Selasa, 22 April 2014

Tak Tergantikan





“Hei ngelamun aja! Pagi-pagi udah suntuk gitu mukanya.” Sapa Meris.
“Hmmmm.... iya lagi males Mer. Tumben kamu pagi banget datangnya?” jawab Renata pelan.
“Sengaja, soalnya aku belum ngerjakan PR Bahasa Indonesia. Pinjem punyamu dong Na.” kata Meris sambil memohon kepada Renata. “Kamu mikirin apa Na, kok lemes gitu?” tanya Meris.
“Nggak kenapa-kenapa. Nih PRnya Mer.”
“Mikirin si Abi ya Na? Udah tiga minggu Na, lupain ya. Jangan sakitin hati kamu sendiri. Mending kamu konsen sama sekolah, bentar lagi kan ujian.” Kata Meris mencoba menghibur temannya yang sedang patah hati.
Yah.... tiga minggu yang lalu, Abi pacar Renata mengatakan kalau dia sudah tak lagi mencintainya. Saat itu seakan langit runtuh menimpanya, sakit di hati Renata berdenyut-denyut perih. Hanya Meris yang datang menghibur dan meyakinkan Renata bahwa dia akan tetap bahagia tanpa Abi.
Renata begitu mencintai Abi, menyayanginya setulus yang dia mampu. Jarang ketemu karena lain sekolah tak pernah menjadi masalah, tapi ternyata sudah dua bulan terakhir Abi dekat dengan adik kelasnya. Akhir dari semua, Abi memutuskan hubungan mereka yang sudah dua tahun berjalan. Tak pernah terlintas di otak Renata akan kehilangannya, tapi kenyataannya adalah dia bukan milik Renata lagi!
Sepulang sekolah, Meris mengajak Renata makan siang di kafe milik tantenya. Sebenarnya Renata malas, tapi melihat wajah Meris yang terus memohon akhirnya diapun menurutinnya.
Sesampainya di kafe tante Meris, terlihat begitu banyak pelanggan. Tante Lenna cantik dan ramah, tentu saja para pelanggan begitu setia kepadanya. Kepada masakannya juga tentu saja.
“Hey cantik, mau makan apa nih?” tanya tante Lenna ramah kepada mereka.
“Mer minta batagor sama es jeruk aja deh tan. Kamu apa Na?” tanya Meris pada Renata.
“Hmmm... Sama aja ya tante kayak pesenannya Meris.” Kata Renata sambil tersenyum.
“Tunggu sebentar ya.” Jawab tante Meris sambil tersenyum.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Bukan tante Lenna yang mengantar tapi orang lain.
“Hei centil, ini pesanan kamu. Ke sini jauh-jauh mesen batagor doang. Hahahaha.” kata seorang cowok tiba-tiba.
“Iih emang ada larangannya?” kata Meris tidak mau kalah dengan cowok tadi. “Nih kenalin temenku Mon, namanya Renata. Bisa dipanggil Rena atau Nata atau Nana juga boleh. Ya kan Na? Nih kenalin, anaknya tante Lenna. Namanya Reymon, tapi lebih terkenal dengan nama Emon. Hahaha.” Kata Meris tertawa.
“Hei Renata, aku Reymon. Asli Reymon, cuma si centil itu doang yang panggil aku Emon. Panggil aku Rey ya biar cakepan dikit. Hehehe.”
“Oh oke Rey. Panggil aku Nana aja.” Jawab Renata singkat.
Begitulah, ternyata maksud Meris membawa temannya ke kafe tantenya adalah untuk mengenalkannya pada Reymon. Renata yang sedang sedih karena putus cinta dan Reymon yang sedang mencari labuhan cintanya.
Hari demi hari berlalu tanpa gangguan. Reymon semakin dekat dengan Renata. Meris terus memberikan dukungannya kepada sepupunya untuk menaklukkan hati sahabatnya, walaupun Meris tahu bahwa hati Renata telah membeku terhadap laki-laki manapun. Tapi Meris tak rela melihat sahabatnya sedih. Salah satu cara untuk membuat Renata kembali ceria adalah dengan mendekatkannya kepada Reymon.
“Gimana Mon, ada perkembangan nggak?” tanya Meris kepada Reymon via telepon.
“Ah temen kamu tuh kayaknya emang udah nggak mau deket sama cowok Mer. Baik sih sama aku, tapi ya biasa banget deh. Aku ajakin ketemu juga nggak pernah mau. Mungkin bener kata kamu, dia terlalu cinta mantannya.” Jawab Reymon di seberang sana.
“Payah kamu. Ayolah tolongin Nana Mon. Kasihan dia terus-terusan sedih kayak gitu. Aku punya feeling kalau kamu yang terbaik buat Nana. Nana baik Mon, terlalu baik malah. Aku juga tahu kamu baik, setia juga. Klop kan? Karena itu aku mau nyomblangin kamu ke Nana.” Kata Meris kepada Reymon.
Tak ada yang tahu kalau saat itu Renata sedang berada di depan kamar Meris, mendengarkan semua percakapan sahabatnya itu tanpa sengaja.
“Meris!” panggil Nana. “Kamu tega sama aku. Aku nggak butuh belas kasihan kamu Mer. Aku nggak butuh cinta dari orang lain selain kamu sahabatku. Aku bisa...” belum selesai Renata berbicara, Meris sudah berlari memeluk Renata dan meminta maaf.
“Maaf Na maaf. Aku terlalu sayang sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu selalu diam di sekolah. Aku tahu kalau kamu selama ini hanya pura-pura bahagia. Aku ingin kamu kembali bisa mencintai seseorang seperti kamu mencintai Abi.” Setelah Meris mengatakan semuanya, Renata pergi meninggalkan sahabatnya.
“Halo halo Mer. Ada apa sih kok teriak-teriak?”tanya Reymon di telpon.
“Ntar aku telpon Mon.” Jawab Meris singkat.
Sejak saat itu persahabatan keduanya hancur. Renata selalu menghindar jika bertemu dengan Meris. Reymon ikut merasa bersalah melihat dua sahabat itu saling tidak bertegur sapa. Berkali-kali dihubunginya Renata tapi selalu tak ada jawaban. Di datangi ke rumahnya tak pernah mau keluar. Semua jadi begitu sulit untuk dihadapi. Tapi Reymon tidak putus asa. Dia harus segera menyelesaikan masalah ini.
“Renata!” tiba-tiba Reymon sudah berada di sampingnya saat pulang sekolah. “Kita harus bicara Na, bertiga dengan Meris juga.” Tak ada jawaban dari Renata, dia hanya tersenyum dan berlalu.
“Renata! Maaf kalau aku memaksa, tapi kita benar-benar harus mengakhiri semuanya sekarang.” Kata Reymon sambil menahan tangan Renata.
“Iya Na. Kalau setelah kita bicara kamu tetap belum memaafkan aku, nggak apa-apa kok. Aku sudah senang bisa menjadi sahabatmu walau hanya sebentar. Kamu mau kan?” kata Meris berusaha merayu sahabatnya.
“Oke.” Hanya itu yang diucapkan oleh Renata. Senyum terlihat di bibir Meris dan Reymon.
Bertiga mereka dalam diam, menunggu seseorang memulai pembicaraan. Tampak mata Reymon dan Meris saling menatap gelisah. Waktu terus berlalu tapi tak satupun diantara mereka bicara. Renatalah yang kemudian memulai pembicaraan.
“Kita sudah di sini sekarang. Berhari-hari kalian mencariku. Lalu hanya ini yang ingin kalian jelaskan? Diamnya kalian nggak menjelaskan apapun.” Kata Renata yang nampak mulai bosan.
“Na, Meris akan menjelaskan semua kok ke kamu.” kata Reymon.
“Sebelumnya maaf Na. Aku nggak ada maksud buat nyakitin kamu. Malah aku pengen lihat kamu senyum kayak dulu lagi Na.” Meris memulai penjelasannya. “Waktu kamu sedih gara-gara Abi, aku juga ikut sedih Na. Kamu berubah jadi pemurung. Saat itu Reymon juga sedang curhat sama aku kalau pengen banget punya pacar yang baik, manis dan setia. Dia udah bosen jomblo, bosen pacaran sama cewek yang berpura-pura baik atau yang menjadi orang lain cuma biar Reymon mau sama mereka. Aku langsung ingat kamu Na. Salah kalau aku pengen dua orang yang aku sayang mendapat sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia?” tanya Meris kepada Renata yang hampir menangis.
“Terus?” tanya Renata cuek.
“Na, kamu masih marah? Biar aku saja yang jadi pelampiasan kamu, jangan Meris. Aku yang ingin dikenalkan sama kamu. Aku peduli dengan cerita kamu dan aku ingin menjadi penghiburmu.” Kata Reymon mencoba meredam amarah Renata.
“Oke oke. Lalu apa yang kalian inginkan dari aku? Berteman lagi seperti kemarin?” pertanyaan Renata cukup mengagetkan kedua temannya. “Hellooo... kenapa diem sih?”
“Na, serius kamu? Na, kamu udah..”
“Iya. Hehehe... aku sudah lama maafin kalian kok. Cuma pengen ngetes sekuat apa kalian bertahan sama jutekku. Sekalian mau kasih pelajaran ke kalian yang udah berani-beraninya merencanakan sesuatu yang aku nggak tau. Maaf yaaa...” jawaban Renata benar-benar membuat Reymon dan Meris tercengang. Tak satupun yang sanggup berbicara menanggapi kata-kata Renata.
“Na!!! Wow. Surprise banget ya kamu. Ckckck...” hanya itu yang keluar dari bibir Meris dan pelukan erat tentu saja. “Aku kangen banget sama kamu. Maafin aku ya. Tapi kalau memang sudah lama kamu maafin aku dan Emon, itu karena apa Na?”
“Karena aku sayang kamu Mer. Aku juga seneng punya temen kayak Reymon. Memperhatikan kalian berdua sibuk ngerayu aku tuh heboh banget. Makanya aku sadar kalau nggak ada gunanya juga aku marah.” Jawab Renata sambil memeluk sahabatnya.
“Hahaha... oke deh. Stop mesra-mesraannya. Aku akui kamu hebat aktingnya Na.” Kata Reymon memecah suasana haru itu dengan candanya. “Dan sekarang giliranku dong yang ngomong.”
“Apa?” sahut Renata dan Meris bersamaan.
“Weits... kompak juga kalian. Sebenernya aku pengen suasana yang lebih romantis, tapi its oke lah. Ehmm... Na, aku tahu kamu sayang banget sama Abi. Bahkan hampir mustahil kamu bisa melupakannya. Tapi ijinkan aku untuk menggantikan Abi. Walaupun aku harus berubah seperti Abi, aku mau. Demi kamu. Mau jadi pacarku ya Na?”
“Hahaha... kamu mau jadi seperti Abi? Nggak akan bisa Rey. Dan aku juga nggak akan mau.” Jawab Renata.
“Tapi aku pengen kamu juga bisa mencintai aku seperti kamu mencintai Abi.” Lanjut Reymon.
“Abi dan kamu berbeda. Abi dengan segala ketampanan dan keseriusannya. Dia memang sudah nyakitin aku, tapi dia tetap tidak akan tergantikan. Dia adalah Abi dan tetap akan menjadi Abi. Dia yang sudah ninggalin aku dan tetap akan seperti itu. Aku nggak mau kamu jadi seperti dia. Karena aku ingin kamu yang apa adanya. Aku lebih suka Reymon yang lucu seperti biasanya. Kamu mau jadi pacarku seperti Reymon yang bisa menghiburku setiap hari?” tanya Renata serius.
“Mau Na mau!! Mau banget!!” jawab Reymon cepat.
“Jangan berubah seperti Abi ya. Biar dia saja yang menjadi seperti itu. Kamu harus menjadi Reymon yang seperti hari ini, tidak tergantikan.”
“Pasti Na.”
Yah hari ini jadi hari yang istimewa buat Reymon dan Renata. Pasangan baru ini diramalkan oleh Meris akan berbahagia selamanya.
Dan malam minggu pertama di hari jadian mereka akan dirayakan hanya berdua saja, tanpa ada Meris si centil itu.
“Kita mau kemana Rey?” tanya Renata.
“Kok Rey? Ayank dong. Kan aku pacar kamu sayank...”
“Iiihh genit banget! Hahaha... Iya ayankku! Kita mau kemana?”
“Mau ke mall, nonton. Mau?” tanya Reymon.
“Mau!”
Senyum selalu menghiasi wajah sejoli ini. Sejak film di putar, tangan keduanya tak pernah lepas. Reymon terus menggenggam tangan Renata seakan-akan Renata akan direbut orang lain. Dan saat keluar dari bioskop, seseorang menyapa Renata.
“Rena. Kamu sama siapa?” tanya seorang cowok yang ternyata adalah Abi.
“Abi?? Oh ini sama Reymon. Kenalin ini Reymon, pacarku. Yank, ini Abi.” Jawab Renata.
“Hai.” Sahut Reymon.
“Pacar kamu? Nggak salah Ren? Mana mungkin kamu bisa melupakan aku begitu cepat Ren?”
“Sorry bro. Dia punyaku sekarang.” Jawab Reymon tegas.
“Maaf ya Bi. Aku bukan pengagummu lagi. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.” Jawab Renata sambil tersenyum.
“Rena! Rena tunggu Ren..”
Yah begitulah. Abi menyesal memutuskan Renata. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Renata bukan lagi miliknya. Semoga Abi sadar, bahwa hanya Renatalah yang tulus menyayanginya. Bukan si adik kelasnya itu.
Suatu saat Abi akan menjadi laki-laki yang lebih pintar. Cinta bukan sesuatu yang bisa dihitung baik-buruk dan untung-ruginya. Kalau hati sudah memutuskan, maka bertahan adalah satu-satunya pilihan. Sebelum segala sesuatunya menjadi terlambat. Sebelum segala sesuatunya hilang dan menjadi milik yang lain. Menyesal adalah hal terakhir dalam hidup yang tak ingin terjadi.



Semoga memenuhi standar dan bisa mendapatkan golden tiket event reguler. Aamiin! Berharap sekaliiiiii >,<

Sabtu, 05 April 2014

Wajah Yang Selalu Tersenyum




Aku menyapanya tante Anne. Seorang ibu dengan satu anak perempuan. Tinggal tepat di sebelah rumah nenekku, bersama ibu, anak dan adik laki-lakinya. Tanpa suami.
Tante Anne adalah seorang ibu yang istimewa. Beliau memiliki raut wajah yang selalu tersenyum. Ramah kepada siapapun yang ditemuinya. Tak segan untuk berkomentar tentang apa saja yang terjangkau oleh pandangannya. Beliau menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu.
Demi bersekolah di SMA favorit, aku memilih berpisah dengan orang tuaku dan tinggal bersama kakek dan nenek. Sejak saat itulah aku menjadi tetangga tante Anne. Aku menemukan banyak hal istimewa dalam diri beliau. Keistimewaan itu membuatku tak lelah untuk mencari tahu apa makna sebenarnya dibalik senyuman yang tiada henti menghiasi wajahnya.
Tante Anne cantik. Tinggi semampai dan berkulit putih. Rambutnya ikal hitam sebahu. Alis matanya lebat, matanya sayu seperti menahan kesedihan. Tulang pipinya menonjol. Bibirnya padat namun pucat. Perpaduan itu kontras dengan senyuman yang selalu beliau tampilkan. Akhirnya aku menyadari sesuatu, beliau menyimpan lara dibalik senyumnya. Dari matanya aku sadari itu.
Aku mendengar semua cerita masa lalu tante Anne dari nenekku. Siapa yang menduga bahwa seorang ibu yang baik hati dan murah senyum seperti tante Anne ternyata memiliki masa lalu yang menyakitkan. Pantas jika aku selalu menemukan mata yang seperti tanpa kehidupan itu semakin hari semakin layu.
Sembilan belas tahun yang lalu, saat usia tante Anne masih muda, beliau jatuh cinta. Belum lama menjalin hubungan, tante Anne pergi bersama pemuda itu. Namun ada hal aneh yang kemudian terjadi. Selama satu minggu tante Anne tidak pulang ke rumah. Semua keluarga panik mencarinya.
Kepulangan mereka berdua disambut amarah. Tanpa bisa menolak, keduanya dinikahkan secepatnya. Pasangan kekasih itu tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan orang tua tante Anne. Singkat cerita, keduanya melaksanakan pernikahan dan hidup bahagia dengan dua orang anak. Namun di dunia ini tidak ada yang abadi, begitu juga dengan kebahagiaan.
Donny adalah anak kedua tante Anne, dia meninggal saat berumur tiga tahun. Tante Anne menyalahkan dirinya sendiri, karena semua terjadi akibat kelalaiannya.
Kejadiannya pagi hari saat tante Anne berlibur bersama suami dan kedua anaknya. Saat itu tante Anne membawa Diana dan Donny ke pantai. Kejadiannya sangat cepat, Donny berlari-lari menjauhi mamanya dan terseret ombak. Beruntung orang-orang dengan sigap menolongnya. Donny selamat. Keesokan harinya badan Donny demam. Kata dokter Donny baik-baik saja dan bisa beristirahat di rumah. Saat tidur siang berdua dengan mamanya, lagi-lagi musibah terjadi. Donny jatuh dari tempat tidur tanpa diketahui sang mama. Sejak saat itu, Donny tak lagi membuka matanya.
Tante Anne menyesal berhari-hari. Kehidupannya berubah dipenuhi dengan penyesalan. Setahun sejak kepergian Donny, penyesalan itu masih membayanginya. Lalu lagi-lagi musibah terjadi. Suami tante Anne pergi meninggalkannya entah kemana. Pagi itu seperti biasanya, suami tante Anne pamit untuk berangkat bekerja. Namun suami tante Anne belum juga pulang sampai gelap menyelimuti bumi. Sehari, dua hari tante Anne menunggu, suaminya tak pernah kembali.
Musibah yang datang bertubi-tubi dalam hidup tante Anne telah mengubah segalanya. Dia tak lagi bisa tersenyum seperti biasa. Lipstik dan bedak tak pernah lagi menyapu wajah cantiknya. Bahkan Diana mulai tidak mengenali mamanya. Putri semata wayangnya kini lebih senang digendong pamannya, dia lebih memilih disuapi neneknya. Diana kecil tak lagi mau disentuh mamanya.
Dua luka yang mengoyak hati tante Anne belum sembuh benar dan ada satu luka lagi yang menyayat permukaan luka lamanya. Kenyataan bahwa Diana menjauhinya membuat tante Anne terpuruk lebih dalam. Sekarang beliau lebih senang menyendiri di kamar. Menangis dan terdiam dengan sendirinya. Beliau takut menantang dunia, takut terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi di hidupnya.
Orang tua dan adik laki-laki tante Anne juga menambah kesunyian jiwanya. Mereka seperti ikut menyalahkan tante Anne. Maksud hati ingin mendidik Diana jauh lebih baik namun yang terjadi malah menjauhkan buah hati dari mamanya. Tante Anne masih tinggal serumah dengan Diana, namun secara naluri keibuannya beliau merasa Diana sangat jauh dari dirinya.
Diana tumbuh menjadi gadis yang cantik, seperti mamanya saat muda. Diana remaja sangat lincah. Tante Anne bahagia melihat pertumbuhan putrinya, namun rasa bahagia itu tidak berhasil mengembalikannya ke kondisi semula. Tante Anne sudah terlanjur jatuh ke lubang kesedihan hingga tak lagi bisa keluar.
Tante Anne berubah dan bersikap aneh. Sebuah senyuman sering muncul di wajahnya untuk siapa saja yang dia temui. Sikapnya jauh lebih ramah dari biasanya. Orang-orang mulai menganggapnya gila. Tapi tante Anne tidak gila, beliau hanya mencoba menjadi sosok yang lain. Sosok yang mungkin lebih disukai putrinya. Menjadi pribadi yang menyenangkan dan perhatian kepadanya. Namun perubahan yang beliau lakukan tak sedikitpun mendapat persetujuan Diana.
Semakin hari hubungan Diana dengan tante Anne semakin memburuk. Tante Anne menyadari itu tapi beliau tidak mau kembali bersedih. Beliau menanggapi dinginnya sikap Diana sebagai kewajaran.
Aku mulai dekat dengan tante Diana sejak tinggal bersama nenek dan kakekku. Setelah aku tahu semua cerita masa lalu tante Anne, aku tidak merasa takut ataupun malu bergaul dengan beliau. Apalagi saat aku tahu bagaimana sikap Diana kepada mamanya.
Hari itu sepulang sekolah aku bertemu tante Anne di depan rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, aku menghampiri beliau terlebih dahulu. “Baru pulang La?” sapa tante Anne.
“Iya. Tante ngapain di sini?” tanyaku sambil mencium tangan beliau.
“Nggak ngapain-ngapain. Bosen di dalem terus.” Saat itulah aku melihat Diana yang juga baru pulang kuliah melakukan hal yang membuatku kecewa.
“Hai La, baru pulang sekolah kamu?” sapa Diana.
“Iya kak.” Jawabku santai.
“Capek Din?” tanya tante Anne kepada Diana.
“Ya iyalah capek. Otak kalau buat mikir ya capek.” Jawab Diana ketus. “La, aku masuk duluan ya.”
“Iya kak.” Aku masih terkejut mendengar suara ketus Diana.
“Hehehe. Diana memang gitu, kalau ngomong suka ceplas-ceplos.” Kata tante Diana seolah mengerti keterkejutanku. “Kamu pulang sana, nanti dicariin nenek lho.”
“I.. iya.. iya tante.” Aku masih kaget. “Lila pulang dulu ya.”
Dan entah bagaimana caranya, sejak saat itu seakan-akan Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat ketusnya bibir Diana jika sedang berbicara dengan mamanya.
Minggu pagi. Seperti biasanya, tante Anne sedang jalan-jalan sekitar gang. Setelah itu beliau duduk di depan rumah sambil menyapa siapa saja yang lewat. Aku pun menghampiri tante Anne. “Pagi tante. Udahan jalan-jalannya?” sapaku.
“Iya, udah capek La. Kamu abis lari pagi ya?”
“Iya. Jarang-jarang kan bisa lari pagi. Mumpung hari Minggu.”
Kami berdua asyik mengobrol. Sebenarnya aku lebih banyak mendengarkan beliau sih karena tante Anne bercerita dengan riang. Kemudian datanglah Diana.
“Ma, kamu mau nitip lontong nggak? Aku mau keluar disuruh nenek beli lontong buat sarapan nih.” Lagi-lagi nada suara Diana sangat ketus.
“Iya mau. Tapi jangan dicampur ya sambelnya Din. Suruh pisahin aja sambelnya.” Kata tante Anne.
“Ya udah Ma, nggak usah pake sambel aja. Ribet deh.” Aku hanya tertunduk mendengarkan setiap kata yang meluncur dari bibir Diana. “La, pergi dulu ya.” Kata Diana sambil tersenyum.
Diana selalu ramah kepadaku dan semua orang. Tapi tabiatnya berubah buruk saat menghadapi mamanya. Aku sebagai seorang anak yang hidup jauh dari orang tua tentu saja merasa kecewa dengan sikap tersebut.
Kesedihan tante Anne seolah tak pernah usai. Selain sikap Diana yang menyakitkan, sikap ibu dan adiknya juga tak jauh berbeda. Aku kerap melihat wajah adik tante Anne mengeras saat berbicara kepada beliau. Contohnya saja saat adik tante Anne meminta beliau agar masuk ke dalam rumah karena adzan Maghrib mulai berkumandang.
“Hei, Anne! Masuk. Nggak denger ya kalau udah Maghrib. Masih aja di luar.” Kata adik tante Anne.
Aku yang melihat kejadian itu dari jauh sontak terkejut. Aku merasakan kesedihan yang mungkin juga dirasakan tante Anne.
Malam Jumat biasanya di kompleks rumah selalu mengadakan pengajian. Malam itu giliran rumah tante Anne yang menjadi lokasi pengajian. Sebagai tetangga yang rumahnya bersebelahan, aku dan nenekku datang lebih awal dengan niat ingin membantu. Satu persatu tetangga mulai berdatangan. Tante Anne yang dari tadi duduk diam di kursi sebelah kamar pindah ke depan dan ikut berbaur dengan ibu-ibu lainnya. Namun sebelum tante Anne duduk di tikar, ibu beliau mencegahnya.
“Eh Anne kamu mau kemana? Di dalam saja, nanti biar ibu yang keluar. Kamu di kamar saja.” Kata ibu tante Anne yang biasa aku panggil Nek Sar.
“Ya ndak apa-apa tho mbak Yu kalau Anne mau ikut ngaji, kan malah bagus.” Sahut nenekku.
“Duh ya jangan, biar Anne di dalam saja.” Jawab Nek Sar.
Aku dan nenek berpandang-pandangan. Seakan aku tak ingin percaya kepada mata dan telingaku sendiri. Diam-diam dadaku sesak. Jika memang tidak ada yang mau berbuat baik kepada tante Anne, biarlah aku yang melakukannya.
Semakin hari aku semakin dekat dengan tante Anne. Syukurlah beliau terlihat baik-baik saja. Mungkin hatinya sudah mati rasa mendapat perlakuan yang kurang baik dari keluarganya sendiri. Sungguh mulia hati beliau. Jika memang segala musibah yang pernah menghampiri hidupnya adalah benar karena  kesalahannya, aku berharap baik tante Anne maupun keluarganya mau memaafkan dan merubah sikap.
Aku bertemu ibu dan ayah hanya sebulan sekali. Saat aku mendapat kesempatan bertemu dengan ibu, aku menceritakan semua tentang tante Anne. Syukurlah, ibuku memiliki pemikiran yang sama denganku. Ibu memintaku untuk meluangkan waktu dan menemani tante Anne sekedar berbincang-bincang.
Tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah aku selalu menyempatkan diri untuk sekedar menyapa tante Anne. Seperti pagi itu.
“Nek Sar, tante Anne kemana kok tumben nggak di luar?” tanyaku.
“Ada apa La kok pagi-pagi nyari Anne?”
“Nggak apa-apa nek, cuma pengen nyapa aja kok.”
“Lila cari tante?” tiba-tiba tante Anne sudah muncul di ambang pintu dengan senyumnya yang khas. “Ada apa?”
“Nggak apa-apa tante. Lila mau berangkat sekolah nih. Nanti ada ulangan Bahasa Indonesia, doain Lila ya semoga bisa ngerjain soal-soalnya.” Kataku sambil mencium tangan tante Anne dan nenek Sar. “Berangkat dulu ya tante. Assalamuallaiku.”
Lirih aku mendengar tante Anne membalas salamku, “Wallaikumsalam Lila.” Aku tersenyum.
Tak apalah jika Diana belum bisa menerima kembali mamanya dengan  sosoknya yang baru. Biarkan aku yang memberikan perhatian seorang anak kepada beliau. Aku hanya ingin tante Anne merasakan betapa bahagianya saat tangan beliau dicium oleh putrinya. Aku hanya ingin beliau merasakan keharuan saat putrinya datang dan meminta restunya. Biarlah aku yang menunjukkan rasa itu jika memang Diana belum mampu.
Aku senang bisa mengenal tante Anne, dekat dengannya dan berbagi kebahagiaan berdua. Sampai tiba di satu waktu saat Diana menikah dengan laki-laki pilihannya. Kebahagiaan datang dan hinggap di hati tante Anne. Ibu mana yang tidak bahagia menyaksikan pernikahan anaknya? Tante Anne sangat tidak sabar menanti hari bahagia itu tiba. Namun lagi-lagi tante Anne harus bersabar.
Pernikahan itu dilaksanakan di rumah penganti pria. Yang mengherankan, tante Anne dilarang datang. Belakangan tante Anne tahu alasannya yaitu karena suaminya, yang sudah belasan tahun lamanya menghilang, juga hadir di sana. Bersama istri barunya dan anak gadis mereka. Nenek Sar dan Diana tidak mau terjadi sesuatu jika sampai tante Anne bertatap muka dengan suaminya itu. Luruhlah hati tante Anne. Disaat semua orang hadir dan bahagia dengan pernikahan Diana, tante Anne hanya berdiam diri di rumah ditemani adik laki-lakinya.
Sepulang dari resepsi pernikahan, aku menemui tante Anne. Betapa terkejutnya aku melihat beliau malah sibuk mencuci baju. “Tante ngapain?”
“Nyuci La. Gimana acaranya?” tanya beliau dengan wajah tersenyum.
“Rame.” Jawabku singkat.
Hatiku hancur melihat tante Anne. Seorang ibu yang harus menanggung semua kesedihan ini sendiri dan terus berjuang untuk sebuah senyuman.
Hari ini adalah empat puluh hari meninggalnya tante Anne. Untuk pertama kalinya aku mendengar dan melihat bagaimana kesedihan menggantung di wajah Diana. Sambil mengayun-ayunkan anaknya masih berusia dua bulan, Diana bercerita kepadaku.
“Semua orang berfikir aku nggak sedih dengan kepergian mamaku La. Padahal di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku hancur.” Diana menatapku. “Selama ini aku nggak pernah bersikap baik kepada mama. Tapi jujur ya La, suamiku membuatku sadar, betapa berharganya mama buatku. Suamiku berulang kali menegur sikapku ke mama. Aku beruntung bisa menjadi istrinya. Aku sadar, selama ini aku memperparah kondisi mama. Mama dengan segala luka dari masa lalunya, tapi aku malah menjauhinya. Aku jahat ya La.” Mata Diana berkaca-kaca.
“Sudah kak, kan akhir-akhir ini kakak mulai menyadari kesalahan itu. Tante Anne selalu memamerkan daster-daster yang dibelikan kakak lho. Tante Anne juga cerita kalau kakak sering kasih uang jajan dan jadi sering ngajak ngobrol. Aku yakin tante Anne bahagia kak sekarang. Menjelang akhir hayatnya, beliau bisa akur dengan putri kesayangannya.” Jawabku sambil menahan air mata.
“Makasih ya La, selama ini kamu yang gantiin aku untuk nunjukkin bakti seorang anak kepada ibunya. Makasih ya La.” Aku tahu, Diana tulus mengatakan itu.
Aku memanggilnya tante Anne. Bagiku beliau adalah seorang ibu yang istimewa. Beliau adalah seorang ibu yang luar biasa. Pengorbanannya untuk terus menyayangi putri satu-satunya itu kini terbayar sudah. Buatku tante Anne sangat istimewa. Dibalik semua kekurangannya, beliau mengajarkanku tentang sebuah kesabaran dan ketulusan. Beliau memperlihatkan kepadaku bagaimana rasa sayang seorang ibu kepada anaknya yang tanpa cacat.
Diana juga sudah memberiku pelajaran berharga. Dengan melihat Diana, aku sadar bahwa orang tua adalah harta yang tak ternilai harganya. Seburuk apapun orang tua kita, mereka adalah orang-orang yang sudah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita.
Aku jadi kangen sama ibu dan ayah di rumah. Sebagian besar waktuku sekarang habis tanpa menemani mereka. Masih seminggu lagi aku bisa bertemu orang tuaku. semoga Allah selalu melindungi ibu dan ayah. Semoga Allah memberikan tempat terindah buat tante Anne.
Tante, damailah di sana. Lihatlah putrimu, dia kehilanganmu. Dia kini sadar, betapa berartinya dirimu untuknya.
Tante, tersenyumlah di atas sana. Maafkan masalalumu.


 


 
Lamongan, 20 Desember 2013
Ayu Pinaringan Wilujeng



NB. Naskah cerpen ini dua kali dikirim sebagai peserta lomba. Yang pertama kalah dalam lomba cerpen #EverlastingWomen. Yang kedua ikutan lomba lagi di penerbit lain setelah diedit di beberapa bagian. Penerbit ini mengaku sebagai Miz*n tapi HOAX. Naskah sudah terlanjur dikirim dan dua hari kemudian baru tahu. SEDIH!!! Sengaja di posting di blog ini biar kalau suatu hari nanti naskah itu terbit, pembaca tahu itu pencurian karya orang lain!
 


sumber: http://infolombanulis.blogspot.com/2014/03/lomba-menulis-cerpen-2014-penerbit.html

#emosi #sedih #sebel

#DeskripsiSetting KAMPUS FIKSI




Jumlah sepeda motor di parkiran sekolahku masih bisa dihitung dengan jari. Masih terlalu pagi untuk sampai di sekolah, tapi biarlah. Saat ini aku memang sedang membutuhkan suasana sepi. Pak Jo, penjaga sekolah, masih sibuk membersihkan halaman dari daun-daun bougenville yang berguguran. Padahal biasanya dia menjaga gerbang saat aku sampai di depan sekolah. Hari benar-benar masih pagi. Motorku pagi ini kuparkir di baris paling depan, bukan di ujung belakang seperti biasanya, karena aku datang lebih awal. Helm kulepas dan kugantung di spion motor. Rambut panjangku agak berantakan, biar nanti aku sisir di dalam kelas saja. Tapi malas rasanya masuk ke kelas sekarang, sudah pasti aku akan sendirian di sana. Kuputuskan untuk duduk di atas motor, menikmati sepi.
Parkiran sekolahku cukup luas, memiliki atap sebagai pelindung dari seng. Kalau siang panasnya menyengat, tapi kalau hujan sepeda motor kami semua selamat. Lantai parkiran dilapisi paving berbentuk bulat. Ada satu pohon bougenville besar di depan parkiran ini, biasanya teman-temanku suka bergerombol di sana sebelum masuk kelas. Reflek kulirik ke ujung belakang parkiran, motor Satria warna kuning yang biasa kulihat di sana sekarang tidak ada. Lebih tepatnya belum ada. Seperti ada lubang di hatiku saat melihat motor kuning itu tidak ada, tapi diam-diam aku bersyukur. Bagus aku tidak melihat motor itu, artinya aku bisa menghindari si pemilik motor kuning itu pagi ini. Aduh Dewi, lupakan motor kuning jelek itu. Lupakan juga pemiliknya yang sudah mencabik hatimu!



Betapa kagetnya aku melihat motor Scoopy berstiker kodok hijau terparkir di baris paling depan parkiran sekolah. Harusnya motor itu parkir di ujung belakang sana, di sebelah motorku yang gagah. Pemiliknya pasti datang paling awal. Jika tidak, mana mungkin motor ini mendapat tempat parkir paling depan. Bahkan dia tidak memarkir motornya di tempat yang biasanya, dia pasti menghindariku. Beberapa teman menyapaku. Mereka keluar dari parkiran dan bergegas pergi ke kelas. Suasana di parkiran sangat ramai, semuanya berlomba-lomba mendapatkan tempat untuk motornya.
Hari sudah siang. Sepuluh menit lagi bel masuk berdering. Hawa di parkiran sekolahku begitu menyengat. Ini pasti efek seng yang digunakan sebagai atap parkiran. Benar saja, saat kulihat ke atas atap seng itu berkilau-kilau tersengat matahari. Kutuntun perlahan motor kebanggaanku. Jumlah motor di parkiran sangat banyak, tertata rapi dan berbaris urut. Jika ada motor yang ditinggalkan pemiliknya berbaris tidak rapi, dijamin nanti sepulang sekolah ban depannya sudah kempes. Motor yang berbaris rapi inipun masih membuatku berusah payah memarkir motorku sendiri di posisi yang benar. Apalagi beberapa siswa yang bergerombol di bawah bougenville tua yang tumbuh tepat di depan parkiran. Mereka menghambat laju keluar dan masuk ke parkiran. Biasanya aku tidak akan segondok ini melihat kelakuan mereka di sana, tapi pagi ini berbeda. Dari rumah perasaanku sudah tidak karuan. Aku tahu Dewi marah. Tapi dia salah paham. Aku hanya membantu Lily. Aku harus menjelaskan semuanya nanti.












Hampir saja aku terlambat sampai di sekolah. Ini semua gara-gara peristiwa semalam. Aku menangis sampai larut. Oh jangan gara-gara aku lalu hubungan mereka memburuk. Aku harus mencari tahu. Biasanya mereka berdua ada di parkiran sebelum masuk ke kelas. Tertawa dan bergandengan tangan di bawah pohon bougenville bersama teman-teman. Semoga aku bisa menemukan mereka di sana. Pak Jo terlihat galak ketika menyuruh kami bergegas masuk ke kelas. Wajar saja, sebentar lagi bel berbunyi. Sekolahku asri, terik matahari pagi jadi tidak terlalu menyengat karena ada banyak pohon di sini.
Memasuki area parkiran motor, hawa panas mulai menyerang. Harusnya sekolah mengganti atap seng ini dengan bahan fiber. Setidaknya bisa mengurangi terik matahari yang menyengat ini. Kuedarkan pandangan mencari sosok Angga dan Dewi. Nihil. Yang aku lihat hanya motor Dewi. Motor Angga ada di ujung paling belakang. Kuning cerah, sangat mudah dikenali. Motor dua sejoli ini berpisah, apakah mereka juga berpisah? Aduh, semua salahku. Aku diam termangu di tengah parkiran sekolah ini. Membiarkan siswa lain menegur dan mendorongku menjauh. Suasananya sangat ramai, tapi tiba-tiba aku merasakan kesepian. Dewi sahabatku, dia pasti membenciku. Maafkan aku ya Wi. Bukan maksudku seperti itu. Aku keluar dari parkiran. Menghela nafas panjang dan bersiap masuk ke kelas. Bagaimanapun sikap Dewi nanti, aku memang bersalah. Satu bunga bougenville berwarna merah muda jatuh di bahuku. Semoga bunga cantik ini adalah bunga keberuntunganku.