Saat
Harus Mengalah
Gadis itu membuka mata.
Salah satu tangannya diangkat di dekat pelipis, menghalau sinar lampu remang
yang tiba-tiba menyerang retinanya. Pasti ada yang dengan sengaja menyalakan
lampu kamar agar dia terbangun.
“Ratna, bangun nak.
Sudah kumpul semua lho, kamu cepetan mandi ya.” Terdengar suara ibu yang sedang
membangunkan Ratna, putri sulungnya.
Ratna hanya diam. Dia
tersadar, hari ini akhirnya datang. Hari yang dia tunggu-tunggu agar segera
berlalu. Pagi belum sempurna, dia yakin di luar sana masih agak gelap. Dengan
malas Ratna bergegas ke kamar mandi. Ibu memandangnya dari jauh, ada rasa haru
dan sesal menyeruak di dadanya.
“Ratna.” Panggil ibu.
Ratna hanya menoleh, tanpa menjawab panggilan ibunya. “Maaf kalau ibu belum
menjadi orang tua yang baik buat kamu.”
“Maaf juga kalau Ratna
belum bisa menjadi anak yang baik buat ibu.” Jawab Ratna sambil berlalu
meninggalkan kamar tidurnya dan ibu.
Ratna takjub melihat
rumahnya menjadi sangat ramai. Ini pertama kali dia melihat rumahnya jadi begitu
gaduh. Bahkan arisan RT yang pernah digelar di rumahnya saja kalah gaduh. Ratna
hanya menghela nafas dan segera berlalu. Beberapa tantenya yang juga hadir pagi
itu menyapanya. Tapi Ratna lebih memilih untuk diam dan berpura-pura tidak
mendengar.
“Hari ini akhirnya
datang juga. Aku harus kuat. Demi ibu. Huft! Lalu kapan aku boleh memikirkan
perasaanku sendiri?” Sambil bergumam, tanpa sadar setetes bening air matanya
jatuh. Ratna terduduk di dalam kamar mandi. Menekuk lutut dan menyimpan wajah
sengsaranya di sana. Tidak ada suara, hanya terlihat goncangan perlahan pada
kedua bahunya.
Hari ini adalah hari
pernikahan Resti, adik Ratna. Mereka dua bersaudara, terpaut usia hanya dua
tahun. Saat Resti mengatakan keinginannya untuk segera menikah, Ratna hanya menanggapinya
dengan candaan. Dia berfikir adiknya sedang bergurau dengannya. Ya, Ratna belum
tahu bahwa semua keluarga sudah merestui keinginan adiknya itu. Hanya Ratna,
kakak kandung Resti, satu-satunya orang yang belum tahu rencana tersebut.
Dulu Ratna pernah
mengatakan kepada adik dan ibunya saat mereka sedang sama-sama menonton acara
gosip, bahwa sebagai anak pertama dia yang harus menikah lebih dulu, bukan
Resti. Ratna juga menambahkan, jika Resti berani melangkahinya, Ratna akan
membencinya. Saat itu mereka bertiga sedang menonton Cathy Sharon yang
mengatakan bahwa dia pantang dilangkahi sang adik menikah.
“Jahatnya kamu mbak.
Lagian artis kok ditiru sih.” Kata Resti.
“Ya bukan mau menirukan
artis dek, tapi mbak memang nggak mau ih kamu langkahi gitu. Emang kamunya juga
tega?” tanya Ratna.
“Ya aku juga nggak
kepikiran mbak buat ngelangkahi nikah gitu. Pacar aja masih sama-sama sekolah.
Kalau mbak Ratna kan pacarnya udah kuliah, pasti mbak deh yang nikah duluan.”
“Eh udah, ini berdua
masih sama-sama sekolah kok udah ribut ngomongin nikah.” Sahut ibu sambil
tersenyum.
“Eh bu, nanti yang
duduk di pelaminan sama ibu siapa dong? Kan ayah udah nggak ada sama kita.”
tanya Resti tiba-tiba.
“Heh, kalau kasih
pertanyaan jangan yang bikin sedih dong.” Sela Ratna.
“Hehehe. Kalian ini ya,
berantem terus kalau lagi kumpul. Pokoknya kalian berdua lulus dulu, kuliah
dulu, kerja. Nanti kalau udah saatnya menikah pasti dilancarkan. Masalah siapa
yang duduk sama ibu nanti ya gampang, kan ada om kamu.” Jawab ibu sambil memegang
lengan kedua putrinya.
Ratna tergugu mengingat
kenangan itu. Bertahun-tahun yang lalu tanpa sengaja mereka bertiga
membicarakan hal yang sekarang akhirnya terjadi. Jika perasaan Ratna sehancur
ini, lalu bagaimana perasaan adiknya sekarang? Akankah ada kesedihan juga
karena sudah melukai kakaknya?
Lalu ibu, Ratna juga
merasa kecewa dengan ibunya. Bagaimana mungkin ketika semua keluarga besarnya
sudah mendengar kabar ini tapi dia adalah satu-satunya orang yang tidak tahu
apa-apa. Harusnya ibu bisa lebih bijak. Sebelum semua orang mengetahui,
harusnya Ratna yang diberitahu lebih dulu. Ingin rasanya Ratna mengungkapkan
kekecewaannya, tapi apa dia tega menyakiti ibunya? Padahal kalau saja Resti dan
ibu memberitahunya lebih awal, dia akan lebih siap menerima semuanya.
Sejahat-jahatnya dia sebagai manusia, Ratna tidak akan membuat adiknya
bersedih.
Ratna mengangkat
kepala, berusaha tegar dan menghilangkan semua bekas air matanya. Hari ini hari
besar untuk keluarga kecilnya. Bagaimanapun remuknya perasaan dia sekarang, ini
tetap hari bahagia. Menikah adalah ibadah, dia tidak mungkin mencegah adiknya
untuk beribadah. Lalu bagaimana dengan ibu? Beliau pasti sedih melihat dua
putrinya yang dulu akur sekarang merenggang. Dia harus ikhlas.
Perlahan Ratna menyiram
tubuhnya dengan air dingin, berharap semua kebencian dan kekecewaannya membeku
lalu hilang. Berharap dia bisa duduk tegak dan memasang senyum bahagia di depan
keluarga dan tamu undangan lainnya.
“Ratna. Masih lama?”
teriak seseorang dari luar kamar mandi.
“Sebentar.”
“Cepet sedikit ya,
giliran kamu dirias Na.”
“Iya budhe.”
Tapi walaupun teriakan
dari luar memintanya bergegas, Ratna malah terdiam. Ada banyak pertanya di
kepalanya. Ada banyak kekesalah di hatinya. Rupanya ikhlas tidak semudah yang
diucapkan. Tapi Ratna sadar, dia tidak bisa apa-apa sekarang. Hanya ada dua
pilihan, membuat ibu dan adiknya bahagia walaupun dia terluka atau menjauhi
keramaian ini sesuai dengan keinginannya dan membuat ibu juga adiknya bersedih.
Dan Ratna tidak bisa melihat orang tercintanya menangis.
Selesai mandi Ratna
menghampiri budhenya. Sekilas Ratna melihat sang adik sedang dirias. Cantik. Ya
semua orang setuju kalau Resti cantik. Bahkan lebih cantik dari dirinya.
“Budhe.” Panggil Ratna.
“Eh lama banget. Ayo ke
sana, yang mau rias kamu udah nungguin Na.” Kata budhe sambil menariknya menuju
seorang perias. “Kamu mandi kok lama banget. Nggak tahu ya sudah mepet gini
jamnya.”
“Iya.” Jawab Ratna
sendu.
“Kamu jangan gitu
mukanya. Adiknya nikah kok cemberut saja. Yang seneng gitu lho Na.” Lanjut
budhe.
“Iya.”
“Ih kamu ini diajak
ngomong kok iya iya saja. Yang riang gitu lho Na, kayak Resti. Jadi cepet
ketemu jodohnya.”
“Budhe!” Tanpa sadar
Ratna bicara terlalu keras. Beberapa orang menoleh untuk melihatnya.
“Ngomongnya sudah? Budhe nggak tahu apa-apa. Budhe bisa tidak sedikit saja
mengerti posisiku sekarang?”
“Ratna, ada apa?” Ibu
datang setelah mendengar suara keras Ratna.
“Tanya sama budhe.”
Lalu Ratna berlalu, menuju si perias yang sedang tertegun memandang Ratna juga
budhe.
“Mau rias sekarang apa
besok mbak?” tanya Ratna ketus.
“Oh.. Iya.”
Tanpa sepengetahuan
Ratna, Resti sudah berada di ambang pintu kamar. Menyaksikan juga mendengarkan
sang kakak mengumbar kekesalannya. Ada sedikit titik basah di pipinya. Resti
tahu, dia tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan kakaknya hari ini. Tapi
Resti berani menjamin, di hatinya juga tumbuh perasaan sedih karena sudah
membuat saudara kandungnya menangis.
Resti tidak pernah
bermimpi akan mendahului kakaknya menikah. Semua yang terjadi hari ini adalah
takdir yang harus dia jalani. Ada rasa bersalah yang mungkin akan selamanya
bersemayam di hatinya. Dia menyesal kenapa tidak mencoba meminta ijin terlebih
dahulu kepada kakaknya sebelum mengatakannya kepada keluarga yang lain. Dia
menyesal kenapa semua jadi seperti ini.
Ada rasa takut saat
Resti ingin menyampaikan lamaran Adi, calon suami Resti, kepada sang kakak.
Resti takut kakaknya akan marah dan melarangnya menikah. Karena itulah Resti
memilih untuk mencari dukungan dulu kepada ibu dan keluarga besar lainnya. Tapi
keputusannya malah membuat fatal segalanya.
“Resti, kamu nangis
nak?” tanya ibu sudah sudah berada di
sampingnya.
“Aku nggak enak bu sama
mbak Ratna. Aku jahat ya bu?”
“Sudah. Mbakmu tahu
harus bagaimana. Kamu jangan merusak hari besarmu ya nak.” Kata ibu berusaha
menenangkan.
“Tapi bu...”
“Res, semuanya sudah
terjadi. Ya sudah. Sekarang ayo kita lanjutkan apa sudah dimulai. Mbakmu tahu
bagaimana cara menyembuhkan hatinya. Dia sudah tahu kamu menyesal. Dia hanya
butuh waktu sekarang ini.”
“Semua tidak akan sama
lagi seperti dulu bu.” Kata Resti. Sekarang muncul semakin banyak titik basah
di pipinya.
“Tapi bukan berarti
segalanya akan semakin buruk.”
Pukul delapan tepat
sang mempelai pria dan keluarga sudah sampai di rumah Resti. Semua orang
bergegas menyambut tamu di depan pintu. Oh ya, di depan rumah juga sudah
berdiri megah pelaminan untuk mempelai. Ratna tetap diam di tempat. Hatinya
ingin pergi ikut menyambut, biar adiknya senang. Namun apa daya, kakinya
seperti terpaku di lantai rumah. Bergerakpun sulit.
“Ibu tidak memaksamu
nak, kalau kamu lebih nyaman di sini ya sudah.” Kata ibu tiba-tiba.
“Lho, kok ibu di sini?
Harusnya ibu di depan, menyambut calon mantu dan keluarganya.” Jawab Ratna.
“Iya, ibu baru mau ke
depan.” Jawab ibu. “Ratna, kamu juga putri ibu. Maaf ya nak kalau ibu sempat
membuatmu kecewa. Maafin adik kamu juga sudah membuatmu menangis.”
“Sudahlah bu, jangan
lagi dibahas. Aku...”
“Ibu sayang kalian
berdua. Ibu cuma punya kalian berdua. Ibu mau dua-duanya bahagia. Ibu tidak
bermaksud memihak yang mana nak.”
“Bu....”
“Ratna pasti bisa
mengerti kan? Ratna jangan benci ibu sama adik ya nak.” Pinta ibu.
“Bu, Ratna nggak akan
pernah membenci keluarga sendiri. Ratna juga minta maaf ya sudah membuat
semuanya jadi sesulit ini. Ratna ingin ikut bahagia seperti orang-orang ini bu,
tapi cuma ini yang bisa Ratna kasih.” Mata indah Ratna mulai berkaca-kaca. “Ibu
jangan minta maaf. Aku nggak mau jadi anak durhaka. Sudah ya bu, nanti riasan
kita luntur. Hehehe.” Ratna tertawa dalam tangisnya.
Ibu dan anak itupun
saling memeluk. Berusaha mendamaikan hati satu sama lain. Berusaha merasakan
kesedihan satu sama lain.
“Bu, percaya sama
Ratna, bukan sikap yang begini yang Ratna mau. Tapi rasa kecewa yang kemarin
belum sepenuhnya sembuh.”
“Ibu tahu nak. Resti
juga tahu. Kamu hanya butuh waktu untuk sendiri. Semua akan berlalu nanti,
walau mungkin tidak akan sama seperti dulu tapi ibu yakin besok akan lebih baik
dari hari ini.”
“Ibu ke depan ya. Nggak
enak kalau tamunya dicuekin.” Kata Ratna.
“Iya.” Dan ibu berlalu
meninggalkan Ratna.
“Ini mbak.” Perias yang
tadi merias wajah Ratna menyodorkan sekotak tisu. “Aku bisa ngerti rasanya jadi
mbak. Aku dulu juga begitu. Rasanya ada di dua pilihan, antara bahagia dan
kecewa. Bahagia karena akhirnya adikku menemukan jodohnya, kecewa karena bukan
jalan cerita yang begini yang aku mau. Tapi ya sudahlah, aku yakin kalau Allah
itu tidak akan memberikan cobaan yang beratnya melebihi kemampuanku. Jadi ya
aku berpasrah saja. Lebih gampang ngomong sih daripada menjalaninya. Ada
saatnya aku benar-benar harus mengalah untuk adikku.”
Ratna terdiam. Tidak
disangka olehnya kata-kata dari orang asing bisa begitu menggugah hatinya. Dia
tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan si periasnya barusan. Ah andai saja
prakteknya bisa semudah saat mengucapkan teorinya.
Sebentar lagi prosesi
ijab akan dilaksanakan. Semua orang sedang sibuk mengeluarkan suguhan. Ratna
tahu, Resti masih diam di kamarnya. Ingin sekali dia datang kepada adiknya,
memberi dukungan dan memeluknya. Tapi lagi-lagi kakinya seperti dipaku di
lantai, menggesernya saja sulit. Biar sajalah, Resti juga pasti tahu apa sebenarnya
yang aku rasakan.
“Mbak.” Tiba-tiba Resti
sudah berada tepat di belakang Ratna. “Mbak, boleh aku ngomong sebentar aja?”
Tanpa menoleh, Ratna
menjawab. “Ngomong aja Res.”
“Maafin aku ya mbak.
Aku juga mau bilang makasih sama mbak, soalnya sampai saat ini mbak masih mau
nemenin aku.” Suara Resti terdengar parau. “Aku pengen nanti mbak ada di depan,
sama aku dan ibu. Tapi kalau mbak nggak bisa juga nggak apa-apa, aku ngerti.”
“Aku ngerti mau kamu
Res. Maafin mbak kalau belum bisa mengabulkan semua keinginan kamu. Mbak yakin
kamu pasti ngerti alasannya. Selamat ya, harimu datang juga. Doakan mbak dan
mas Kiki, semoga segera menyusulmu dan Adi.” Kata Ratna, masih tidak mau
menoleh memandang Resti.
“Amin. Pasti mbak,
pasti.” Resti terdiam sebentar. “Mbak, aku pengen meluk mbak Ratna. Boleh?”
Ratna diam. Air matanya
sudah berjatuhan, membasahi jarik yang dipakainya. Dia juga ingin sekali
memeluk saudaranya itu. Akhirnya Ratna hanya menganggukkan kepala, tanda
setuju.
Resti lega melihat
kakaknya mengangguk. Dari belakang Resti memeluk erat kakaknya. Menumpahkan
sedikit air mata di bahu sang kakak. Ratna sendiri sedang sibuk menahan isak.
Dipejamkan matanya menahan tangis yang semakin mendesak. Dia sangat mencintai
adiknya. Dia ingin adiknya bahagia. Namun lagi-lagi, retak di hatinya masih
terasa sakitnya. Biarlah seperti ini, sesuai dengan porsinya. Asalkan semua
sama-sama tahu perasaan terdalam satu sama lain.
“Terimakasih mbak.”
Ratna hanya mengangguk.
Ijab qobul dimulai,
Ratna tetap memilih diam di tempatnya semula. Dia yakin, Resti dan ibunya paham
dengan pilihannya. Biarlah semua orang berbisik-bisik mempertanyakan
keputusannya, asalkan ibu dan adiknya sudah mau mengerti dia.
Semua lancar. Hari ini
Resti resmi menjadi seorang istri. Ada rasa lega di hati Ratna, namun juga ada
sedikit sekali rasa sesal. Rupanya ilmu ikhlas Ratna masih belum sempurna.
Setidaknya dia sudah jujur kepada dirinya sendiri dan orang lain.
Ratna tahu sekarang
saatnya dia keluar dan melihat adiknya.
Ratna yakin dia bisa menyingkirkan kesedihannya sementara. Demi adik dan
ibunya.
“Ratna.” Panggil
ibunya. “Di sini nak.”
Ratna datang dan
memeluk sang ibu. Tanpa satu katapun yang terucap, tapi keduanya sudah tahu
harus bagaimana. Ratna melepas pelukannya. Dihampiri sang adik lalu dipeluknya
begitu saja. Semua air mata yang dia simpan akhirnya keluar dengan derasnya.
Lega rasanya bisa bersikap lembut kepada sang adik. Tidak jauh berbeda dengan
Ratna, Resti menangis sesenggukan.
“Sudah ih, nanti bedak
kita luntur lho.” Kata Ratna coba bergurau.
Resti hanya tertawa,
mulutnya belum mampu berkata-kata. Dia masih sibuk menangis. Air mata yang
jatuh hari ini adalah air mata kelegaan juga bahagia. Masih ada rasa sesal di
hatinya, tapi dia percaya bahwa saat ini sudah sedikit lebih baik dari tadi
pagi.
Semua tamu berbahagia.
Tuan rumah juga sangat berbahagia. Ratna merasa semua sudah cukup, kini saatnya
dia kembali ke tempatnya di awal tadi. Perlahan Ratna menarik dirinya dari
keramaian. Dia tahu sikapnya ini tidak bisa dibenarkan, tapi semua orang juga
harus tahu, dia butuh ruang untuk sendiri.
Resti dan Adi sekarang
sudah duduk di pelaminan megahnya. Akhirnya ibu duduk ditemani om Hanan. Ratna
diam-diam memperhatikan dari jendela kamarnya. Dia tersenyum.
“Harusnya aku ke sana.
Foto-foto dan bersenang-senang.” Gumam Ratna.
“Ayo aku temani.”
Seseorang secara tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya.
“Kiki! Kamu datang?”
teriak Ratna karena kaget.
“Pasti dong. Aku udah
setengah jam nyariin kamu, malah di sini. Ayo ke depan, kita foto rame-rame.”
Ajak Kiki, pacar Ratna.
Ratna tersenyum
mendengar ajakan sang pacar. Dengan santainya dia julurkan tangan kanannya
kepada Kiki, berharap digandeng.
“Dasar manja.” Goda
Kiki. Ratna diam saja. “Kamu cantik.”
“Pastinya. Hehehe.”
Syukurlah Ratna bisa tertawa lepas. “Makasih udah datang.”
Dan keduanya berjalan
ke depan diikuti pandangan semua orang. Ekspresi wajah Ratna tidak lagi kaku
seperti tadi pagi. Wajah gembira itu terpancar jelas di wajahnya. Ratna tahu,
dia sudah melakukan tindakan yang benar kali ini.
Ditulis untuk memenuhi tantangan dari @KampusFiksi tentang #KalimatPertama. Diambil dari kalimat pertama pada novel berjudul 'Beautiful Nightmares' oleh Farahnanda. Selamat membaca. :)
*Semoga tidak ada 'typo'.*
*Semoga tidak ada 'typo'.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar