Sabtu, 13 Desember 2014

#BunyiPuisi



Mata Bicara


Aku menyukaimu tepat saat aku patah hati.
Kau menghiburku.
Terimakasih, tapi tolong berhentilah.
Karena perhatianmu padamkan sakitku, kobarkan cintaku.

Aku mencintaimu.
Kau mencintaiku.
Aku tahu itu,
Dari matamu yang menatapku selalu.

Laki-laki lain mendekat.
Memberiku banyak kasih dan sayang.
Mengapa kau diam?
Padahal aku menunggu heroikmu datang.

Laki-laki lain itu terus menawarkan bahagia untukku.
Aku hanya diam.
Kusangka kau akan segera menjemputku.
Tapi sangkaku tinggal harapan.

Mata ini menatap matamu tajam.
Kita saling bicara dalam tatap diam.
Aku mengerti sekarang.
Kau akan selalu di tempatmu sekarang, hanya mencintaiku dalam senyuman.

Bertahun-tahun berlalu sudah.
Lalu kita dipertemukan di suatu waktu.
Tatapanmu masih sama,
walau di sampingmu berdiri cinta yang berbeda.

Mata kita masih saling menatap.
Menceritakan cinta yang sama.
Lalu diam-diam bibir kita saling tersenyum.
Menandakan ikhlas hati melepas yang lain, menyimpan cinta dalam diam tetap di hati.



Lamongan, 13 Desember 2014


Ditulis untuk memenuhi tantangan #BunyiPuisi dari #KampusFiksi.

Untuk sahabat kekasihku.
Aku tahu, kau juga menyukaiku. Terimakasih untuk cerita indah di kampus dulu. Berbahagialah dengan pendampingmu. Doakan aku juga selalu bahagia dengan sahabatmu.

Rabu, 01 Oktober 2014

#FiksiLaguku



Cinta Sekilas

“Kamu tahu, aku gugup duduk di depanmu.” Kata Aji kepadaku. “Tapi aku nekad terus ngeliat kamu.”
“Eh, Aji!” sahutku setengah berteriak saking gemasnya.
“Hahaha. Kita jadi mojok begini? Kamu nggak apa-apa ninggalin kelompok kamu?” aku hanya menggeleng pelan.
Lalu sepi. Aji terdiam, aku juga. Aku lupa bagaimana tadi awalnya sampai bisa ada di tempat ini hanya berdua dengan Aji.
“Kok diem?” tanya Aji.
“Hmmm....” aku bingung menjawab apa. “Kamu... Ih, jangan kayak gitu ngeliatnya.” Seruku. “Pindah yuk.” Ajakku akhirnya.
“Di sini aja. Sama aku.”
Akhirnya aku dan Aji tetap duduk di bawah tangga fakultas. Ada beberapa kursi yang memang sengaja diletakkan di sana. Hari sudah sore.

                                                            ***

Dua bulan Aji menghilang. Absensinya masih seperti hari-hari yang lalu, S.
Aji sakit parah. Aku rindu Aji. Aku rindu cara dia memperhatikanku. Aku rindu Aji yang pemalu.

                                                            ***

Semester berganti. Aji cuti dari aktivitas perkuliahannya. Aku memberanikan diri mengirim pesan singkat untuknya.
‘Aji apa kabar?’
Hanya tiga kata, tapi jantungku memacu seribu kali dari biasanya. Lama aku menunggu, Aji akhirnya membalas pesanku. ‘Ini siapa?’
Aku kecewa. Aji tak mengenaliku.
Semester kembali berganti. Aku yakin dia akan datang lagi.

                                                            ***

Aji masih sama seperti dulu. Wajahnya manis mendamaikan hatiku. Tapi ada yang berubah, dia mengabaikanku.
Aku menunggunya pagi ini di pintu kelas, sengaja untuk menyambutnya. Tapi lagi-lagi Aji mengecewakanku. Dia melewatiku tanpa memandangku.
Aji kamu kenapa? Inikah hadiah atas kesabaranku menunggumu? Ataukah aku yang memang telah salah mengartikan sikapmu? Aku lelah berharap.
Sampai suatu sore aku harus tinggal lebih lama karena tugas kuliah yang belum selesai.
“Sekar.” Aku tahu itu Aji. “Sekar...”
“Aku mengirimu SMS waktu itu, tapi kamu malah balik nanya aku siapa!” sahutku.
“Oh!” Aji kaget. “Maaf, Hpku rusak. Nomor kamu... Maaf.” Aji salah tingkah. “Hmmm... aku duluan, ditunggu pacarku di gerbang kampus soalnya.”
Dan semua berakhir. Seakan semua kebahagiaanku tersedot keluar dari jiwaku. Aku sadar sekarang, tak ada artinya aku menunggu. Baiklah. Biar kupejamkan mata sejenak, berusaha hapus semua rasaku untukkmu.



Surabaya, 01 Oktober 2014




Ditulis untuk memenuhi tantangan menulis #FiksiLaguku dari @KampusFiksi. Inspirasi lagu dari Raisa “Apalah Arti Menunggu”. Mohon koreksi dan komentarnya. Terimakasih. ^_^

Minggu, 21 September 2014

#FiksiLaguku - AYAH



Seratus hari berlalu. Aku masih belum percaya hari ini ada. Aku masih belum yakin ini nyata.
Semua orang sibuk membawa makanan dan suguhan lainnya, aku menatap mereka lekat-lekat. Tapi sebenarnya, tak satupun obyek tertanggap oleh retinaku. Aku melamun. Aku, ragaku benar ada di sini. Tapi pikiranku entah ada dimana. Aku sibuk bertanya kepada Tuhan, kenapa harus sekarang? Kenapa aku? Kenapa?
Seratus hari berlalu. Lukaku masih sama perihnya seperti saat semua dimulai.
Dari kecil aku terpaksa berpisah dengannya. Semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku mengartikannya sebagai orang lain. Tapi ketika aku mulai sadar aku menyayanginya, aku memperjuangkan prestasiku demi dia, Tuhan mengambilnya.
Dia ayah terhebat. Dia ayah terkuat. Semua cobaan hidup sudah dia temui. Ayah, semua ini untukmu. Yang terbaik yang bisa kulakukan.





Ada Band - Yang Terbaik Bagimu.
Untuk Ayah di surga. Maaf belum menunjukkan hal-hal hebat dari diriku semasa ayah masih ada. Terimakasih untuk semua perjuanganmu sampai aku jadi seperti ini. Aku sudah wisuda, skripsiku A ayah. Untukmu. :) 


#FiksiLaguku @KampusFiksi Semoga layak baca. Mohon komentarnya. Terimakasih.

Minggu, 31 Agustus 2014

#DeskripsiKeringat



MINCE
(Minggu Ceria)

Hari masih gelap. Sinar matahari di timur bahkan belum nampak merah. Adzan subuh baru saja berkumandang, Dini yang dari semalam terjaga bersiap mengambil air wudhu.
Air di bak kamar mandi begitu dingin. Dini semakin kehilangan rasa kantuknya. Ini bukan yang pertama, penyakit insomnianya semakin parah saja. Padahal sepulang sekolah kemarin dia mengikuti Pramuka hingga sore. Malamnya dia datang ke acara ulang tahun Ria hingga larut. Semua lelah yang dia dapat tidak juga meruntuhkan kekuatan kelopak matanya. Dua buku habis sudah dia lahap dalam semalam. Dan lagi-lagi, Dini harus menyerah melawan tangguhnya sang kelopak mata.
Selesai shalat Subuh Dini terdiam. Dia teringat kawan lamanya, Lia. Dini dan Lia sudah berteman sejak di bangku Sekolah Dasar. Namun di SMA, mereka berpisah sekolah.
“Ini kan Minggu. Ajak Lia mince seru nih! Udah bangun belum tuh anak?” Dini tergesah melepas mukenah dan melipatnya rapi. Diraihnya smartphone yang tergeletak di atas bantal. “Lia.. ketemu!” Dini menyentuh gambar gagang telfon berwarna biru di screen Hpnya.
“Hmmm....” Terdengar sahutan.
“Lia! Ini Dini. Masih tidur ya?” tanya Dini bersemangat.
“Hmmm... kenapa Din?” tanya Lia tanpa semangat.
“Mince yuk! Minggu nih.”
“Mince?”
“Minggu Ceria Lia. Ayo dong! Aku jemput ya setengah jam lagi. Hehehe.”
“Kamu  tuh, dari dulu tukang maksa.”
“Ayolah, temenmu butuh hiburan nih.”
“Alaaah... galau mulu hidupmu Din.”
“Setengah jam lagi yaaaaaa!”
“Iyeeeee!!”
Dan Dini bergegas mandi serta berganti baju.

Sudah lama Dini tidak lagi mince di alun-alun kota. Padahal dulu waktu SMP, hampir setiap hari Minggu dia dan Lia mince sambil ngeceng mas-mas basket. Dini memilih kaos sambil berdendang. Dia sudah tidak sabar sampai di alun-alun.
Setengah jam kemudian Dini sudah siap dengan Beat putihnya. Kaos hitam, celana biru selutut dan sandal japit sudah rapi menempel di tubuhnya. Dini siap menjemput sang kawan.
Ternyata Lia sudah siap di teras  rumahnya. Sambil menunggu Dini, dia asyik mendengarkan musik. Headset besar terpasang mantap di kepalanya. Melihat kedatangan Dini, Lia tersenyum dan bergegas menghampiri.
“Lama ya kita nggak mince. Ikut senam apa ngeceng doang?”
“Senam dong. Hahaha.” Dua sohib itupun dengan senyum cerah mengarungi Kota Lamongan yang masih lenggang.
Alun-alun kota sudah penuh oleh warga. Seorang instruktur senam nampak sedang sibuk di atas pendopo bersiap menyetel musik. Dini dan Lia berlari-lari mencari posisi paling depan. Dua gadis ini tanpa malu menerobos ibu-ibu.
Tak lama musik senam terdengar. Sang instruktur cantik memulai aba-aba. Semua orang mengikuti. Dini dan Lia mengikuti sambil tertawa senang.
“Gila, bisa copot ini pinggangku Din!”
“Hahaha. Iya ya, kelamaan nggak olah raga nih. Baru sepuluh menit udah  capek gini.” Sahut Dini di sela-sela gerakan senamnya.
“Nggak bawa minum nih. Duh... engap Din.”
“Beli dong. Tuh banyak orang jualan.”
“Nanti deh.”
Selama satu jam Dini dan Lia dengan bersemangat  mengikuti setiap gerakan yang di contohkan. Para warga yang juga heboh mengikuti, terlihat senang walau kelelahan. Semua berkeringat.
“Basah gini punggungku Din.”
“Ya sama. Mandi lagi deh nanti di rumah. Ini di dalam kaos udah mengalir aja keringetnya. Hahaha.”
“Capek.” Keluh Lia sambil duduk begitu saja di atas paving alun-alun.
“Aku beli air dulu.”
Sekembalinya Dini membeli air minum, tampak Lia sedang terengah-engah duduk di antara para warga lainnya.
“Capek?”
“Nggak usah ditanya.”
“Hehehe. Nih minum. Keringetnya sampek segitu banget. Abis nyebur dimana sih Lia?”
“Ampun deh! Basah. Lengket. Mana kecut gini baunya.”
“Hahaha. Masih mau lari? Aku pengen keliling dulu. Paling nggak sekali deh.”
“Kamu aja. Nyerah. Mau ngumpulin nafas dulu ya. Abis nih nafasku.” Jawab Lia sambil ngos-ngosan.
Dini hanya tertawa melihat penampilan temannya yang berantakan. Sambil duduk lesehan di bawah, Lia sesekali menyeka keringat yang membasahi lehernya. Kaos merahnya tampak menempel di punggungnya karena basah oleh keringat.
Dini mulai lari-lari kecil sambil sesekali memperhatian setiap laki-laki yang melintasinya. Nafas yang tadi sudah mulai teratur, kini kembali sedikit ngos-ngosan. Keringat yang tadinya sudah agak kering karena angin sejuk, kini kembali mengucur.
“Dini kan?” sapa seseorang.
“Hah?”
“Deni. Ingat?”
“Ah!” Dini surprise dan menghentikan lari paginya. “Apa kabar?” tanya Dini sambil mengulurkan tangan. Deni adalah temannya di Sekolah Dasar.
“Baik.” Jawab Deni sambil menjabat tangan Dini. “Udah lari berapa putaran?”
“Eh? Baru seperempat putaran. Hehehe.”
“Beneran? Keringatnya sampek segini ini?”
“Oh, hahaha. Ini tadi abis ikut senam Den.” Jawab Dini tersipu malu. “Sama siapa?”
“Sama kamu.” Jawab Deni enteng.
“Maksudku, kamu ke sini sama siapa?”
“Sendirian. Kamu?”
“Sama Lia. Ingat Lia?”
“Hmmm... yang cerewet itu kan?”
“Hahaha. Kalau dia denger pasti ngomel.”
“Lia mana?”
“Ada di depan pendopo. Kecapekan abis senam.”
“Mau lari lagi? Aku temani.”
“Pelan-pelan aja ya larinya. Nggak niat lari sih, cuma pengen gerak aja.”
“Yes. Aku tahu kok.”
Lima menit berlalu. Keduanya hanya diam.
“Hmmm... mata kamu, kenapa hitam gitu?”
“Ah masa? Kena apa ya?”Reflek Dini mengucek-ucek matanya. “Masih hitam?”
“Bukan noda, tapi seperti kurang tidur.”
“Ooh. Iya, belum tidur dari semalam. Emang insomnia sih. Makin parah aja.” Dini menghentikan larinya. “Duduk boleh? Capek.”
“Yuk.” Deni mengikuti Dini duduk di trotoar. “Untung ya ini Minggu. Coba kalau besoknya masuk sekolah, masih tetep begadang?”
“Sebenernya bukan mauku juga begadang. Ya memang insomnia aja.”
“Lagi ada masalah?” Dini memandang Deni ragu. “Cowok?”
“Apaan sih.” Sahut Dini sambil tersenyum.
“Ooh jadi masalah cowok. I see...”
“Iiih apaan coba!”
“Berantem? Apa udah.. ehem... putus?”
“Kenapa memangnya?”
“Kali aja udah putus, boleh dong daftar. Hehehe.”
“Iih aku buka pendaftaraan apaan memangnya? Hahaha.”
“Lari lagi yuk? Kurang setengah.”
“Iya, ayo.”
“Tiap Minggu ke sini?”
“Enggak. Cuma kebetulan tadi belum tidur terus tetep nggak bisa tidur, ya udah mince aja ngajak Lia.”
“Ooh.. Kalau tiap Minggu ke sininya sama aku, mau?”
Dini diam tidak menjawab. Namun tampak jelas rona merah di pipinya.
“Pipi kamu merah, apa cuma pembiasan cahaya gara-gara banyak keringet di muka kamu ya?”
“Iih si Deni dari tadi ngeledek terus iih!”
“Hahaha...”
Mereka berdua melanjutkan berlari sambil sesekali tertawa bersama. Satu putaran berhasil mereka selesaikan. Nafas Dini sudah hampir habis. Kaos hitamnya melekat sempurna di badan mungilnya. Dia sekaligus mengerjakan tiga kegiatan pagi ini. Berlari, mengobrol dan nervous karena berduaan dengan Deni. Tiga kegiataan ini menguras habis tenaganya.
“Liaaaa!” teriak Dini.
“Wooooii. Lamanyo dikau. Darimana aja woi?”
“Inget dia nggak?” tanya Dini yang mengacuhkan protes Lia.
“Hah? Siapa?”
“Hai Lia. Kita dulu sekelas lho dari kelas 1 sampai 6 SD. Inget?”
“Perasaan temen SD dulu nggak ada yang sekeren kamu deh. Siapa sih Din?”
“Hahaha. Deni!”
“Hah? Deni yang pemalu itu ya? Yang kalau pakai seragam rapiiiii banget itu?” tanya Lia sambil melotot. “Kok jadi keren gini?”
“Hehehe. Makasih makasih. Hmmm... sego boran cukup nggak buat membayar pujian barusan?”
“Wah mau traktir sarapan? Ayo deh sekarang aja.”
“Hus. Mbok jual mahal dikit kamu itu. Sama makanan aja langsung sigap. Lha senam gitu doang udah lemes.” Ledek Dini.
“Hahaha. Ayo deh kita sarapan. Aku juga udah lama nggak sarapan sego boran. Di Surabaya makannya penyet terus.”
Ketiganya berjalan santai menuju mbok-mbok penjual sego boran yang menggelar dagangannya di trotoar. Banyak warga yang juga melakukan aktivitas tersebut. Lesehan sambil menyantap makanan khas Lamongan dengan lahapnya.
“Minggu depan, kita lari pagi lagi ya Din.” Kata Deni tiba-tiba.
“Ehem. Dini doang nih?” sindir Lia.
“Hahaha. Iya Lia juga kok.”
“Insya Allah Den.”
“Kalau ada sego boran lagi sih hayuuuukk.” Sahut Lia.
Dini dan Deni tersenyum simpul sambil saling menatap. Hari ini, pagi ini, Deni tahu apa yang dia mau. Dan Dini, dia tahu sudah waktunya mengakhiri masa galaunya.



Lamongan, 31 Agustus 2014



Ditulis untuk memenuhi tantangan #DeskripsiKeringat dari @KampusFiksi. Semoga cukup menyenangkan untuk dibaca. Semoga tidak ada typo. Mohon komentarnya ya KangMin :))