Sabtu, 17 Mei 2014

#KalimatPertama



Saat Harus Mengalah

Gadis itu membuka mata. Salah satu tangannya diangkat di dekat pelipis, menghalau sinar lampu remang yang tiba-tiba menyerang retinanya. Pasti ada yang dengan sengaja menyalakan lampu kamar agar dia terbangun.
“Ratna, bangun nak. Sudah kumpul semua lho, kamu cepetan mandi ya.” Terdengar suara ibu yang sedang membangunkan Ratna, putri sulungnya.
Ratna hanya diam. Dia tersadar, hari ini akhirnya datang. Hari yang dia tunggu-tunggu agar segera berlalu. Pagi belum sempurna, dia yakin di luar sana masih agak gelap. Dengan malas Ratna bergegas ke kamar mandi. Ibu memandangnya dari jauh, ada rasa haru dan sesal menyeruak di dadanya.
“Ratna.” Panggil ibu. Ratna hanya menoleh, tanpa menjawab panggilan ibunya. “Maaf kalau ibu belum menjadi orang tua yang baik buat kamu.”
“Maaf juga kalau Ratna belum bisa menjadi anak yang baik buat ibu.” Jawab Ratna sambil berlalu meninggalkan kamar tidurnya dan ibu.
Ratna takjub melihat rumahnya menjadi sangat ramai. Ini pertama kali dia melihat rumahnya jadi begitu gaduh. Bahkan arisan RT yang pernah digelar di rumahnya saja kalah gaduh. Ratna hanya menghela nafas dan segera berlalu. Beberapa tantenya yang juga hadir pagi itu menyapanya. Tapi Ratna lebih memilih untuk diam dan berpura-pura tidak mendengar.
“Hari ini akhirnya datang juga. Aku harus kuat. Demi ibu. Huft! Lalu kapan aku boleh memikirkan perasaanku sendiri?” Sambil bergumam, tanpa sadar setetes bening air matanya jatuh. Ratna terduduk di dalam kamar mandi. Menekuk lutut dan menyimpan wajah sengsaranya di sana. Tidak ada suara, hanya terlihat goncangan perlahan pada kedua bahunya.
Hari ini adalah hari pernikahan Resti, adik Ratna. Mereka dua bersaudara, terpaut usia hanya dua tahun. Saat Resti mengatakan keinginannya untuk segera menikah, Ratna hanya menanggapinya dengan candaan. Dia berfikir adiknya sedang bergurau dengannya. Ya, Ratna belum tahu bahwa semua keluarga sudah merestui keinginan adiknya itu. Hanya Ratna, kakak kandung Resti, satu-satunya orang yang belum tahu rencana tersebut.
Dulu Ratna pernah mengatakan kepada adik dan ibunya saat mereka sedang sama-sama menonton acara gosip, bahwa sebagai anak pertama dia yang harus menikah lebih dulu, bukan Resti. Ratna juga menambahkan, jika Resti berani melangkahinya, Ratna akan membencinya. Saat itu mereka bertiga sedang menonton Cathy Sharon yang mengatakan bahwa dia pantang dilangkahi sang adik menikah.
“Jahatnya kamu mbak. Lagian artis kok ditiru sih.” Kata Resti.
“Ya bukan mau menirukan artis dek, tapi mbak memang nggak mau ih kamu langkahi gitu. Emang kamunya juga tega?” tanya Ratna.
“Ya aku juga nggak kepikiran mbak buat ngelangkahi nikah gitu. Pacar aja masih sama-sama sekolah. Kalau mbak Ratna kan pacarnya udah kuliah, pasti mbak deh yang nikah duluan.”
“Eh udah, ini berdua masih sama-sama sekolah kok udah ribut ngomongin nikah.” Sahut ibu sambil tersenyum.
“Eh bu, nanti yang duduk di pelaminan sama ibu siapa dong? Kan ayah udah nggak ada sama kita.” tanya Resti tiba-tiba.
“Heh, kalau kasih pertanyaan jangan yang bikin sedih dong.” Sela Ratna.
“Hehehe. Kalian ini ya, berantem terus kalau lagi kumpul. Pokoknya kalian berdua lulus dulu, kuliah dulu, kerja. Nanti kalau udah saatnya menikah pasti dilancarkan. Masalah siapa yang duduk sama ibu nanti ya gampang, kan ada om kamu.” Jawab ibu sambil memegang lengan kedua putrinya.
Ratna tergugu mengingat kenangan itu. Bertahun-tahun yang lalu tanpa sengaja mereka bertiga membicarakan hal yang sekarang akhirnya terjadi. Jika perasaan Ratna sehancur ini, lalu bagaimana perasaan adiknya sekarang? Akankah ada kesedihan juga karena sudah melukai kakaknya?
Lalu ibu, Ratna juga merasa kecewa dengan ibunya. Bagaimana mungkin ketika semua keluarga besarnya sudah mendengar kabar ini tapi dia adalah satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa. Harusnya ibu bisa lebih bijak. Sebelum semua orang mengetahui, harusnya Ratna yang diberitahu lebih dulu. Ingin rasanya Ratna mengungkapkan kekecewaannya, tapi apa dia tega menyakiti ibunya? Padahal kalau saja Resti dan ibu memberitahunya lebih awal, dia akan lebih siap menerima semuanya. Sejahat-jahatnya dia sebagai manusia, Ratna tidak akan membuat adiknya bersedih.
Ratna mengangkat kepala, berusaha tegar dan menghilangkan semua bekas air matanya. Hari ini hari besar untuk keluarga kecilnya. Bagaimanapun remuknya perasaan dia sekarang, ini tetap hari bahagia. Menikah adalah ibadah, dia tidak mungkin mencegah adiknya untuk beribadah. Lalu bagaimana dengan ibu? Beliau pasti sedih melihat dua putrinya yang dulu akur sekarang merenggang. Dia harus ikhlas.
Perlahan Ratna menyiram tubuhnya dengan air dingin, berharap semua kebencian dan kekecewaannya membeku lalu hilang. Berharap dia bisa duduk tegak dan memasang senyum bahagia di depan keluarga dan tamu undangan lainnya.
“Ratna. Masih lama?” teriak seseorang dari luar kamar mandi.
“Sebentar.”
“Cepet sedikit ya, giliran kamu dirias Na.”
“Iya budhe.”
Tapi walaupun teriakan dari luar memintanya bergegas, Ratna malah terdiam. Ada banyak pertanya di kepalanya. Ada banyak kekesalah di hatinya. Rupanya ikhlas tidak semudah yang diucapkan. Tapi Ratna sadar, dia tidak bisa apa-apa sekarang. Hanya ada dua pilihan, membuat ibu dan adiknya bahagia walaupun dia terluka atau menjauhi keramaian ini sesuai dengan keinginannya dan membuat ibu juga adiknya bersedih. Dan Ratna tidak bisa melihat orang tercintanya menangis.
Selesai mandi Ratna menghampiri budhenya. Sekilas Ratna melihat sang adik sedang dirias. Cantik. Ya semua orang setuju kalau Resti cantik. Bahkan lebih cantik dari dirinya.
“Budhe.” Panggil Ratna.
“Eh lama banget. Ayo ke sana, yang mau rias kamu udah nungguin Na.” Kata budhe sambil menariknya menuju seorang perias. “Kamu mandi kok lama banget. Nggak tahu ya sudah mepet gini jamnya.”
“Iya.” Jawab Ratna sendu.
“Kamu jangan gitu mukanya. Adiknya nikah kok cemberut saja. Yang seneng gitu lho Na.” Lanjut budhe.
“Iya.”
“Ih kamu ini diajak ngomong kok iya iya saja. Yang riang gitu lho Na, kayak Resti. Jadi cepet ketemu jodohnya.”
“Budhe!” Tanpa sadar Ratna bicara terlalu keras. Beberapa orang menoleh untuk melihatnya. “Ngomongnya sudah? Budhe nggak tahu apa-apa. Budhe bisa tidak sedikit saja mengerti posisiku sekarang?”
“Ratna, ada apa?” Ibu datang setelah mendengar suara keras Ratna.
“Tanya sama budhe.” Lalu Ratna berlalu, menuju si perias yang sedang tertegun memandang Ratna juga budhe.
“Mau rias sekarang apa besok mbak?” tanya Ratna ketus.
“Oh.. Iya.”
Tanpa sepengetahuan Ratna, Resti sudah berada di ambang pintu kamar. Menyaksikan juga mendengarkan sang kakak mengumbar kekesalannya. Ada sedikit titik basah di pipinya. Resti tahu, dia tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan kakaknya hari ini. Tapi Resti berani menjamin, di hatinya juga tumbuh perasaan sedih karena sudah membuat saudara kandungnya  menangis.
Resti tidak pernah bermimpi akan mendahului kakaknya menikah. Semua yang terjadi hari ini adalah takdir yang harus dia jalani. Ada rasa bersalah yang mungkin akan selamanya bersemayam di hatinya. Dia menyesal kenapa tidak mencoba meminta ijin terlebih dahulu kepada kakaknya sebelum mengatakannya kepada keluarga yang lain. Dia menyesal kenapa semua jadi seperti ini.
Ada rasa takut saat Resti ingin menyampaikan lamaran Adi, calon suami Resti, kepada sang kakak. Resti takut kakaknya akan marah dan melarangnya menikah. Karena itulah Resti memilih untuk mencari dukungan dulu kepada ibu dan keluarga besar lainnya. Tapi keputusannya malah membuat fatal segalanya.
“Resti, kamu nangis nak?” tanya ibu sudah sudah berada  di sampingnya.
“Aku nggak enak bu sama mbak Ratna. Aku jahat ya bu?”
“Sudah. Mbakmu tahu harus bagaimana. Kamu jangan merusak hari besarmu ya nak.” Kata ibu berusaha menenangkan.
“Tapi bu...”
“Res, semuanya sudah terjadi. Ya sudah. Sekarang ayo kita lanjutkan apa sudah dimulai. Mbakmu tahu bagaimana cara menyembuhkan hatinya. Dia sudah tahu kamu menyesal. Dia hanya butuh waktu sekarang ini.”
“Semua tidak akan sama lagi seperti dulu bu.” Kata Resti. Sekarang muncul semakin banyak titik basah di pipinya.
“Tapi bukan berarti segalanya akan semakin buruk.”
Pukul delapan tepat sang mempelai pria dan keluarga sudah sampai di rumah Resti. Semua orang bergegas menyambut tamu di depan pintu. Oh ya, di depan rumah juga sudah berdiri megah pelaminan untuk mempelai. Ratna tetap diam di tempat. Hatinya ingin pergi ikut menyambut, biar adiknya senang. Namun apa daya, kakinya seperti terpaku di lantai rumah. Bergerakpun sulit.
“Ibu tidak memaksamu nak, kalau kamu lebih nyaman di sini ya sudah.” Kata ibu tiba-tiba.
“Lho, kok ibu di sini? Harusnya ibu di depan, menyambut calon mantu dan keluarganya.” Jawab Ratna.
“Iya, ibu baru mau ke depan.” Jawab ibu. “Ratna, kamu juga putri ibu. Maaf ya nak kalau ibu sempat membuatmu kecewa. Maafin adik kamu juga sudah membuatmu menangis.”
“Sudahlah bu, jangan lagi dibahas. Aku...”
“Ibu sayang kalian berdua. Ibu cuma punya kalian berdua. Ibu mau dua-duanya bahagia. Ibu tidak bermaksud memihak yang mana nak.”
“Bu....”
“Ratna pasti bisa mengerti kan? Ratna jangan benci ibu sama adik ya nak.” Pinta ibu.
“Bu, Ratna nggak akan pernah membenci keluarga sendiri. Ratna juga minta maaf ya sudah membuat semuanya jadi sesulit ini. Ratna ingin ikut bahagia seperti orang-orang ini bu, tapi cuma ini yang bisa Ratna kasih.” Mata indah Ratna mulai berkaca-kaca. “Ibu jangan minta maaf. Aku nggak mau jadi anak durhaka. Sudah ya bu, nanti riasan kita luntur. Hehehe.” Ratna tertawa dalam tangisnya.
Ibu dan anak itupun saling memeluk. Berusaha mendamaikan hati satu sama lain. Berusaha merasakan kesedihan satu sama lain.
“Bu, percaya sama Ratna, bukan sikap yang begini yang Ratna mau. Tapi rasa kecewa yang kemarin belum sepenuhnya sembuh.”
“Ibu tahu nak. Resti juga tahu. Kamu hanya butuh waktu untuk sendiri. Semua akan berlalu nanti, walau mungkin tidak akan sama seperti dulu tapi ibu yakin besok akan lebih baik dari hari ini.”
“Ibu ke depan ya. Nggak enak kalau tamunya dicuekin.” Kata Ratna.
“Iya.” Dan ibu berlalu meninggalkan Ratna.
“Ini mbak.” Perias yang tadi merias wajah Ratna menyodorkan sekotak tisu. “Aku bisa ngerti rasanya jadi mbak. Aku dulu juga begitu. Rasanya ada di dua pilihan, antara bahagia dan kecewa. Bahagia karena akhirnya adikku menemukan jodohnya, kecewa karena bukan jalan cerita yang begini yang aku mau. Tapi ya sudahlah, aku yakin kalau Allah itu tidak akan memberikan cobaan yang beratnya melebihi kemampuanku. Jadi ya aku berpasrah saja. Lebih gampang ngomong sih daripada menjalaninya. Ada saatnya aku benar-benar harus mengalah untuk adikku.”
Ratna terdiam. Tidak disangka olehnya kata-kata dari orang asing bisa begitu menggugah hatinya. Dia tersenyum, membenarkan apa yang dikatakan si periasnya barusan. Ah andai saja prakteknya bisa semudah saat mengucapkan teorinya.
Sebentar lagi prosesi ijab akan dilaksanakan. Semua orang sedang sibuk mengeluarkan suguhan. Ratna tahu, Resti masih diam di kamarnya. Ingin sekali dia datang kepada adiknya, memberi dukungan dan memeluknya. Tapi lagi-lagi kakinya seperti dipaku di lantai, menggesernya saja sulit. Biar sajalah, Resti juga pasti tahu apa sebenarnya yang aku rasakan.
“Mbak.” Tiba-tiba Resti sudah berada tepat di belakang Ratna. “Mbak, boleh aku ngomong sebentar aja?”
Tanpa menoleh, Ratna menjawab. “Ngomong aja Res.”
“Maafin aku ya mbak. Aku juga mau bilang makasih sama mbak, soalnya sampai saat ini mbak masih mau nemenin aku.” Suara Resti terdengar parau. “Aku pengen nanti mbak ada di depan, sama aku dan ibu. Tapi kalau mbak nggak bisa juga nggak apa-apa, aku ngerti.”
“Aku ngerti mau kamu Res. Maafin mbak kalau belum bisa mengabulkan semua keinginan kamu. Mbak yakin kamu pasti ngerti alasannya. Selamat ya, harimu datang juga. Doakan mbak dan mas Kiki, semoga segera menyusulmu dan Adi.” Kata Ratna, masih tidak mau menoleh memandang Resti.
“Amin. Pasti mbak, pasti.” Resti terdiam sebentar. “Mbak, aku pengen meluk mbak Ratna. Boleh?”
Ratna diam. Air matanya sudah berjatuhan, membasahi jarik yang dipakainya. Dia juga ingin sekali memeluk saudaranya itu. Akhirnya Ratna hanya menganggukkan kepala, tanda setuju.
Resti lega melihat kakaknya mengangguk. Dari belakang Resti memeluk erat kakaknya. Menumpahkan sedikit air mata di bahu sang kakak. Ratna sendiri sedang sibuk menahan isak. Dipejamkan matanya menahan tangis yang semakin mendesak. Dia sangat mencintai adiknya. Dia ingin adiknya bahagia. Namun lagi-lagi, retak di hatinya masih terasa sakitnya. Biarlah seperti ini, sesuai dengan porsinya. Asalkan semua sama-sama tahu perasaan terdalam satu sama lain.
“Terimakasih mbak.” Ratna hanya mengangguk.
Ijab qobul dimulai, Ratna tetap memilih diam di tempatnya semula. Dia yakin, Resti dan ibunya paham dengan pilihannya. Biarlah semua orang berbisik-bisik mempertanyakan keputusannya, asalkan ibu dan adiknya sudah mau mengerti dia.
Semua lancar. Hari ini Resti resmi menjadi seorang istri. Ada rasa lega di hati Ratna, namun juga ada sedikit sekali rasa sesal. Rupanya ilmu ikhlas Ratna masih belum sempurna. Setidaknya dia sudah jujur kepada dirinya sendiri dan orang lain.
Ratna tahu sekarang saatnya dia keluar dan melihat  adiknya. Ratna yakin dia bisa menyingkirkan kesedihannya sementara. Demi adik dan ibunya.
“Ratna.” Panggil ibunya. “Di sini nak.”
Ratna datang dan memeluk sang ibu. Tanpa satu katapun yang terucap, tapi keduanya sudah tahu harus bagaimana. Ratna melepas pelukannya. Dihampiri sang adik lalu dipeluknya begitu saja. Semua air mata yang dia simpan akhirnya keluar dengan derasnya. Lega rasanya bisa bersikap lembut kepada sang adik. Tidak jauh berbeda dengan Ratna, Resti menangis sesenggukan.
“Sudah ih, nanti bedak kita luntur lho.” Kata Ratna coba bergurau.
Resti hanya tertawa, mulutnya belum mampu berkata-kata. Dia masih sibuk menangis. Air mata yang jatuh hari ini adalah air mata kelegaan juga bahagia. Masih ada rasa sesal di hatinya, tapi dia percaya bahwa saat ini sudah sedikit lebih baik dari tadi pagi.
Semua tamu berbahagia. Tuan rumah juga sangat berbahagia. Ratna merasa semua sudah cukup, kini saatnya dia kembali ke tempatnya di awal tadi. Perlahan Ratna menarik dirinya dari keramaian. Dia tahu sikapnya ini tidak bisa dibenarkan, tapi semua orang juga harus tahu, dia butuh ruang untuk sendiri.
Resti dan Adi sekarang sudah duduk di pelaminan megahnya. Akhirnya ibu duduk ditemani om Hanan. Ratna diam-diam memperhatikan dari jendela kamarnya. Dia tersenyum.
“Harusnya aku ke sana. Foto-foto dan bersenang-senang.” Gumam Ratna.
“Ayo aku temani.” Seseorang secara tiba-tiba sudah berada di dalam kamarnya.
“Kiki! Kamu datang?” teriak Ratna karena kaget.
“Pasti dong. Aku udah setengah jam nyariin kamu, malah di sini. Ayo ke depan, kita foto rame-rame.” Ajak Kiki, pacar Ratna.
Ratna tersenyum mendengar ajakan sang pacar. Dengan santainya dia julurkan tangan kanannya kepada Kiki, berharap digandeng.
“Dasar manja.” Goda Kiki. Ratna diam saja. “Kamu cantik.”
“Pastinya. Hehehe.” Syukurlah Ratna bisa tertawa lepas. “Makasih udah datang.”
Dan keduanya berjalan ke depan diikuti pandangan semua orang. Ekspresi wajah Ratna tidak lagi kaku seperti tadi pagi. Wajah gembira itu terpancar jelas di wajahnya. Ratna tahu, dia sudah melakukan tindakan yang benar kali ini.


 Ditulis untuk memenuhi tantangan dari @KampusFiksi tentang #KalimatPertama. Diambil dari kalimat pertama pada novel berjudul 'Beautiful Nightmares' oleh Farahnanda. Selamat membaca. :)

*Semoga tidak ada 'typo'.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar