Remedial Membawa Cinta
Ini tentang perjalanan cintaku. Kisah ini
berawal dari keteledoranku. Tapi sebenarnya, kisah ini sudah dimulai jauh
sebelum kusadari. Tuhan dengan sempurna menakdirkan kisahku.
Aku siswi kelas XI Ilmu Sosial. Aku bukan
siswi teladan di sekolah dan bukan siswi paling cantik di kelas. Sampai kelas
XI, belum sekalipun aku mengenal cinta.
Aku pendiam dan kurang bergaul. Nilai-nilai
pelajaranku tidak menonjol, apalagi jika sudah menyangkut Matematika, aku
menyerah kalah! Aku anti Matematika. Dan sampai suatu hari, aku berterimakasih
pada Matematika.
***
Hari ini jam pertama ulangan Matematika.
Aku sudah belajar sejak semalam. Aku tahu cara belajar Sistem Kebut Semalam
tidak efektif, namun aku tetap mengharapkan keajaiban dari cara belajarku ini. Tanpa
sadar, kepalaku lunglai di atas meja. Aku tertidur.
Paginya aku bangun kesiangan. Jarak rumah
ke sekolah cukup jauh. Biasanya aku naik angkutan umum. Dua puluh menit yang
aku butuhkan untuk bisa sampai di sekolah. Aku berlarian ke sana kemari
memasukkan buku pelajaran dan menyambar handuk di belakang pintu kamar. Aku tahu
aku terlambat. Tapi aku lebih memilih terlambat daripada bolos. Ulangan Matematika
memenuhi otakku sepanjang pagi ini.
Sesampainya di sekolah, gerbang sudah
tertutup rapat. “Pak bukain.” Kataku lemas.
“Sini bapak catat dulu. Mampir ruang
konseling ya.” Jawab pak satpam.
Aku gagal masuk ke kelas. Ulangan sudah
berlangsung. Bu Nur, guru Matematikaku, memintaku menunggu di luar kelas hingga
semua siswa selesai mengerjakan ulangan.
“Kenapa terlambat?” tanya Bu Nur ketika baru
saja selesai mengajar.
“Kesiangan bu. Maaf.” Jawabku.
“Nanti sepulang sekolah kamu ke kantor,
ikut susulan.” Kata beliau tegas.
Niat belajar sampai malam biar ulangan
hari ini lancar, yang kudapat malah terlambat sekolah. Sisa jam pelajaran kulewati
dengan gelisah. Baru pertama kalinya aku mengikuti ulangan susulan di kantor,
sendirian!
Bel pulang sekolah berbunyi. Dengan langkah
malas aku berjalan menuju kantor guru. Dari jauh terlihat Bu Nur sedang
berbincang dengan seorang siswa. Aku tidak melihat wajahnya karena dia
membelakangi pintu masuk.
“Siang bu.” Sapaku.
“Kalian siap ya buat ulangan susulan?”
“Siap bu.” Jawab sebuah suara dengan
mantap. Reflek aku menoleh ke kanan. Ah! Ciptaan Tuhan ini sungguh tampan.
“Kamu ulangan bareng Ririn. Tadi dia
terlambat, jadi sekalian kalian ulangan susulan sekarang.”
“Iya bu.” Jawab Alfa, siswa kelas XI
Ilmu Alam 1.
“Kalian kerjakan soalnya di sana.” Bu Nur
menunjuk meja dengan dua kursi di bagian kiri kantor. “Ingat, soalnya beda. Jadi
kalian nggak bisa saling contek.” Aku tersenyum kecut.
Aku dan Alfa berjalan menuju meja yang
sudah di tunjukkan. “Kamu duduk sebelah tembok ya.” Kata Alfa. Aku hanya
mengangguk tanpa memandangnya. Aku salah tingkah.
Satu jam berlalu. Alfa tampak tenang menuliskan
jawabannya. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Susah sekali soal-soal ini.
Sebebal inikah otakku?
“Susah?” Bisik Alfa.
“Hah? Eh.. iya.. susah.” Jawabku gugup.
“Rumus itu jangan dihafalkan. Coba latihan
soal-soal.”
“Hehehe. Iya.” Duh!
“Aku selesaikan ini dulu. Nanti aku
bantu.”
Apa? Aku nggak salah dengar?
“Selesai. Mana soal kamu?”
Dan percaya atau tidak, Alfa memberiku
rumus-rumus yang harus aku kerjakan. Alfa hanya menuliskan rumusnya,
selanjutnya dia mendahuluiku meninggalkan kantor.
“Aku Alfa. Kapan-kapan kita bahas
Matematika bareng ya.”
Sepeninggal Alfa, aku berhasil
menyelesaikan semua soal. Aku tidak yakin jawabanku benar 100%. Tapi setidaknya
aku yang dibantu Alfa, sudah mencoba. Ah Alfa. Kamu baik. Aku mulai menyukaimu.
Setelah hari itu aku jadi sering
diam-diam mencarinya. Setiap kali ke kantin atau ke toilet, aku mengambil jalan
yang melewati kelas Ilmu Alam. Dan akhirnya aku bertemu dengannya.
“Hai Rin.” Sapa Alfa.
Aku tidak melihat Alfa sebelumnya. “Hai!”
Jawabku berlebihan.
“Mau kemana?”
“Eh.. ke kantin.”
“Sendiri ya? Aku temani tapi tunggu
sebentar ya.”
“Hah?”
Alfa berlari meninggalkanku. Dia masuk
ke dalam kelas. Tidak lama dia muncul sambil membawa sebuah buku. Kami berjalan
beriringan. Alfa banyak bercerita.
Ternyata saat remedial hari itu Alfa
baru sembuh dari sakitnya. Dia ketinggalan banyak pelajaran dan ulangan.
“Awalnya aku malas susulan. Tapi waktu
aku tahu ada teman yang juga ikut susulan, aku agak terhibur. Kamu nggak suka
Matematika ya?”
“Aku suka Sejarah.” Jawabku spontan.
“Kamu aneh, jarang ada yang suka
Sejarah.” Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Kalau begitu mulai sekarang aku ajain
kamu belajar Matematika. Kamu juga harus bagi pengetahuan Sejarahmu ya Rin.”
Seperti ada banyak bunga berguguran di
sekelilingku. Alfa yang pandai, anak Ilmu Alam yang tampan itu mengajakku
belajar bersama? Apa aku bermimpi?
Alfa memegang janjinya. Dia sering
mencariku ke kelas dan mengajakku duduk di taman. Dia benar-benar membawa buku
catatan Matematikanya, dan aku dengan senang hati bercerita tentang Majapahit padanya.
Banyak gosip beredar di sekolah tentang
kami. Aku sempat mengeluh kepada Alfa, tapi dia malah tertawa.
“Kenapa? Kamu malu digosipkan pacaran
denganku? Hahaha.” Tanya Alfa sambil tertawa berderai.
Aku diam saja. Aku bingung harus
menjawab apa. Dan cara Alfa tertawa berhasil membuatku semakin terpesona.
“Hei Rin. Kamu selalu banyak diam. Tapi nggak
apa-apa, aku suka kamu yang pendiam. Kamu yang selalu tersenyum simpul. Kamu yang
malu-malu. Dan aku juga suka lesung pipit kirimu itu.”
Alisku bertautan, tanda aku tidak
memahami maksud perkataan Alfa.
“Hahaha. Wajahmu lucu Rin. Kamu kenapa
sih?”
“Alfa?”
“Ya Ririn, ada apa?”
“Kamu.. barusan ngomong apa?”
“Hahaha. Kamu beneran nggak ngerti?” Aku
diam saja sambil menatapnya dalam-dalam. “Aku menyukaimu Rin.”
“Oh.”
“Kenapa cuma ‘oh’?”
“Aku... aku bingung Al..”
Alfa tersenyum dan mendekatkan wajahnya
ke arahku. “Ririn, aku mau jadi mentor Matematikamu selama yang kamu ingin. Aku
mau jadi teman yang menemanimu ke kantin setiap hari. Aku mau, lesung pipit
kirimu itu jadi milikku.”
Aku diam. Aku bingung mendengar
kata-kata Alfa. “Kita pacaran yuk. Kalau kamu mau Rin, tapi kalau enggak...
kamu mau?” tanya Alfa yang sekarang memegang ujung-ujung jari tanganku.
“Alfa...” Aku memandang wajah tampan
Alfa. “Kamu mau menerimaku yang biasa-biasa saja?”
“Kamu mau menerimaku yang nggak suka
Sejarah?”
“Ih Alfa!” teriakku manja. “Aku nggak
cantik.”
“Tapi kamu manis.”
“Aku nggak pinter.”
“Aku nggak bisa basket, aku nggak punya
ekskul di sekolah.”
“Aku punya!” sahutku cepat.
“Paduan suara? PMR? Apa lagi?”
“Ih kok tahu?”
“Kita pacaran?”
“Kalau kamu mau.”
“Aku mau. Kamu?”
“Aku juga mau!”
Dan sejak saat itu, Alfa selalu ada di
setiap suap bakso yang kunikmati di kantin. Alfa selalu ada untuk membuatku
tersenyum. Alfa selalu ada di setiap soal Matematika yang menyebalkan.
Ditulis untuk memenuhi tantangan dari @KampusFiksi dengan tema #EhemKenalan. Selamat membaca. Semoga nggak ada typo! ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar