Untukmu
yang kemarin Berulang Tahun
“Aku minta maaf!”
seruku sambil tergugu. “Ini bohong, kan? Ini cuma kejutan ulang tahunku, kan?” cercaku.
“Tidak,” jawabmu datar.
Aku memandangnya tak
percaya. Hampir empat tahun, tidak mungkin berakhir begini!
“Aku, kan, sudah minta
maaf. Kemarin aku terbawa emosi,” kataku menjelaskan.
Dia diam tidak merespon.
Siang ini rumah Rio sepi. Ada ibunya, tapi entah sedang dimana. Lalu aku mendekatinya,
dan aku jatuh terduduk di samping kakinya. Ya, aku sedang memohon.
“Maaf,” kataku lagi,
sambil terus menangis.
“Aku antar kamu pulang.
Ayo.” lagi-lagi suara Rio datar.
Aku tahu, semua
salahku. Harusnya aku bisa mengerti kesibukannya, bukan malah ngomel tanpa jeda
lalu membuatnya semakin lelah. Sudahlah. Sepertinya memang sudah saatnya semua
berakhir.
“Nggak usah. Aku bisa
pulang sendiri!” jawabku ketus.
Aku keluar dari
rumahnya. Bersumpah ini terakhir kali aku menginjakkan kaki di sini.
Bulan depan adalah
ulang tahunku, sekaligus empat tahun usia hubunganku dengannya. Semua sia-sia.
Bahkan, muka tebalku yang selama ini kupertahankan pun percuma.
“Kamu naik apa?” seru
Rio dari kejauhan.
Aku diam saja. Tak sudi
lagi aku menoleh. Cukup sudah aku memandang pintu masuk rumahnya yang
menyebalkan itu. Mengingat pintu itu saja aku muak. Aku pernah diusir kakaknya.
Aku pernah disindir halus untuk segera pulang oleh ibunya. Aku pernah menangis
di depan pintu itu! Tapi aku bertahan, mencintainya.
“Sudahlah! Berhenti menangis, gadis tolol!” kataku dalam hati.
Aku menghela nafas panjang,
menghembuskannya kuat-kuat. Berharap kenangan empat tahun dengannya ikut
terbuang. Aku akan merindukan mata teduhnya, hidung mancung, dan bibir tebal
yang selalu tersenyum itu.
Harusnya aku bersyukur.
Tuhan sayang aku. Buktinya, Dia tidak mengijinkanku berjodoh dengan lelaki yang
memiliki ibu serta kakak angkuh.
***
“Mbak, Mas Rio itu
orangnya gimana?” tanya Era, pacar baru Rio.
Era adalah juniorku di
universitas. Dia tahu jika Rio adalah mantanku. Bukannya segan, Era malah
mendekatiku, mengorek info tentang pacar barunya.
“Dia sabar, orangnya
setia,” jawabku kalem. “Kok bisa kenal Rio?”
“Dia teman abangku.”
jawab Era. “Tapi... aku takut dengan keluarganya,” keluhnya.
Aku tertawa dalam hati.
Tebalkan mukamu kalau ingin terus bersama Rio, Ra. Semoga kamu lebih beruntung
dariku.
###
#Curhat:
Nama aslinya bukan Rio.
Dia sebenarnya baik. Banyak pelajaran kuambil dari hubungan yang gagal itu. Semua
kejadian di cerita 333 kata ini memang betul kualami. Kalau mengingatnya
kembali, aku jadi ingin tertawa.
Era bukan nama asli,
tapi betul dia pacar Rio. Sekarang, aku bahkan berteman baik dengan Rio dan Era.
Untuk Era, semangat, ya! Semoga Rio adalah jodohmu. :)
Oh, iya! Met ultah buat
Rio, 7 April! :)
*Ditulis untuk memenuhi tantangan menulis #FiksiBuatPacar dari #KampusFiksi. Semoga layak baca.*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar