Jumlah sepeda motor di
parkiran sekolahku masih bisa dihitung dengan jari. Masih terlalu pagi untuk
sampai di sekolah, tapi biarlah. Saat ini aku memang sedang membutuhkan suasana
sepi. Pak Jo, penjaga sekolah, masih sibuk membersihkan halaman dari daun-daun
bougenville yang berguguran. Padahal biasanya dia menjaga gerbang saat aku
sampai di depan sekolah. Hari benar-benar masih pagi. Motorku pagi ini kuparkir
di baris paling depan, bukan di ujung belakang seperti biasanya, karena aku
datang lebih awal. Helm kulepas dan kugantung di spion motor. Rambut panjangku
agak berantakan, biar nanti aku sisir di dalam kelas saja. Tapi malas rasanya
masuk ke kelas sekarang, sudah pasti aku akan sendirian di sana. Kuputuskan untuk
duduk di atas motor, menikmati sepi.
Parkiran sekolahku cukup
luas, memiliki atap sebagai pelindung dari seng. Kalau siang panasnya
menyengat, tapi kalau hujan sepeda motor kami semua selamat. Lantai parkiran
dilapisi paving berbentuk bulat. Ada satu pohon bougenville besar di
depan parkiran ini, biasanya teman-temanku suka bergerombol di sana sebelum
masuk kelas. Reflek kulirik ke ujung belakang parkiran, motor Satria warna
kuning yang biasa kulihat di sana sekarang tidak ada. Lebih tepatnya belum ada.
Seperti ada lubang di hatiku saat melihat motor kuning itu tidak ada, tapi
diam-diam aku bersyukur. Bagus aku tidak melihat motor itu, artinya aku bisa
menghindari si pemilik motor kuning itu pagi ini. Aduh Dewi, lupakan motor
kuning jelek itu. Lupakan juga pemiliknya yang sudah mencabik hatimu!
Betapa kagetnya aku
melihat motor Scoopy berstiker kodok hijau terparkir di baris paling depan
parkiran sekolah. Harusnya motor itu parkir di ujung belakang sana, di sebelah
motorku yang gagah. Pemiliknya pasti datang paling awal. Jika tidak, mana
mungkin motor ini mendapat tempat parkir paling depan. Bahkan dia tidak
memarkir motornya di tempat yang biasanya, dia pasti menghindariku. Beberapa teman
menyapaku. Mereka keluar dari parkiran dan bergegas pergi ke kelas. Suasana di
parkiran sangat ramai, semuanya berlomba-lomba mendapatkan tempat untuk
motornya.
Hari sudah siang. Sepuluh
menit lagi bel masuk berdering. Hawa di parkiran sekolahku begitu menyengat. Ini
pasti efek seng yang digunakan sebagai atap parkiran. Benar saja, saat kulihat
ke atas atap seng itu berkilau-kilau tersengat matahari. Kutuntun perlahan
motor kebanggaanku. Jumlah motor di parkiran sangat banyak, tertata rapi dan
berbaris urut. Jika ada motor yang ditinggalkan pemiliknya berbaris tidak rapi,
dijamin nanti sepulang sekolah ban depannya sudah kempes. Motor yang berbaris
rapi inipun masih membuatku berusah payah memarkir motorku sendiri di posisi
yang benar. Apalagi beberapa siswa yang bergerombol di bawah bougenville tua
yang tumbuh tepat di depan parkiran. Mereka menghambat laju keluar dan masuk ke
parkiran. Biasanya aku tidak akan segondok ini melihat kelakuan mereka di sana,
tapi pagi ini berbeda. Dari rumah perasaanku sudah tidak karuan. Aku tahu Dewi
marah. Tapi dia salah paham. Aku hanya membantu Lily. Aku harus menjelaskan
semuanya nanti.
Hampir saja aku
terlambat sampai di sekolah. Ini semua gara-gara peristiwa semalam. Aku menangis
sampai larut. Oh jangan gara-gara aku lalu hubungan mereka memburuk. Aku harus
mencari tahu. Biasanya mereka berdua ada di parkiran sebelum masuk ke kelas. Tertawa
dan bergandengan tangan di bawah pohon bougenville bersama teman-teman. Semoga
aku bisa menemukan mereka di sana. Pak Jo terlihat galak ketika menyuruh kami
bergegas masuk ke kelas. Wajar saja, sebentar lagi bel berbunyi. Sekolahku asri,
terik matahari pagi jadi tidak terlalu menyengat karena ada banyak pohon di
sini.
Memasuki area parkiran
motor, hawa panas mulai menyerang. Harusnya sekolah mengganti atap seng ini
dengan bahan fiber. Setidaknya bisa mengurangi terik matahari yang menyengat
ini. Kuedarkan pandangan mencari sosok Angga dan Dewi. Nihil. Yang aku lihat
hanya motor Dewi. Motor Angga ada di ujung paling belakang. Kuning cerah,
sangat mudah dikenali. Motor dua sejoli ini berpisah, apakah mereka juga
berpisah? Aduh, semua salahku. Aku diam termangu di tengah parkiran sekolah
ini. Membiarkan siswa lain menegur dan mendorongku menjauh. Suasananya sangat
ramai, tapi tiba-tiba aku merasakan kesepian. Dewi sahabatku, dia pasti
membenciku. Maafkan aku ya Wi. Bukan maksudku seperti itu. Aku keluar dari
parkiran. Menghela nafas panjang dan bersiap masuk ke kelas. Bagaimanapun sikap
Dewi nanti, aku memang bersalah. Satu bunga bougenville berwarna merah muda
jatuh di bahuku. Semoga bunga cantik ini adalah bunga keberuntunganku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar