“Hei ngelamun aja!
Pagi-pagi udah suntuk gitu mukanya.” Sapa Meris.
“Hmmmm.... iya lagi
males Mer. Tumben kamu pagi banget datangnya?” jawab Renata pelan.
“Sengaja, soalnya aku
belum ngerjakan PR Bahasa Indonesia. Pinjem punyamu dong Na.” kata Meris sambil
memohon kepada Renata. “Kamu mikirin apa Na, kok lemes gitu?” tanya Meris.
“Nggak kenapa-kenapa.
Nih PRnya Mer.”
“Mikirin si Abi ya Na?
Udah tiga minggu Na, lupain ya. Jangan sakitin hati kamu sendiri. Mending kamu
konsen sama sekolah, bentar lagi kan ujian.” Kata Meris mencoba menghibur
temannya yang sedang patah hati.
Yah.... tiga minggu
yang lalu, Abi pacar Renata mengatakan kalau dia sudah tak lagi mencintainya.
Saat itu seakan langit runtuh menimpanya, sakit di hati Renata berdenyut-denyut
perih. Hanya Meris yang datang menghibur dan meyakinkan Renata bahwa dia akan
tetap bahagia tanpa Abi.
Renata begitu mencintai
Abi, menyayanginya setulus yang dia mampu. Jarang ketemu karena lain sekolah
tak pernah menjadi masalah, tapi ternyata sudah dua bulan terakhir Abi dekat
dengan adik kelasnya. Akhir dari semua, Abi memutuskan hubungan mereka yang
sudah dua tahun berjalan. Tak pernah terlintas di otak Renata akan kehilangannya,
tapi kenyataannya adalah dia bukan milik Renata lagi!
Sepulang sekolah, Meris
mengajak Renata makan siang di kafe milik tantenya. Sebenarnya Renata malas,
tapi melihat wajah Meris yang terus memohon akhirnya diapun menurutinnya.
Sesampainya di kafe
tante Meris, terlihat begitu banyak pelanggan. Tante Lenna cantik dan ramah,
tentu saja para pelanggan begitu setia kepadanya. Kepada masakannya juga tentu
saja.
“Hey cantik, mau makan
apa nih?” tanya tante Lenna ramah kepada mereka.
“Mer minta batagor sama
es jeruk aja deh tan. Kamu apa Na?” tanya Meris pada Renata.
“Hmmm... Sama aja ya
tante kayak pesenannya Meris.” Kata Renata sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar ya.” Jawab
tante Meris sambil tersenyum.
Tak lama kemudian
pesanan mereka datang. Bukan tante Lenna yang mengantar tapi orang lain.
“Hei centil, ini
pesanan kamu. Ke sini jauh-jauh mesen batagor doang. Hahahaha.” kata seorang
cowok tiba-tiba.
“Iih emang ada
larangannya?” kata Meris tidak mau kalah dengan cowok tadi. “Nih kenalin
temenku Mon, namanya Renata. Bisa dipanggil Rena atau Nata atau Nana juga
boleh. Ya kan Na? Nih kenalin, anaknya tante Lenna. Namanya Reymon, tapi lebih
terkenal dengan nama Emon. Hahaha.” Kata Meris tertawa.
“Hei Renata, aku
Reymon. Asli Reymon, cuma si centil itu doang yang panggil aku Emon. Panggil
aku Rey ya biar cakepan dikit. Hehehe.”
“Oh oke Rey. Panggil
aku Nana aja.” Jawab Renata singkat.
Begitulah, ternyata
maksud Meris membawa temannya ke kafe tantenya adalah untuk mengenalkannya pada
Reymon. Renata yang sedang sedih karena putus cinta dan Reymon yang sedang
mencari labuhan cintanya.
Hari demi hari berlalu
tanpa gangguan. Reymon semakin dekat dengan Renata. Meris terus memberikan dukungannya
kepada sepupunya untuk menaklukkan hati sahabatnya, walaupun Meris tahu bahwa
hati Renata telah membeku terhadap laki-laki manapun. Tapi Meris tak rela
melihat sahabatnya sedih. Salah satu cara untuk membuat Renata kembali ceria
adalah dengan mendekatkannya kepada Reymon.
“Gimana Mon, ada
perkembangan nggak?” tanya Meris kepada Reymon via telepon.
“Ah temen kamu tuh
kayaknya emang udah nggak mau deket sama cowok Mer. Baik sih sama aku, tapi ya
biasa banget deh. Aku ajakin ketemu juga nggak pernah mau. Mungkin bener kata
kamu, dia terlalu cinta mantannya.” Jawab Reymon di seberang sana.
“Payah kamu. Ayolah
tolongin Nana Mon. Kasihan dia terus-terusan sedih kayak gitu. Aku punya
feeling kalau kamu yang terbaik buat Nana. Nana baik Mon, terlalu baik malah.
Aku juga tahu kamu baik, setia juga. Klop kan? Karena itu aku mau nyomblangin
kamu ke Nana.” Kata Meris kepada Reymon.
Tak ada yang tahu kalau
saat itu Renata sedang berada di depan kamar Meris, mendengarkan semua
percakapan sahabatnya itu tanpa sengaja.
“Meris!” panggil Nana.
“Kamu tega sama aku. Aku nggak butuh belas kasihan kamu Mer. Aku nggak butuh
cinta dari orang lain selain kamu sahabatku. Aku bisa...” belum selesai Renata
berbicara, Meris sudah berlari memeluk Renata dan meminta maaf.
“Maaf Na maaf. Aku
terlalu sayang sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu selalu diam di sekolah. Aku
tahu kalau kamu selama ini hanya pura-pura bahagia. Aku ingin kamu kembali bisa
mencintai seseorang seperti kamu mencintai Abi.” Setelah Meris mengatakan
semuanya, Renata pergi meninggalkan sahabatnya.
“Halo halo Mer. Ada apa
sih kok teriak-teriak?”tanya Reymon di telpon.
“Ntar aku telpon Mon.”
Jawab Meris singkat.
Sejak saat itu
persahabatan keduanya hancur. Renata selalu menghindar jika bertemu dengan
Meris. Reymon ikut merasa bersalah melihat dua sahabat itu saling tidak bertegur
sapa. Berkali-kali dihubunginya Renata tapi selalu tak ada jawaban. Di datangi
ke rumahnya tak pernah mau keluar. Semua jadi begitu sulit untuk dihadapi. Tapi
Reymon tidak putus asa. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini.
“Renata!” tiba-tiba
Reymon sudah berada di sampingnya saat pulang sekolah. “Kita harus bicara Na,
bertiga dengan Meris juga.” Tak ada jawaban dari Renata, dia hanya tersenyum
dan berlalu.
“Renata! Maaf kalau aku
memaksa, tapi kita benar-benar harus mengakhiri semuanya sekarang.” Kata Reymon
sambil menahan tangan Renata.
“Iya Na. Kalau setelah
kita bicara kamu tetap belum memaafkan aku, nggak apa-apa kok. Aku sudah senang
bisa menjadi sahabatmu walau hanya sebentar. Kamu mau kan?” kata Meris berusaha
merayu sahabatnya.
“Oke.” Hanya itu yang
diucapkan oleh Renata. Senyum terlihat di bibir Meris dan Reymon.
Bertiga mereka dalam
diam, menunggu seseorang memulai pembicaraan. Tampak mata Reymon dan Meris
saling menatap gelisah. Waktu terus berlalu tapi tak satupun diantara mereka bicara.
Renatalah yang kemudian memulai pembicaraan.
“Kita sudah di sini
sekarang. Berhari-hari kalian mencariku. Lalu hanya ini yang ingin kalian
jelaskan? Diamnya kalian nggak menjelaskan apapun.” Kata Renata yang nampak
mulai bosan.
“Na, Meris akan menjelaskan
semua kok ke kamu.” kata Reymon.
“Sebelumnya maaf Na.
Aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Malah aku pengen lihat kamu senyum
kayak dulu lagi Na.” Meris memulai penjelasannya. “Waktu kamu sedih gara-gara
Abi, aku juga ikut sedih Na. Kamu berubah jadi pemurung. Saat itu Reymon juga
sedang curhat sama aku kalau pengen banget punya pacar yang baik, manis dan
setia. Dia udah bosen jomblo, bosen pacaran sama cewek yang berpura-pura baik
atau yang menjadi orang lain cuma biar Reymon mau sama mereka. Aku langsung
ingat kamu Na. Salah kalau aku pengen dua orang yang aku sayang mendapat
sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia?” tanya Meris kepada Renata yang
hampir menangis.
“Terus?” tanya Renata
cuek.
“Na, kamu masih marah?
Biar aku saja yang jadi pelampiasan kamu, jangan Meris. Aku yang ingin
dikenalkan sama kamu. Aku peduli dengan cerita kamu dan aku ingin menjadi
penghiburmu.” Kata Reymon mencoba meredam amarah Renata.
“Oke oke. Lalu apa yang
kalian inginkan dari aku? Berteman lagi seperti kemarin?” pertanyaan Renata
cukup mengagetkan kedua temannya. “Hellooo... kenapa diem sih?”
“Na, serius kamu? Na,
kamu udah..”
“Iya. Hehehe... aku
sudah lama maafin kalian kok. Cuma pengen ngetes sekuat apa kalian bertahan
sama jutekku. Sekalian mau kasih pelajaran ke kalian yang udah berani-beraninya
merencanakan sesuatu yang aku nggak tau. Maaf yaaa...” jawaban Renata
benar-benar membuat Reymon dan Meris tercengang. Tak satupun yang sanggup
berbicara menanggapi kata-kata Renata.
“Na!!! Wow. Surprise
banget ya kamu. Ckckck...” hanya itu yang keluar dari bibir Meris dan pelukan
erat tentu saja. “Aku kangen banget sama kamu. Maafin aku ya. Tapi kalau memang
sudah lama kamu maafin aku dan Emon, itu karena apa Na?”
“Karena aku sayang kamu
Mer. Aku juga seneng punya temen kayak Reymon. Memperhatikan kalian berdua
sibuk ngerayu aku tuh heboh banget. Makanya aku sadar kalau nggak ada gunanya
juga aku marah.” Jawab Renata sambil memeluk sahabatnya.
“Hahaha... oke deh. Stop
mesra-mesraannya. Aku akui kamu hebat aktingnya Na.” Kata Reymon memecah
suasana haru itu dengan candanya. “Dan sekarang giliranku dong yang ngomong.”
“Apa?” sahut Renata dan
Meris bersamaan.
“Weits... kompak juga
kalian. Sebenernya aku pengen suasana yang lebih romantis, tapi its oke lah.
Ehmm... Na, aku tahu kamu sayang banget sama Abi. Bahkan hampir mustahil kamu
bisa melupakannya. Tapi ijinkan aku untuk menggantikan Abi. Walaupun aku harus
berubah seperti Abi, aku mau. Demi kamu. Mau jadi pacarku ya Na?”
“Hahaha... kamu mau
jadi seperti Abi? Nggak akan bisa Rey. Dan aku juga nggak akan mau.” Jawab
Renata.
“Tapi aku pengen kamu
juga bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Abi.” Lanjut Reymon.
“Abi dan kamu berbeda.
Abi dengan segala ketampanan dan keseriusannya. Dia memang sudah nyakitin aku,
tapi dia tetap tidak akan tergantikan. Dia adalah Abi dan tetap akan menjadi
Abi. Dia yang sudah ninggalin aku dan tetap akan seperti itu. Aku nggak mau
kamu jadi seperti dia. Karena aku ingin kamu yang apa adanya. Aku lebih suka
Reymon yang lucu seperti biasanya. Kamu mau jadi pacarku seperti Reymon yang
bisa menghiburku setiap hari?” tanya Renata serius.
“Mau Na mau!! Mau
banget!!” jawab Reymon cepat.
“Jangan berubah seperti
Abi ya. Biar dia saja yang menjadi seperti itu. Kamu harus menjadi Reymon yang
seperti hari ini, tidak tergantikan.”
“Pasti Na.”
Yah hari ini jadi hari
yang istimewa buat Reymon dan Renata. Pasangan baru ini diramalkan oleh Meris
akan berbahagia selamanya.
Dan malam minggu
pertama di hari jadian mereka akan dirayakan hanya berdua saja, tanpa ada Meris
si centil itu.
“Kita mau kemana Rey?”
tanya Renata.
“Kok Rey? Ayank dong.
Kan aku pacar kamu sayank...”
“Iiihh genit banget!
Hahaha... Iya ayankku! Kita mau kemana?”
“Mau ke mall, nonton.
Mau?” tanya Reymon.
“Mau!”
Senyum selalu menghiasi
wajah sejoli ini. Sejak film di putar, tangan keduanya tak pernah lepas. Reymon
terus menggenggam tangan Renata seakan-akan Renata akan direbut orang lain. Dan
saat keluar dari bioskop, seseorang menyapa Renata.
“Rena. Kamu sama
siapa?” tanya seorang cowok yang ternyata adalah Abi.
“Abi?? Oh ini sama
Reymon. Kenalin ini Reymon, pacarku. Yank, ini Abi.” Jawab Renata.
“Hai.” Sahut Reymon.
“Pacar kamu? Nggak
salah Ren? Mana mungkin kamu bisa melupakan aku begitu cepat Ren?”
“Sorry bro. Dia punyaku
sekarang.” Jawab Reymon tegas.
“Maaf ya Bi. Aku bukan
pengagummu lagi. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.” Jawab Renata sambil
tersenyum.
“Rena! Rena tunggu
Ren..”
Yah begitulah. Abi
menyesal memutuskan Renata. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Renata bukan lagi
miliknya. Semoga Abi sadar, bahwa hanya Renatalah yang tulus menyayanginya.
Bukan si adik kelasnya itu.
Suatu saat Abi akan
menjadi laki-laki yang lebih pintar. Cinta bukan sesuatu yang bisa dihitung
baik-buruk dan untung-ruginya. Kalau hati sudah memutuskan, maka bertahan
adalah satu-satunya pilihan. Sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Sebelum
segala sesuatunya hilang dan menjadi milik yang lain. Menyesal adalah hal
terakhir dalam hidup yang tak ingin terjadi.
Semoga memenuhi standar @KampusFiksi dan bisa mendapatkan golden tiket event @KampusFiksi reguler. Aamiin! Berharap sekaliiiiii >,<





