Minggu, 31 Agustus 2014

#DeskripsiKeringat



MINCE
(Minggu Ceria)

Hari masih gelap. Sinar matahari di timur bahkan belum nampak merah. Adzan subuh baru saja berkumandang, Dini yang dari semalam terjaga bersiap mengambil air wudhu.
Air di bak kamar mandi begitu dingin. Dini semakin kehilangan rasa kantuknya. Ini bukan yang pertama, penyakit insomnianya semakin parah saja. Padahal sepulang sekolah kemarin dia mengikuti Pramuka hingga sore. Malamnya dia datang ke acara ulang tahun Ria hingga larut. Semua lelah yang dia dapat tidak juga meruntuhkan kekuatan kelopak matanya. Dua buku habis sudah dia lahap dalam semalam. Dan lagi-lagi, Dini harus menyerah melawan tangguhnya sang kelopak mata.
Selesai shalat Subuh Dini terdiam. Dia teringat kawan lamanya, Lia. Dini dan Lia sudah berteman sejak di bangku Sekolah Dasar. Namun di SMA, mereka berpisah sekolah.
“Ini kan Minggu. Ajak Lia mince seru nih! Udah bangun belum tuh anak?” Dini tergesah melepas mukenah dan melipatnya rapi. Diraihnya smartphone yang tergeletak di atas bantal. “Lia.. ketemu!” Dini menyentuh gambar gagang telfon berwarna biru di screen Hpnya.
“Hmmm....” Terdengar sahutan.
“Lia! Ini Dini. Masih tidur ya?” tanya Dini bersemangat.
“Hmmm... kenapa Din?” tanya Lia tanpa semangat.
“Mince yuk! Minggu nih.”
“Mince?”
“Minggu Ceria Lia. Ayo dong! Aku jemput ya setengah jam lagi. Hehehe.”
“Kamu  tuh, dari dulu tukang maksa.”
“Ayolah, temenmu butuh hiburan nih.”
“Alaaah... galau mulu hidupmu Din.”
“Setengah jam lagi yaaaaaa!”
“Iyeeeee!!”
Dan Dini bergegas mandi serta berganti baju.

Sudah lama Dini tidak lagi mince di alun-alun kota. Padahal dulu waktu SMP, hampir setiap hari Minggu dia dan Lia mince sambil ngeceng mas-mas basket. Dini memilih kaos sambil berdendang. Dia sudah tidak sabar sampai di alun-alun.
Setengah jam kemudian Dini sudah siap dengan Beat putihnya. Kaos hitam, celana biru selutut dan sandal japit sudah rapi menempel di tubuhnya. Dini siap menjemput sang kawan.
Ternyata Lia sudah siap di teras  rumahnya. Sambil menunggu Dini, dia asyik mendengarkan musik. Headset besar terpasang mantap di kepalanya. Melihat kedatangan Dini, Lia tersenyum dan bergegas menghampiri.
“Lama ya kita nggak mince. Ikut senam apa ngeceng doang?”
“Senam dong. Hahaha.” Dua sohib itupun dengan senyum cerah mengarungi Kota Lamongan yang masih lenggang.
Alun-alun kota sudah penuh oleh warga. Seorang instruktur senam nampak sedang sibuk di atas pendopo bersiap menyetel musik. Dini dan Lia berlari-lari mencari posisi paling depan. Dua gadis ini tanpa malu menerobos ibu-ibu.
Tak lama musik senam terdengar. Sang instruktur cantik memulai aba-aba. Semua orang mengikuti. Dini dan Lia mengikuti sambil tertawa senang.
“Gila, bisa copot ini pinggangku Din!”
“Hahaha. Iya ya, kelamaan nggak olah raga nih. Baru sepuluh menit udah  capek gini.” Sahut Dini di sela-sela gerakan senamnya.
“Nggak bawa minum nih. Duh... engap Din.”
“Beli dong. Tuh banyak orang jualan.”
“Nanti deh.”
Selama satu jam Dini dan Lia dengan bersemangat  mengikuti setiap gerakan yang di contohkan. Para warga yang juga heboh mengikuti, terlihat senang walau kelelahan. Semua berkeringat.
“Basah gini punggungku Din.”
“Ya sama. Mandi lagi deh nanti di rumah. Ini di dalam kaos udah mengalir aja keringetnya. Hahaha.”
“Capek.” Keluh Lia sambil duduk begitu saja di atas paving alun-alun.
“Aku beli air dulu.”
Sekembalinya Dini membeli air minum, tampak Lia sedang terengah-engah duduk di antara para warga lainnya.
“Capek?”
“Nggak usah ditanya.”
“Hehehe. Nih minum. Keringetnya sampek segitu banget. Abis nyebur dimana sih Lia?”
“Ampun deh! Basah. Lengket. Mana kecut gini baunya.”
“Hahaha. Masih mau lari? Aku pengen keliling dulu. Paling nggak sekali deh.”
“Kamu aja. Nyerah. Mau ngumpulin nafas dulu ya. Abis nih nafasku.” Jawab Lia sambil ngos-ngosan.
Dini hanya tertawa melihat penampilan temannya yang berantakan. Sambil duduk lesehan di bawah, Lia sesekali menyeka keringat yang membasahi lehernya. Kaos merahnya tampak menempel di punggungnya karena basah oleh keringat.
Dini mulai lari-lari kecil sambil sesekali memperhatian setiap laki-laki yang melintasinya. Nafas yang tadi sudah mulai teratur, kini kembali sedikit ngos-ngosan. Keringat yang tadinya sudah agak kering karena angin sejuk, kini kembali mengucur.
“Dini kan?” sapa seseorang.
“Hah?”
“Deni. Ingat?”
“Ah!” Dini surprise dan menghentikan lari paginya. “Apa kabar?” tanya Dini sambil mengulurkan tangan. Deni adalah temannya di Sekolah Dasar.
“Baik.” Jawab Deni sambil menjabat tangan Dini. “Udah lari berapa putaran?”
“Eh? Baru seperempat putaran. Hehehe.”
“Beneran? Keringatnya sampek segini ini?”
“Oh, hahaha. Ini tadi abis ikut senam Den.” Jawab Dini tersipu malu. “Sama siapa?”
“Sama kamu.” Jawab Deni enteng.
“Maksudku, kamu ke sini sama siapa?”
“Sendirian. Kamu?”
“Sama Lia. Ingat Lia?”
“Hmmm... yang cerewet itu kan?”
“Hahaha. Kalau dia denger pasti ngomel.”
“Lia mana?”
“Ada di depan pendopo. Kecapekan abis senam.”
“Mau lari lagi? Aku temani.”
“Pelan-pelan aja ya larinya. Nggak niat lari sih, cuma pengen gerak aja.”
“Yes. Aku tahu kok.”
Lima menit berlalu. Keduanya hanya diam.
“Hmmm... mata kamu, kenapa hitam gitu?”
“Ah masa? Kena apa ya?”Reflek Dini mengucek-ucek matanya. “Masih hitam?”
“Bukan noda, tapi seperti kurang tidur.”
“Ooh. Iya, belum tidur dari semalam. Emang insomnia sih. Makin parah aja.” Dini menghentikan larinya. “Duduk boleh? Capek.”
“Yuk.” Deni mengikuti Dini duduk di trotoar. “Untung ya ini Minggu. Coba kalau besoknya masuk sekolah, masih tetep begadang?”
“Sebenernya bukan mauku juga begadang. Ya memang insomnia aja.”
“Lagi ada masalah?” Dini memandang Deni ragu. “Cowok?”
“Apaan sih.” Sahut Dini sambil tersenyum.
“Ooh jadi masalah cowok. I see...”
“Iiih apaan coba!”
“Berantem? Apa udah.. ehem... putus?”
“Kenapa memangnya?”
“Kali aja udah putus, boleh dong daftar. Hehehe.”
“Iih aku buka pendaftaraan apaan memangnya? Hahaha.”
“Lari lagi yuk? Kurang setengah.”
“Iya, ayo.”
“Tiap Minggu ke sini?”
“Enggak. Cuma kebetulan tadi belum tidur terus tetep nggak bisa tidur, ya udah mince aja ngajak Lia.”
“Ooh.. Kalau tiap Minggu ke sininya sama aku, mau?”
Dini diam tidak menjawab. Namun tampak jelas rona merah di pipinya.
“Pipi kamu merah, apa cuma pembiasan cahaya gara-gara banyak keringet di muka kamu ya?”
“Iih si Deni dari tadi ngeledek terus iih!”
“Hahaha...”
Mereka berdua melanjutkan berlari sambil sesekali tertawa bersama. Satu putaran berhasil mereka selesaikan. Nafas Dini sudah hampir habis. Kaos hitamnya melekat sempurna di badan mungilnya. Dia sekaligus mengerjakan tiga kegiatan pagi ini. Berlari, mengobrol dan nervous karena berduaan dengan Deni. Tiga kegiataan ini menguras habis tenaganya.
“Liaaaa!” teriak Dini.
“Wooooii. Lamanyo dikau. Darimana aja woi?”
“Inget dia nggak?” tanya Dini yang mengacuhkan protes Lia.
“Hah? Siapa?”
“Hai Lia. Kita dulu sekelas lho dari kelas 1 sampai 6 SD. Inget?”
“Perasaan temen SD dulu nggak ada yang sekeren kamu deh. Siapa sih Din?”
“Hahaha. Deni!”
“Hah? Deni yang pemalu itu ya? Yang kalau pakai seragam rapiiiii banget itu?” tanya Lia sambil melotot. “Kok jadi keren gini?”
“Hehehe. Makasih makasih. Hmmm... sego boran cukup nggak buat membayar pujian barusan?”
“Wah mau traktir sarapan? Ayo deh sekarang aja.”
“Hus. Mbok jual mahal dikit kamu itu. Sama makanan aja langsung sigap. Lha senam gitu doang udah lemes.” Ledek Dini.
“Hahaha. Ayo deh kita sarapan. Aku juga udah lama nggak sarapan sego boran. Di Surabaya makannya penyet terus.”
Ketiganya berjalan santai menuju mbok-mbok penjual sego boran yang menggelar dagangannya di trotoar. Banyak warga yang juga melakukan aktivitas tersebut. Lesehan sambil menyantap makanan khas Lamongan dengan lahapnya.
“Minggu depan, kita lari pagi lagi ya Din.” Kata Deni tiba-tiba.
“Ehem. Dini doang nih?” sindir Lia.
“Hahaha. Iya Lia juga kok.”
“Insya Allah Den.”
“Kalau ada sego boran lagi sih hayuuuukk.” Sahut Lia.
Dini dan Deni tersenyum simpul sambil saling menatap. Hari ini, pagi ini, Deni tahu apa yang dia mau. Dan Dini, dia tahu sudah waktunya mengakhiri masa galaunya.



Lamongan, 31 Agustus 2014



Ditulis untuk memenuhi tantangan #DeskripsiKeringat dari @KampusFiksi. Semoga cukup menyenangkan untuk dibaca. Semoga tidak ada typo. Mohon komentarnya ya KangMin :))

Minggu, 10 Agustus 2014

#EhemKenalan



Remedial Membawa Cinta

Ini tentang perjalanan cintaku. Kisah ini berawal dari keteledoranku. Tapi sebenarnya, kisah ini sudah dimulai jauh sebelum kusadari. Tuhan dengan sempurna menakdirkan kisahku.
Aku siswi kelas XI Ilmu Sosial. Aku bukan siswi teladan di sekolah dan bukan siswi paling cantik di kelas. Sampai kelas XI, belum sekalipun aku mengenal cinta.
Aku pendiam dan kurang bergaul. Nilai-nilai pelajaranku tidak menonjol, apalagi jika sudah menyangkut Matematika, aku menyerah kalah! Aku anti Matematika. Dan sampai suatu hari, aku berterimakasih pada Matematika.
                                                ***

Hari ini jam pertama ulangan Matematika. Aku sudah belajar sejak semalam. Aku tahu cara belajar Sistem Kebut Semalam tidak efektif, namun aku tetap mengharapkan keajaiban dari cara belajarku ini. Tanpa sadar, kepalaku lunglai di atas meja. Aku tertidur.
Paginya aku bangun kesiangan. Jarak rumah ke sekolah cukup jauh. Biasanya aku naik angkutan umum. Dua puluh menit yang aku butuhkan untuk bisa sampai di sekolah. Aku berlarian ke sana kemari memasukkan buku pelajaran dan menyambar handuk di belakang pintu kamar. Aku tahu aku terlambat. Tapi aku lebih memilih terlambat daripada bolos. Ulangan Matematika memenuhi otakku sepanjang pagi ini.
Sesampainya di sekolah, gerbang sudah tertutup rapat. “Pak bukain.” Kataku lemas.
“Sini bapak catat dulu. Mampir ruang konseling ya.” Jawab pak satpam.
Aku gagal masuk ke kelas. Ulangan sudah berlangsung. Bu Nur, guru Matematikaku, memintaku menunggu di luar kelas hingga semua siswa selesai mengerjakan ulangan.
“Kenapa terlambat?” tanya Bu Nur ketika baru saja selesai mengajar.
“Kesiangan bu. Maaf.” Jawabku.
“Nanti sepulang sekolah kamu ke kantor, ikut susulan.” Kata beliau tegas.
Niat belajar sampai malam biar ulangan hari ini lancar, yang kudapat malah terlambat sekolah. Sisa jam pelajaran kulewati dengan gelisah. Baru pertama kalinya aku mengikuti ulangan susulan di kantor, sendirian!
Bel pulang sekolah berbunyi. Dengan langkah malas aku berjalan menuju kantor guru. Dari jauh terlihat Bu Nur sedang berbincang dengan seorang siswa. Aku tidak melihat wajahnya karena dia membelakangi pintu masuk.
“Siang bu.” Sapaku.
“Kalian siap ya buat ulangan susulan?”
“Siap bu.” Jawab sebuah suara dengan mantap. Reflek aku menoleh ke kanan. Ah! Ciptaan Tuhan ini sungguh tampan.
“Kamu ulangan bareng Ririn. Tadi dia terlambat, jadi sekalian kalian ulangan susulan sekarang.”
“Iya bu.” Jawab Alfa, siswa kelas XI Ilmu Alam 1.
“Kalian kerjakan soalnya di sana.” Bu Nur menunjuk meja dengan dua kursi di bagian kiri kantor. “Ingat, soalnya beda. Jadi kalian nggak bisa saling contek.” Aku tersenyum kecut.
Aku dan Alfa berjalan menuju meja yang sudah di tunjukkan. “Kamu duduk sebelah tembok ya.” Kata Alfa. Aku hanya mengangguk tanpa memandangnya. Aku salah tingkah.
Satu jam berlalu. Alfa tampak tenang menuliskan jawabannya. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang. Susah sekali soal-soal ini. Sebebal inikah otakku?
“Susah?” Bisik Alfa.
“Hah? Eh.. iya.. susah.” Jawabku gugup.
“Rumus itu jangan dihafalkan. Coba latihan soal-soal.”
“Hehehe. Iya.” Duh!
“Aku selesaikan ini dulu. Nanti aku bantu.”
Apa? Aku nggak salah dengar?
“Selesai. Mana soal kamu?”
Dan percaya atau tidak, Alfa memberiku rumus-rumus yang harus aku kerjakan. Alfa hanya menuliskan rumusnya, selanjutnya dia mendahuluiku meninggalkan kantor.
“Aku Alfa. Kapan-kapan kita bahas Matematika bareng ya.”
Sepeninggal Alfa, aku berhasil menyelesaikan semua soal. Aku tidak yakin jawabanku benar 100%. Tapi setidaknya aku yang dibantu Alfa, sudah mencoba. Ah Alfa. Kamu baik. Aku mulai menyukaimu.
Setelah hari itu aku jadi sering diam-diam mencarinya. Setiap kali ke kantin atau ke toilet, aku mengambil jalan yang melewati kelas Ilmu Alam. Dan akhirnya aku bertemu dengannya.
“Hai Rin.” Sapa Alfa.
Aku tidak melihat Alfa sebelumnya. “Hai!” Jawabku berlebihan.
“Mau kemana?”
“Eh.. ke kantin.”
“Sendiri ya? Aku temani tapi tunggu sebentar ya.”
“Hah?”
Alfa berlari meninggalkanku. Dia masuk ke dalam kelas. Tidak lama dia muncul sambil membawa sebuah buku. Kami berjalan beriringan. Alfa banyak bercerita.
Ternyata saat remedial hari itu Alfa baru sembuh dari sakitnya. Dia ketinggalan banyak pelajaran dan ulangan.
“Awalnya aku malas susulan. Tapi waktu aku tahu ada teman yang juga ikut susulan, aku agak terhibur. Kamu nggak suka Matematika ya?”
“Aku suka Sejarah.” Jawabku spontan.
“Kamu aneh, jarang ada yang suka Sejarah.” Aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Kalau begitu mulai sekarang aku ajain kamu belajar Matematika. Kamu juga harus bagi pengetahuan Sejarahmu ya Rin.”
Seperti ada banyak bunga berguguran di sekelilingku. Alfa yang pandai, anak Ilmu Alam yang tampan itu mengajakku belajar bersama? Apa aku bermimpi?
Alfa memegang janjinya. Dia sering mencariku ke kelas dan mengajakku duduk di taman. Dia benar-benar membawa buku catatan Matematikanya, dan aku dengan senang hati bercerita tentang Majapahit padanya.
Banyak gosip beredar di sekolah tentang kami. Aku sempat mengeluh kepada Alfa, tapi dia malah tertawa.
“Kenapa? Kamu malu digosipkan pacaran denganku? Hahaha.” Tanya Alfa sambil tertawa berderai.
Aku diam saja. Aku bingung harus menjawab apa. Dan cara Alfa tertawa berhasil membuatku semakin terpesona.
“Hei Rin. Kamu selalu banyak diam. Tapi nggak apa-apa, aku suka kamu yang pendiam. Kamu yang selalu tersenyum simpul. Kamu yang malu-malu. Dan aku juga suka lesung pipit kirimu itu.”
Alisku bertautan, tanda aku tidak memahami maksud perkataan Alfa.
“Hahaha. Wajahmu lucu Rin. Kamu kenapa sih?”
“Alfa?”
“Ya Ririn, ada apa?”
“Kamu.. barusan ngomong apa?”
“Hahaha. Kamu beneran nggak ngerti?” Aku diam saja sambil menatapnya dalam-dalam. “Aku menyukaimu Rin.”
“Oh.”
“Kenapa cuma ‘oh’?”
“Aku... aku bingung Al..”
Alfa tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arahku. “Ririn, aku mau jadi mentor Matematikamu selama yang kamu ingin. Aku mau jadi teman yang menemanimu ke kantin setiap hari. Aku mau, lesung pipit kirimu itu jadi milikku.”
Aku diam. Aku bingung mendengar kata-kata Alfa. “Kita pacaran yuk. Kalau kamu mau Rin, tapi kalau enggak... kamu mau?” tanya Alfa yang sekarang memegang ujung-ujung jari tanganku.
“Alfa...” Aku memandang wajah tampan Alfa. “Kamu mau menerimaku yang biasa-biasa saja?”
“Kamu mau menerimaku yang nggak suka Sejarah?”
“Ih Alfa!” teriakku manja. “Aku nggak cantik.”
“Tapi kamu manis.”
“Aku nggak pinter.”
“Aku nggak bisa basket, aku nggak punya ekskul di sekolah.”
“Aku punya!” sahutku cepat.
“Paduan suara? PMR? Apa lagi?”
“Ih kok tahu?”
“Kita pacaran?”
“Kalau kamu mau.”
“Aku mau. Kamu?”
“Aku juga mau!”
Dan sejak saat itu, Alfa selalu ada di setiap suap bakso yang kunikmati di kantin. Alfa selalu ada untuk membuatku tersenyum. Alfa selalu ada di setiap soal Matematika yang menyebalkan.

Ditulis untuk memenuhi tantangan dari @KampusFiksi dengan tema #EhemKenalan. Selamat membaca. Semoga nggak ada typo! ^_^