MINCE
(Minggu
Ceria)
Hari masih gelap. Sinar matahari di
timur bahkan belum nampak merah. Adzan subuh baru saja berkumandang, Dini yang
dari semalam terjaga bersiap mengambil air wudhu.
Air di bak kamar mandi begitu dingin. Dini
semakin kehilangan rasa kantuknya. Ini bukan yang pertama, penyakit insomnianya
semakin parah saja. Padahal sepulang sekolah kemarin dia mengikuti Pramuka
hingga sore. Malamnya dia datang ke acara ulang tahun Ria hingga larut. Semua lelah
yang dia dapat tidak juga meruntuhkan kekuatan kelopak matanya. Dua buku habis
sudah dia lahap dalam semalam. Dan lagi-lagi, Dini harus menyerah melawan
tangguhnya sang kelopak mata.
Selesai shalat Subuh Dini terdiam. Dia teringat
kawan lamanya, Lia. Dini dan Lia sudah berteman sejak di bangku Sekolah Dasar. Namun
di SMA, mereka berpisah sekolah.
“Ini kan Minggu. Ajak Lia mince seru
nih! Udah bangun belum tuh anak?” Dini tergesah melepas mukenah dan melipatnya
rapi. Diraihnya smartphone yang
tergeletak di atas bantal. “Lia.. ketemu!” Dini menyentuh gambar gagang telfon
berwarna biru di screen Hpnya.
“Hmmm....” Terdengar sahutan.
“Lia! Ini Dini. Masih tidur ya?” tanya
Dini bersemangat.
“Hmmm... kenapa Din?” tanya Lia tanpa
semangat.
“Mince yuk! Minggu nih.”
“Mince?”
“Minggu Ceria Lia. Ayo dong! Aku jemput
ya setengah jam lagi. Hehehe.”
“Kamu
tuh, dari dulu tukang maksa.”
“Ayolah, temenmu butuh hiburan nih.”
“Alaaah... galau mulu hidupmu Din.”
“Setengah jam lagi yaaaaaa!”
“Iyeeeee!!”
Dan Dini bergegas mandi serta berganti
baju.
Sudah lama Dini tidak lagi mince di
alun-alun kota. Padahal dulu waktu SMP, hampir setiap hari Minggu dia dan Lia
mince sambil ngeceng mas-mas basket. Dini memilih kaos sambil berdendang. Dia sudah
tidak sabar sampai di alun-alun.
Setengah jam kemudian Dini sudah siap
dengan Beat putihnya. Kaos hitam, celana biru selutut dan sandal japit sudah
rapi menempel di tubuhnya. Dini siap menjemput sang kawan.
Ternyata Lia sudah siap di teras rumahnya. Sambil menunggu Dini, dia asyik
mendengarkan musik. Headset besar terpasang mantap di kepalanya. Melihat kedatangan
Dini, Lia tersenyum dan bergegas menghampiri.
“Lama ya kita nggak mince. Ikut senam
apa ngeceng doang?”
“Senam dong. Hahaha.” Dua sohib itupun
dengan senyum cerah mengarungi Kota Lamongan yang masih lenggang.
Alun-alun kota sudah penuh oleh warga. Seorang
instruktur senam nampak sedang sibuk di atas pendopo bersiap menyetel musik. Dini
dan Lia berlari-lari mencari posisi paling depan. Dua gadis ini tanpa malu
menerobos ibu-ibu.
Tak lama musik senam terdengar. Sang instruktur
cantik memulai aba-aba. Semua orang mengikuti. Dini dan Lia mengikuti sambil
tertawa senang.
“Gila, bisa copot ini pinggangku Din!”
“Hahaha. Iya ya, kelamaan nggak olah
raga nih. Baru sepuluh menit udah capek
gini.” Sahut Dini di sela-sela gerakan senamnya.
“Nggak bawa minum nih. Duh... engap Din.”
“Beli dong. Tuh banyak orang jualan.”
“Nanti deh.”
Selama satu jam Dini dan Lia dengan
bersemangat mengikuti setiap gerakan
yang di contohkan. Para warga yang juga heboh mengikuti, terlihat senang walau
kelelahan. Semua berkeringat.
“Basah gini punggungku Din.”
“Ya sama. Mandi lagi deh nanti di rumah.
Ini di dalam kaos udah mengalir aja keringetnya. Hahaha.”
“Capek.” Keluh Lia sambil duduk begitu
saja di atas paving alun-alun.
“Aku beli air dulu.”
Sekembalinya Dini membeli air minum,
tampak Lia sedang terengah-engah duduk di antara para warga lainnya.
“Capek?”
“Nggak usah ditanya.”
“Hehehe. Nih minum. Keringetnya sampek
segitu banget. Abis nyebur dimana sih Lia?”
“Ampun deh! Basah. Lengket. Mana kecut
gini baunya.”
“Hahaha. Masih mau lari? Aku pengen
keliling dulu. Paling nggak sekali deh.”
“Kamu aja. Nyerah. Mau ngumpulin nafas
dulu ya. Abis nih nafasku.” Jawab Lia sambil ngos-ngosan.
Dini hanya tertawa melihat penampilan
temannya yang berantakan. Sambil duduk lesehan di bawah, Lia sesekali menyeka
keringat yang membasahi lehernya. Kaos merahnya tampak menempel di punggungnya
karena basah oleh keringat.
Dini mulai lari-lari kecil sambil
sesekali memperhatian setiap laki-laki yang melintasinya. Nafas yang tadi sudah
mulai teratur, kini kembali sedikit ngos-ngosan. Keringat yang tadinya sudah agak
kering karena angin sejuk, kini kembali mengucur.
“Dini kan?” sapa seseorang.
“Hah?”
“Deni. Ingat?”
“Ah!” Dini surprise dan menghentikan lari paginya. “Apa kabar?” tanya Dini
sambil mengulurkan tangan. Deni adalah temannya di Sekolah Dasar.
“Baik.” Jawab Deni sambil menjabat
tangan Dini. “Udah lari berapa putaran?”
“Eh? Baru seperempat putaran. Hehehe.”
“Beneran? Keringatnya sampek segini ini?”
“Oh, hahaha. Ini tadi abis ikut senam
Den.” Jawab Dini tersipu malu. “Sama siapa?”
“Sama kamu.” Jawab Deni enteng.
“Maksudku, kamu ke sini sama siapa?”
“Sendirian. Kamu?”
“Sama Lia. Ingat Lia?”
“Hmmm... yang cerewet itu kan?”
“Hahaha. Kalau dia denger pasti ngomel.”
“Lia mana?”
“Ada di depan pendopo. Kecapekan abis
senam.”
“Mau lari lagi? Aku temani.”
“Pelan-pelan aja ya larinya. Nggak niat
lari sih, cuma pengen gerak aja.”
“Yes. Aku tahu kok.”
Lima menit berlalu. Keduanya hanya diam.
“Hmmm... mata kamu, kenapa hitam gitu?”
“Ah masa? Kena apa ya?”Reflek Dini
mengucek-ucek matanya. “Masih hitam?”
“Bukan noda, tapi seperti kurang tidur.”
“Ooh. Iya, belum tidur dari semalam. Emang
insomnia sih. Makin parah aja.” Dini menghentikan larinya. “Duduk boleh? Capek.”
“Yuk.” Deni mengikuti Dini duduk di
trotoar. “Untung ya ini Minggu. Coba kalau besoknya masuk sekolah, masih tetep
begadang?”
“Sebenernya bukan mauku juga begadang. Ya
memang insomnia aja.”
“Lagi ada masalah?” Dini memandang Deni
ragu. “Cowok?”
“Apaan sih.” Sahut Dini sambil
tersenyum.
“Ooh jadi masalah cowok. I see...”
“Iiih apaan coba!”
“Berantem? Apa udah.. ehem... putus?”
“Kenapa memangnya?”
“Kali aja udah putus, boleh dong daftar.
Hehehe.”
“Iih aku buka pendaftaraan apaan
memangnya? Hahaha.”
“Lari lagi yuk? Kurang setengah.”
“Iya, ayo.”
“Tiap Minggu ke sini?”
“Enggak. Cuma kebetulan tadi belum tidur
terus tetep nggak bisa tidur, ya udah mince aja ngajak Lia.”
“Ooh.. Kalau tiap Minggu ke sininya sama
aku, mau?”
Dini diam tidak menjawab. Namun tampak
jelas rona merah di pipinya.
“Pipi kamu merah, apa cuma pembiasan
cahaya gara-gara banyak keringet di muka kamu ya?”
“Iih si Deni dari tadi ngeledek terus
iih!”
“Hahaha...”
Mereka berdua melanjutkan berlari sambil
sesekali tertawa bersama. Satu putaran berhasil mereka selesaikan. Nafas Dini
sudah hampir habis. Kaos hitamnya melekat sempurna di badan mungilnya. Dia sekaligus
mengerjakan tiga kegiatan pagi ini. Berlari, mengobrol dan nervous karena berduaan dengan Deni. Tiga kegiataan ini menguras
habis tenaganya.
“Liaaaa!” teriak Dini.
“Wooooii. Lamanyo dikau. Darimana aja
woi?”
“Inget dia nggak?” tanya Dini yang
mengacuhkan protes Lia.
“Hah? Siapa?”
“Hai Lia. Kita dulu sekelas lho dari
kelas 1 sampai 6 SD. Inget?”
“Perasaan temen SD dulu nggak ada yang
sekeren kamu deh. Siapa sih Din?”
“Hahaha. Deni!”
“Hah? Deni yang pemalu itu ya? Yang kalau
pakai seragam rapiiiii banget itu?” tanya Lia sambil melotot. “Kok jadi keren
gini?”
“Hehehe. Makasih makasih. Hmmm... sego boran cukup nggak buat membayar
pujian barusan?”
“Wah mau traktir sarapan? Ayo deh
sekarang aja.”
“Hus. Mbok jual mahal dikit kamu itu. Sama
makanan aja langsung sigap. Lha senam gitu doang udah lemes.” Ledek Dini.
“Hahaha. Ayo deh kita sarapan. Aku juga
udah lama nggak sarapan sego boran. Di
Surabaya makannya penyet terus.”
Ketiganya berjalan santai menuju
mbok-mbok penjual sego boran yang
menggelar dagangannya di trotoar. Banyak warga yang juga melakukan aktivitas
tersebut. Lesehan sambil menyantap makanan khas Lamongan dengan lahapnya.
“Minggu depan, kita lari pagi lagi ya
Din.” Kata Deni tiba-tiba.
“Ehem. Dini doang nih?” sindir Lia.
“Hahaha. Iya Lia juga kok.”
“Insya Allah Den.”
“Kalau ada sego boran lagi sih
hayuuuukk.” Sahut Lia.
Dini dan Deni tersenyum simpul sambil
saling menatap. Hari ini, pagi ini, Deni tahu apa yang dia mau. Dan Dini, dia
tahu sudah waktunya mengakhiri masa galaunya.
Lamongan, 31 Agustus 2014
Ditulis untuk memenuhi tantangan #DeskripsiKeringat dari @KampusFiksi. Semoga cukup menyenangkan untuk dibaca. Semoga tidak ada typo. Mohon komentarnya ya KangMin :))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar