Sabtu, 05 April 2014

#DeskripsiSetting KAMPUS FIKSI




Jumlah sepeda motor di parkiran sekolahku masih bisa dihitung dengan jari. Masih terlalu pagi untuk sampai di sekolah, tapi biarlah. Saat ini aku memang sedang membutuhkan suasana sepi. Pak Jo, penjaga sekolah, masih sibuk membersihkan halaman dari daun-daun bougenville yang berguguran. Padahal biasanya dia menjaga gerbang saat aku sampai di depan sekolah. Hari benar-benar masih pagi. Motorku pagi ini kuparkir di baris paling depan, bukan di ujung belakang seperti biasanya, karena aku datang lebih awal. Helm kulepas dan kugantung di spion motor. Rambut panjangku agak berantakan, biar nanti aku sisir di dalam kelas saja. Tapi malas rasanya masuk ke kelas sekarang, sudah pasti aku akan sendirian di sana. Kuputuskan untuk duduk di atas motor, menikmati sepi.
Parkiran sekolahku cukup luas, memiliki atap sebagai pelindung dari seng. Kalau siang panasnya menyengat, tapi kalau hujan sepeda motor kami semua selamat. Lantai parkiran dilapisi paving berbentuk bulat. Ada satu pohon bougenville besar di depan parkiran ini, biasanya teman-temanku suka bergerombol di sana sebelum masuk kelas. Reflek kulirik ke ujung belakang parkiran, motor Satria warna kuning yang biasa kulihat di sana sekarang tidak ada. Lebih tepatnya belum ada. Seperti ada lubang di hatiku saat melihat motor kuning itu tidak ada, tapi diam-diam aku bersyukur. Bagus aku tidak melihat motor itu, artinya aku bisa menghindari si pemilik motor kuning itu pagi ini. Aduh Dewi, lupakan motor kuning jelek itu. Lupakan juga pemiliknya yang sudah mencabik hatimu!



Betapa kagetnya aku melihat motor Scoopy berstiker kodok hijau terparkir di baris paling depan parkiran sekolah. Harusnya motor itu parkir di ujung belakang sana, di sebelah motorku yang gagah. Pemiliknya pasti datang paling awal. Jika tidak, mana mungkin motor ini mendapat tempat parkir paling depan. Bahkan dia tidak memarkir motornya di tempat yang biasanya, dia pasti menghindariku. Beberapa teman menyapaku. Mereka keluar dari parkiran dan bergegas pergi ke kelas. Suasana di parkiran sangat ramai, semuanya berlomba-lomba mendapatkan tempat untuk motornya.
Hari sudah siang. Sepuluh menit lagi bel masuk berdering. Hawa di parkiran sekolahku begitu menyengat. Ini pasti efek seng yang digunakan sebagai atap parkiran. Benar saja, saat kulihat ke atas atap seng itu berkilau-kilau tersengat matahari. Kutuntun perlahan motor kebanggaanku. Jumlah motor di parkiran sangat banyak, tertata rapi dan berbaris urut. Jika ada motor yang ditinggalkan pemiliknya berbaris tidak rapi, dijamin nanti sepulang sekolah ban depannya sudah kempes. Motor yang berbaris rapi inipun masih membuatku berusah payah memarkir motorku sendiri di posisi yang benar. Apalagi beberapa siswa yang bergerombol di bawah bougenville tua yang tumbuh tepat di depan parkiran. Mereka menghambat laju keluar dan masuk ke parkiran. Biasanya aku tidak akan segondok ini melihat kelakuan mereka di sana, tapi pagi ini berbeda. Dari rumah perasaanku sudah tidak karuan. Aku tahu Dewi marah. Tapi dia salah paham. Aku hanya membantu Lily. Aku harus menjelaskan semuanya nanti.












Hampir saja aku terlambat sampai di sekolah. Ini semua gara-gara peristiwa semalam. Aku menangis sampai larut. Oh jangan gara-gara aku lalu hubungan mereka memburuk. Aku harus mencari tahu. Biasanya mereka berdua ada di parkiran sebelum masuk ke kelas. Tertawa dan bergandengan tangan di bawah pohon bougenville bersama teman-teman. Semoga aku bisa menemukan mereka di sana. Pak Jo terlihat galak ketika menyuruh kami bergegas masuk ke kelas. Wajar saja, sebentar lagi bel berbunyi. Sekolahku asri, terik matahari pagi jadi tidak terlalu menyengat karena ada banyak pohon di sini.
Memasuki area parkiran motor, hawa panas mulai menyerang. Harusnya sekolah mengganti atap seng ini dengan bahan fiber. Setidaknya bisa mengurangi terik matahari yang menyengat ini. Kuedarkan pandangan mencari sosok Angga dan Dewi. Nihil. Yang aku lihat hanya motor Dewi. Motor Angga ada di ujung paling belakang. Kuning cerah, sangat mudah dikenali. Motor dua sejoli ini berpisah, apakah mereka juga berpisah? Aduh, semua salahku. Aku diam termangu di tengah parkiran sekolah ini. Membiarkan siswa lain menegur dan mendorongku menjauh. Suasananya sangat ramai, tapi tiba-tiba aku merasakan kesepian. Dewi sahabatku, dia pasti membenciku. Maafkan aku ya Wi. Bukan maksudku seperti itu. Aku keluar dari parkiran. Menghela nafas panjang dan bersiap masuk ke kelas. Bagaimanapun sikap Dewi nanti, aku memang bersalah. Satu bunga bougenville berwarna merah muda jatuh di bahuku. Semoga bunga cantik ini adalah bunga keberuntunganku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar