Cinta
Sekilas
“Kamu tahu, aku gugup duduk di depanmu.”
Kata Aji kepadaku. “Tapi aku nekad terus ngeliat kamu.”
“Eh, Aji!” sahutku setengah berteriak
saking gemasnya.
“Hahaha. Kita jadi mojok begini? Kamu nggak
apa-apa ninggalin kelompok kamu?” aku hanya menggeleng pelan.
Lalu sepi. Aji terdiam, aku juga. Aku lupa
bagaimana tadi awalnya sampai bisa ada di tempat ini hanya berdua dengan Aji.
“Kok diem?” tanya Aji.
“Hmmm....” aku bingung menjawab apa. “Kamu...
Ih, jangan kayak gitu ngeliatnya.” Seruku. “Pindah yuk.” Ajakku akhirnya.
“Di sini aja. Sama aku.”
Akhirnya aku dan Aji tetap duduk di
bawah tangga fakultas. Ada beberapa kursi yang memang sengaja diletakkan di
sana. Hari sudah sore.
***
Dua bulan Aji menghilang. Absensinya masih
seperti hari-hari yang lalu, S.
Aji sakit parah. Aku rindu Aji. Aku rindu
cara dia memperhatikanku. Aku rindu Aji yang pemalu.
***
Semester berganti. Aji cuti dari
aktivitas perkuliahannya. Aku memberanikan diri mengirim pesan singkat
untuknya.
‘Aji
apa kabar?’
Hanya tiga kata, tapi jantungku memacu
seribu kali dari biasanya. Lama aku menunggu, Aji akhirnya membalas pesanku. ‘Ini siapa?’
Aku kecewa. Aji tak mengenaliku.
Semester kembali berganti. Aku yakin dia
akan datang lagi.
***
Aji masih sama seperti dulu. Wajahnya manis
mendamaikan hatiku. Tapi ada yang berubah, dia mengabaikanku.
Aku menunggunya pagi ini di pintu kelas,
sengaja untuk menyambutnya. Tapi lagi-lagi Aji mengecewakanku. Dia melewatiku
tanpa memandangku.
Aji kamu kenapa? Inikah hadiah atas
kesabaranku menunggumu? Ataukah aku yang memang telah salah mengartikan
sikapmu? Aku lelah berharap.
Sampai suatu sore aku harus tinggal
lebih lama karena tugas kuliah yang belum selesai.
“Sekar.” Aku tahu itu Aji. “Sekar...”
“Aku mengirimu SMS waktu itu, tapi kamu
malah balik nanya aku siapa!” sahutku.
“Oh!” Aji kaget. “Maaf, Hpku rusak.
Nomor kamu... Maaf.” Aji salah tingkah. “Hmmm... aku duluan, ditunggu pacarku
di gerbang kampus soalnya.”
Dan semua berakhir. Seakan semua
kebahagiaanku tersedot keluar dari jiwaku. Aku sadar sekarang, tak ada artinya
aku menunggu. Baiklah. Biar kupejamkan mata sejenak, berusaha hapus semua
rasaku untukkmu.
Surabaya, 01 Oktober 2014
Ditulis untuk memenuhi tantangan menulis
#FiksiLaguku dari @KampusFiksi. Inspirasi lagu dari Raisa “Apalah Arti Menunggu”. Mohon koreksi dan komentarnya. Terimakasih. ^_^