne tahu alasannya yaitu karena suaminya, yang sudah belasan tahun lamanya menghilang, juga hadir di sana. Bersama istri barunya dan anak gadis mereka. Nenek Sar dan Diana tidak mau terjadi sesuatu jika sampai tante Anne bertatap muka dengan suaminya itu. Luruhlah hati tante Anne. Disaat semua orang hadir dan bahagia dengan pernikahan Diana, tante Anne hanya berdiam diri di rumah ditemani adik laki-lakinya.
Sepulang dari resepsi pernikahan, aku menemui tante Anne. Betapa terkejutnya aku melihat beliau malah sibuk mencuci baju. “Tante ngapain?”
“Nyuci La. Gimana acaranya?” tanya beliau dengan wajah tersenyum.
“Rame.” Jawabku singkat.
Hatiku hancur melihat tante Anne. Seorang ibu yang harus menanggung semua kesedihan ini sendiri dan terus berjuang untuk sebuah senyuman.
Hari ini adalah empat puluh hari meninggalnya tante Anne. Untuk pertama kalinya aku mendengar dan melihat bagaimana kesedihan menggantung di wajah Diana. Sambil mengayun-ayunkan anaknya masih berusia dua bulan, Diana bercerita kepadaku.
“Semua orang berfikir aku nggak sedih dengan kepergian mamaku La. Padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku hancur.” Diana menatapku. “Selama ini aku nggak pernah bersikap baik kepada mama. Tapi jujur ya La, suamiku membuatku sadar, betapa berharganya mama buatku. Suamiku berulang kali menegur sikapku ke mama. Aku beruntung bisa menjadi istrinya. Aku sadar, selama ini aku memperparah kondisi mama. Mama dengan segala luka dari masa lalunya, tapi aku malah menjauhinya. Aku jahat ya La.” Mata Diana berkaca-kaca.
“Sudah kak, kan akhir-akhir ini kakak mulai menyadari kesalahan itu. Tante Anne selalu memamerkan daster-daster yang dibelikan kakak lho. Tante Anne juga cerita kalau kakak sering kasih uang jajan dan jadi sering ngajak ngobrol. Aku yakin tante Anne bahagia kak sekarang. Menjelang akhir hayatnya, beliau bisa akur dengan putri kesayangannya.” Jawabku sambil menahan air mata.
“Makasih ya La, selama ini kamu yang gantiin aku untuk nunjukkin bakti seorang anak kepada ibunya. Makasih ya La.” Aku tahu, Diana tulus mengatakan itu.
Aku memanggilnya tante Anne. Bagiku beliau adalah seorang ibu yang istimewa. Beliau adalah seorang ibu yang luar biasa. Pengorbanannya untuk terus menyayangi putri satu-satunya itu kini terbayar sudah. Buatku tante Anne sangat istimewa. Dibalik semua kekurangannya, beliau mengajarkanku tentang sebuah kesabaran dan ketulusan. Beliau memperlihatkan kepadaku bagaimana rasa sayang seorang ibu kepada anaknya yang tanpa cacat.
Diana juga sudah memberiku pelajaran berharga. Dengan melihat Diana, aku sadar bahwa orang tua adalah harta yang tak ternilai harganya. Seburuk apapun orang tua kita, mereka adalah orang-orang yang sudah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita.
Aku jadi kangen sama ibu dan ayah di rumah. Sebagian besar waktuku sekarang habis tanpa menemani mereka. Masih seminggu lagi aku bisa bertemu orang tuaku. semoga Allah selalu melindungi ibu dan ayah. Semoga Allah memberikan tempat terindah buat tante Anne.
Tante, damailah di sana. Lihatlah putrimu, dia kehilanganmu. Dia kini sadar, betapa berartinya dirimu untuknya.
Tante, tersenyumlah di atas sana. Maafkan masalalumu.


 


 
Lamongan, 20 Desember 2013
Ayu Pinaringan Wilujeng



NB. Naskah cerpen ini dua kali dikirim sebagai peserta lomba. Yang pertama kalah dalam lomba cerpen #EverlastingWomen. Yang kedua ikutan lomba lagi di penerbit lain setelah diedit di beberapa bagian. Penerbit ini mengaku sebagai Miz*n tapi HOAX. Naskah sudah terlanjur dikirim dan dua hari kemudian baru tahu. SEDIH!!! Sengaja di posting di blog ini biar kalau suatu hari nanti naskah itu terbit, pembaca tahu itu pencurian karya orang lain!
 


sumber: http://infolombanulis.blogspot.com/2014/03/lomba-menulis-cerpen-2014-penerbit.html

#emosi #sedih #sebel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar